Kisah Sukses Buntoro: Dari Anak Penjual Bakso Keliling Menjadi Pendiri Rita Mall Group Purwokerto

bintangbisnis

Anak Penjual Apem yang Mengubah Kota Kecil Menjadi Kerajaan Ritel

Di sebuah pagi yang lembap pada awal dekade 1950-an, sebuah kapal kayu kecil berlayar perlahan meninggalkan pesisir Tiongkok menuju Asia Tenggara. Di atas kapal itu, seorang perempuan muda membawa lebih banyak harapan daripada bekal. Laut yang harus diseberangi bukan sekadar pemisah dua negara, melainkan juga batas antara kehidupan lama yang penuh ketidakpastian dan sebuah masa depan yang sama sekali belum memiliki bentuk.

Beberapa tahun sebelumnya, suaminya telah lebih dahulu meninggalkan kampung halaman di Meixian, Provinsi Guangdong. Ia merantau ke Jawa ketika Indonesia bahkan belum benar-benar menjadi negara yang stabil. Masa penjajahan Belanda berganti menjadi pendudukan Jepang. Revolusi kemerdekaan kemudian menyisakan ketidakpastian ekonomi di berbagai kota. Namun seperti ribuan perantau Tionghoa lainnya pada masa itu, ia percaya bahwa Pulau Jawa menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki kampung halamannya: kesempatan.

Tujuan mereka bukan Jakarta.

Bukan Surabaya.

Bukan pula Semarang.

Mereka memilih Purwokerto—sebuah kota kecil di kaki Gunung Slamet yang kala itu lebih dikenal sebagai kota perdagangan hasil bumi dibanding pusat bisnis. Di kota inilah mereka memulai hidup dari nol. Tidak ada modal besar. Tidak ada keluarga kaya. Tidak ada warisan perusahaan.

Yang ada hanyalah sebuah warung sederhana.

Dari warung itulah keluarga kecil itu mulai bertahan hidup.

Mereka kemudian memiliki tujuh orang anak. Salah satunya kelak dikenal dengan nama Buntoro, pendiri Rita Group. Tetapi ketika Buntoro lahir, tidak ada seorang pun yang membayangkan bahwa anak itu suatu hari akan membangun jaringan pusat perbelanjaan terbesar di wilayah Banyumas. Bahkan keluarganya sendiri mungkin hanya berharap seluruh anak mereka dapat makan tiga kali sehari.


Masa kecil Buntoro jauh dari gambaran kehidupan seorang konglomerat.

Ketika usianya baru delapan tahun, tragedi datang tanpa memberi kesempatan keluarga itu bersiap. Ayahnya meninggal dunia. Sang ibu saat itu sedang mengandung anak bungsu mereka. Kakak tertuanya baru berusia sekitar sepuluh tahun.

Dalam semalam, keluarga itu kehilangan satu-satunya pencari nafkah.

Yang tersisa hanyalah seorang ibu dengan tujuh anak, sebuah sepeda tua, dan sebuah mesin jahit.

Banyak keluarga akan menyerah pada keadaan seperti itu.

Ibu Buntoro memilih jalan lain.

Ia mulai membuat apem, bakso, dan berbagai makanan rumahan untuk dijual dari kampung ke kampung. Anak-anaknya ikut membantu. Tidak ada pembagian kerja yang rumit. Semua turun tangan karena jika satu orang berhenti bekerja, seluruh keluarga ikut menanggung akibatnya.

Buntoro kecil ikut mengayuh sepeda membawa dagangan ibunya berkeliling Purwokerto. Pernah suatu hari, ketika masih belia, ia bersama kakaknya terjatuh ke selokan. Seluruh bakso yang mereka bawa tumpah ke tanah. Mereka tidak menangis karena dagangan rusak. Yang mereka takutkan justru bagaimana harus pulang membawa kabar bahwa seluruh hasil kerja hari itu lenyap begitu saja. Kisah sederhana itu kemudian menjadi salah satu fragmen paling dikenang dalam perjalanan hidupnya.

Kesulitan ekonomi juga memaksa Buntoro berhenti sekolah sebelum menyelesaikan pendidikan dasar. Ia bukan keluar sekolah karena malas belajar, tetapi karena keluarganya membutuhkan tenaga tambahan untuk bertahan hidup.

Di kemudian hari, banyak orang mengenalnya sebagai pemilik mal.

