(Jakarta) – Perkembangan artificial intelligence (AI) mulai membuka sumber pertumbuhan baru bagi PT Indosat Tbk (ISAT), di luar bisnis telekomunikasi yang selama ini menjadi sumber utama pendapatan perusahaan. Indosat membangun ekosistem AI melalui anak usahanya, Lintasarta, yang berperan sebagai AI Factory Grup Indosat sekaligus NVIDIA Cloud Partner. Pengembangan tersebut mencakup penyediaan GPU, layanan AI Cloud, AI Neocloud, serta berbagai infrastruktur komputasi untuk melayani kebutuhan korporasi, pemerintah dan perusahaan teknologi.
Lintasarta mengoperasikan GPU Merdeka dan AI Neocloud dengan dukungan teknologi komputasi NVIDIA. Kapasitas tersebut disiapkan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan yang membutuhkan GPU dalam jumlah besar untuk melatih dan menjalankan model AI. Indosat juga mengembangkan Sahabat-AI serta AI-RAN bersama Nokia dan NVIDIA sebagai bagian dari pengembangan ekosistem AI di Indonesia. Langkah ini menempatkan Indosat pada rantai infrastruktur AI yang mencakup komputasi, jaringan dan layanan cloud.
Bisnis AI Cloud mulai memberikan kontribusi terhadap pendapatan Indosat. Sepanjang 2025, bisnis tersebut membukukan pendapatan sebesar US$28 juta atau sekitar Rp501,48 miliar dengan asumsi kurs US$1 sebesar Rp17.910. Pada semester I-2026, pendapatan AI Cloud telah mencapai US$33 juta, lebih tinggi 17,9% dibandingkan realisasi sepanjang 2025 meskipun kedua angka tersebut memiliki periode pengukuran yang berbeda.
Manajemen Indosat menargetkan pendapatan AI Cloud mencapai US$100 juta pada 2026 atau sekitar Rp1,8 triliun. Perusahaan juga menyebut AI Neocloud telah memiliki contracted revenue sekitar US$1,2 miliar hingga US$1,5 miliar. Angka tersebut belum merupakan pendapatan yang telah dibukukan, tetapi menunjukkan nilai kontrak yang telah diamankan dan kebutuhan kapasitas yang harus dipersiapkan perusahaan. Sementara itu, annual recurring revenue atau ARR diproyeksikan menembus US$330 juta mulai 2027.
Ekspansi Indosat ke AI juga diperluas melalui RAIA Grid, platform infrastruktur digital yang dikembangkan PT Infra Fiber Teknologi, perusahaan hasil kolaborasi Indosat dan Arsari Group. RAIA Grid menggabungkan lebih dari 86.000 kilometer jaringan serat optik, intelligent networking dan kapabilitas AI melalui model open access. Infrastruktur tersebut dirancang untuk menghubungkan jaringan 5G, fixed broadband, pusat data, penyedia cloud, hyperscaler dan perusahaan.
RAIA Grid juga direncanakan mendukung perakitan GPU NVIDIA B300 di Indonesia mulai Desember 2026. Rencana tersebut memperluas keterlibatan Indosat dari penyedia jaringan telekomunikasi menuju pembangunan infrastruktur komputasi yang dibutuhkan ekosistem AI. Kebutuhan tersebut tidak hanya mencakup GPU, tetapi juga listrik, pendinginan, pusat data dan konektivitas. Dengan demikian, ekspansi AI Indosat mencakup beberapa lapisan infrastruktur yang saling terhubung.
Di tingkat regional, Indosat bersama Ooredoo Group, Nokia dan NVIDIA mengembangkan Zankore sebagai platform AI compute dan neocloud untuk Indonesia dan pasar Asia Tenggara. Zankore menargetkan kapasitas awal sebesar 200 MW pada semester I-2027 dan dalam jangka panjang direncanakan mencapai 1.000 MW atau 1 GW. Fase awal proyek direncanakan menggunakan sistem NVIDIA GB300 NVL72. Ooredoo menjadi founding shareholder sekaligus investor utama dengan kepemilikan 49% dan komitmen investasi sebesar US$800 juta.
Meski AI menjadi sumber pertumbuhan baru, bisnis telekomunikasi tetap menjadi fondasi utama Indosat. Pada semester I-2026, pendapatan perusahaan meningkat 13,1% menjadi Rp30,7 triliun, sedangkan EBITDA tumbuh 13,6% menjadi Rp14,6 triliun dengan margin EBITDA 47,6%. Laba bersih entitas induk meningkat 84,5% menjadi Rp4,3 triliun, meskipun kenaikan tersebut turut dipengaruhi keuntungan satu kali dari transaksi aset fiber. Laba bersih yang telah dinormalisasi tercatat Rp3,2 triliun atau tumbuh 49,2%.
Pertumbuhan bisnis utama juga terlihat dari peningkatan average revenue per user atau ARPU sebesar 17,3% menjadi Rp46.000 dan pertumbuhan trafik data sebesar 19,9%. Sementara itu, kontribusi AI Cloud terhadap pendapatan konsolidasi masih sekitar 2%. Posisi tersebut menunjukkan bahwa bisnis AI Indosat masih berada pada tahap awal dibandingkan skala bisnis telekomunikasinya. Namun, perusahaan sedang membangun kapasitas agar bisnis tersebut dapat memberikan kontribusi lebih besar dalam beberapa tahun mendatang.
Melalui Lintasarta, GPU Merdeka, AI Neocloud, Sahabat-AI, AI-RAN, RAIA Grid dan Zankore, Indosat kini membangun eksposur AI dari sisi komputasi, jaringan hingga layanan. Perusahaan tidak meninggalkan bisnis telekomunikasi sebagai fondasi, tetapi menggunakannya untuk mendukung ekspansi ke infrastruktur digital dan layanan berbasis AI. Dengan target pendapatan AI Cloud US$100 juta pada 2026 serta pengembangan proyek RAIA Grid dan Zankore, Indosat tengah memperluas sumber pertumbuhan di luar bisnis konektivitas. Ekspansi tersebut akan menjadi salah satu bagian penting dari strategi perusahaan dalam menangkap pertumbuhan kebutuhan infrastruktur AI di Indonesia dan Asia Tenggara.
