BCA Syariah 2026: Laba Naik 9,2%, Aset Tembus Rp20,7 Triliun

bintangbisnis

PT Bank BCA Syariah memasuki paruh kedua 2026 dengan pertumbuhan yang relatif solid. Hingga Juni 2026, bank syariah yang merupakan bagian dari Grup BCA tersebut mencatatkan total aset Rp20,7 triliun, meningkat 17,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan aset tersebut berjalan bersamaan dengan ekspansi pembiayaan dan peningkatan dana pihak ketiga, menunjukkan bahwa mesin intermediasi BCA Syariah masih bergerak kuat di tengah lingkungan ekonomi yang penuh tantangan.

Laba setelah pajak menjadi salah satu indikator utama dari kinerja tersebut. BCA Syariah membukukan laba setelah pajak Rp109,4 miliar pada semester I 2026, naik 9,2 persen dibandingkan Rp100,1 miliar pada periode yang sama 2025. Pertumbuhan laba ini lebih moderat dibandingkan pertumbuhan pembiayaan dan aset, tetapi tetap menunjukkan kemampuan bank menjaga profitabilitas ketika melakukan ekspansi neraca.

Pembiayaan menjadi mesin utama pertumbuhan. Nilai pembiayaan BCA Syariah mencapai sekitar Rp13,6 triliun per Juni 2026, naik 20,5 persen secara tahunan dari periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspansi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan aset bukan hanya berasal dari pertumbuhan likuiditas, tetapi juga dari kemampuan bank menyalurkan dana ke sektor pembiayaan.

Pertumbuhan pembiayaan juga menjadi sumber penting bagi pendapatan bank. Financing income BCA Syariah mencapai Rp512,9 miliar pada semester pertama 2026, tumbuh 16,6 persen dari Rp439,8 miliar setahun sebelumnya. Pendapatan margin sendiri mencapai Rp422,3 miliar, meningkat 13,4 persen dari Rp372,4 miliar pada Juni 2025.

Struktur pembiayaan menunjukkan bahwa BCA Syariah masih memiliki basis bisnis yang kuat di sektor produktif. Pada akhir 2025, pembiayaan komersial mencapai Rp10,1 triliun atau sekitar 76,8 persen dari total portofolio pembiayaan, sementara pembiayaan konsumer mencapai Rp2,1 triliun setelah tumbuh 47,1 persen secara tahunan. Pola tersebut memberikan gambaran bahwa ekspansi BCA Syariah bertumpu pada kombinasi bisnis produktif dan konsumer.

Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga atau DPK mencapai Rp15,4 triliun pada Juni 2026. Angka tersebut tumbuh 10,2 persen secara tahunan dan menjadi salah satu fondasi ekspansi pembiayaan. Pertumbuhan DPK yang tetap positif penting bagi bank karena menentukan kemampuan perseroan memperbesar pembiayaan tanpa mengandalkan sumber pendanaan yang terlalu mahal.

Kualitas pembiayaan menjadi bagian penting dari cerita pertumbuhan tersebut. Rasio non-performing financing atau NPF gross BCA Syariah berada pada 1,84 persen per Juni 2026, sedangkan NPF net tercatat 0,41 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa ekspansi pembiayaan masih berlangsung dengan pengendalian risiko, meskipun pertumbuhan portofolio yang mencapai lebih dari 20 persen tetap membutuhkan disiplin underwriting dan monitoring.

BCA Syariah juga mencatat Financing at Risk atau FAR sebesar 5,38 persen pada Juni 2026. Rasio ini menjadi indikator tambahan untuk melihat kualitas portofolio pembiayaan di luar pembiayaan yang sudah masuk kategori bermasalah. Dengan ekspansi pembiayaan yang agresif, kemampuan mempertahankan kualitas aset akan menjadi salah satu ukuran penting bagi kinerja bank pada semester kedua.

Pertumbuhan bisnis juga mulai terlihat dari sisi pendapatan berbasis biaya. Fee income BCA Syariah meningkat 30,4 persen pada semester I 2026. Pertumbuhan tersebut berkaitan dengan peningkatan aktivitas administrasi pembiayaan, pertumbuhan rekening serta transaksi melalui kanal digital.

Transaksi digital menjadi salah satu perubahan penting dalam model bisnis BCA Syariah. Secara keseluruhan, transaksi mobile banking tumbuh 138 persen pada semester pertama 2026. Transaksi RTGS dan SKN meningkat 74 persen, transaksi QRIS melonjak 280 persen, sementara transaksi BI-FAST tumbuh 135 persen.

Lonjakan transaksi tersebut memiliki implikasi yang lebih luas daripada sekadar pertumbuhan penggunaan aplikasi. Semakin banyak transaksi yang dilakukan melalui kanal digital memberikan peluang bagi bank untuk memperbesar pendapatan berbasis fee sekaligus meningkatkan engagement dengan nasabah. Bagi BCA Syariah, pertumbuhan transaksi digital juga menjadi cara untuk memperluas hubungan dengan nasabah tanpa harus sepenuhnya bergantung pada pertumbuhan pembiayaan.

Kinerja semester I 2026 juga memperlihatkan posisi BCA Syariah sebagai salah satu bagian dari strategi Grup BCA untuk melayani pasar keuangan syariah. Pada level induk, BCA sendiri mencatat kredit konsolidasi Rp1.036 triliun pada semester I 2026, pertama kalinya menembus Rp1.000 triliun, dengan DPK Rp1.284 triliun. Skala tersebut memberikan konteks bahwa BCA Syariah berada di dalam ekosistem perbankan yang memiliki basis nasabah dan infrastruktur transaksi sangat besar.

BCA Syariah sendiri mencatatkan pertumbuhan yang cukup tinggi bahkan dibandingkan skala bisnisnya. Dengan aset Rp20,7 triliun dan pembiayaan Rp13,6 triliun, bank tersebut masih memiliki ruang untuk memperbesar bisnisnya. Tantangannya adalah menjaga agar pertumbuhan aset dan pembiayaan dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba yang lebih tinggi dalam jangka menengah.

Pada 2025, pola pertumbuhan tersebut sudah terlihat. Total aset BCA Syariah ketika itu mencapai Rp19,2 triliun, tumbuh 15,4 persen, sementara laba bersih mencapai Rp212 miliar atau naik 15,4 persen. Pembiayaan tumbuh lebih cepat, sebesar 23,1 persen menjadi Rp13,2 triliun, dengan NPF gross berada pada 1,57 persen dan CAR mencapai 27,7 persen.

Perbandingan 2025 dan semester pertama 2026 menunjukkan bahwa ekspansi pembiayaan masih menjadi strategi utama. BCA Syariah tidak sekadar memperbesar neraca, tetapi juga berusaha mempertahankan kualitas pembiayaan sembari meningkatkan pendapatan margin dan fee income. Model tersebut membuat kualitas pertumbuhan menjadi lebih penting daripada sekadar mengejar kenaikan aset.

Di sisi lain, lingkungan makro ekonomi menjadi faktor yang harus diperhitungkan. Manajemen BCA Syariah mengakui bahwa kondisi ekonomi pada awal 2026 menghadapi tantangan, termasuk ketidakpastian geopolitik global. Karena itu, ekspansi pembiayaan perlu berjalan bersama pengelolaan risiko kredit, likuiditas dan biaya dana.

Bagi BCA Syariah, semester kedua 2026 akan menjadi ujian apakah pertumbuhan pembiayaan lebih dari 20 persen dapat menghasilkan akselerasi laba. Pertumbuhan DPK sebesar 10,2 persen juga perlu terus dijaga agar ekspansi pembiayaan tetap ditopang sumber dana yang sehat. Sementara itu, peningkatan transaksi digital dapat menjadi sumber pertumbuhan pendapatan non-pembiayaan yang semakin penting.

Dengan aset yang sudah menembus Rp20 triliun, BCA Syariah mulai memasuki skala bisnis yang berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Bank ini memiliki tiga mesin pertumbuhan yang semakin terlihat, yaitu pembiayaan, pendanaan dan transaksi digital. Jika kualitas aset tetap terjaga, kombinasi ketiganya dapat menjadi fondasi bagi peningkatan profitabilitas pada tahun-tahun berikutnya.

Kinerja semester I 2026 pada akhirnya menunjukkan sebuah bank yang sedang melakukan ekspansi dengan tetap menjaga kualitas neraca. Aset tumbuh 17,2 persen, pembiayaan meningkat 20,5 persen, DPK bertambah 10,2 persen dan laba setelah pajak naik 9,2 persen. Angka-angka tersebut menempatkan BCA Syariah dalam fase pertumbuhan yang menarik untuk diamati, terutama ketika persaingan industri perbankan syariah Indonesia semakin bergeser dari sekadar perebutan dana menjadi persaingan dalam pembiayaan produktif, layanan digital dan kualitas nasabah.

Share This Article