Sedikit yang mengingat bahwa ia pernah menjadi anak yang menjajakan makanan dari rumah ke rumah.


Barangkali justru di sanalah fondasi terbesar seorang Buntoro dibangun.

Ia tumbuh tanpa kemewahan.

Tanpa gelar akademik.

Tanpa jaringan konglomerat.

Namun ia belajar sesuatu yang jauh lebih sulit diajarkan di ruang kuliah: memahami bagaimana uang benar-benar diperoleh.

Bagi keluarga miskin, setiap pembeli bukan sekadar pelanggan.

Mereka adalah alasan dapur tetap mengepul malam itu.

Pengalaman itu membentuk cara pandangnya terhadap bisnis selama puluhan tahun berikutnya. Ia tidak pernah melihat toko sebagai sekadar bangunan. Sebuah toko adalah tempat orang memperoleh nafkah. Tempat pelanggan menitipkan kepercayaan. Tempat sebuah keluarga mempertaruhkan masa depannya.

Kelak, ketika Rita Group berkembang menjadi jaringan ritel modern dengan pusat perbelanjaan, department store, supermarket, hotel, properti, hiburan, restoran, hingga berbagai unit usaha lainnya, nilai-nilai itu tetap menjadi fondasi yang tidak berubah: bekerja keras, hidup hemat, melayani pelanggan, dan terus berinovasi tanpa melupakan akar usaha keluarga.

Namun perjalanan menuju kerajaan ritel itu belum dimulai.

Semuanya masih berawal dari sebuah kios kecil yang ukurannya bahkan lebih sempit daripada sebagian besar ruang tamu rumah masa kini.

 

Sebuah Kios Kecil Bernama RITA

Purwokerto pada akhir dekade 1960-an bukanlah kota yang dipenuhi pusat perbelanjaan. Jalan Jenderal Soedirman masih didominasi deretan toko keluarga, pasar tradisional, dan rumah-rumah sederhana. Aktivitas ekonomi berjalan pelan mengikuti ritme kota kecil. Orang datang ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari, lalu kembali ke rumah sebelum sore tiba. Belum ada pendingin ruangan, belum ada eskalator, apalagi mal modern seperti yang kini berdiri megah di berbagai kota.

Di kota seperti itulah Buntoro memulai hidup sebagai pedagang.

Tidak ada modal besar yang bisa diwariskan ibunya.

Tidak ada investor.

Tidak ada pinjaman bank.

Yang ada hanyalah pengalaman bertahun-tahun membantu ibunya berdagang dan keyakinan bahwa pelanggan akan selalu datang kepada pedagang yang jujur.

Ia mulai dengan sebuah toko kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari. Ukurannya sederhana. Persediaan barang terbatas. Rak-raknya pun jauh dari mewah. Namun sejak hari pertama, ada satu hal yang berbeda dibanding banyak toko lain.

Buntoro memperlakukan tokonya sebagai tempat membangun hubungan, bukan sekadar tempat menjual barang.

Ia berusaha mengingat nama pelanggan tetapnya.

Ia memahami kebiasaan belanja mereka.

Ia tahu kapan musim panen tiba dan kapan daya beli masyarakat mulai melemah.

Ia belajar bahwa perdagangan bukan sekadar soal margin keuntungan, melainkan soal kepercayaan.

Kepercayaan itulah yang kelak menjadi aset paling mahal.


Nama RITA sendiri bukanlah hasil konsultasi pemasaran atau riset merek yang rumit.

Nama itu berasal dari nama salah seorang anggota keluarganya dan kemudian dipilih karena sederhana, mudah diingat, dan terasa akrab di telinga masyarakat Banyumas. Seiring waktu, nama tersebut berkembang menjadi identitas bisnis keluarga yang melekat kuat di berbagai kota di Jawa Tengah.

Pada masa itu, banyak toko keluarga tumbuh dengan pola yang sama: membuka toko, memperoleh keuntungan, lalu menggunakan seluruh laba untuk meningkatkan taraf hidup.

Buntoro memilih jalan yang berbeda.

Setiap keuntungan diputar kembali menjadi modal.

Kalau ada uang lebih, ia membeli persediaan barang.

Kalau keuntungan bertambah, ia memperluas toko.

Kalau toko mulai penuh, ia membuka cabang.

Prinsipnya sederhana: usaha harus tumbuh lebih cepat daripada gaya hidup pemiliknya.

Orang-orang yang pernah bekerja bersamanya sering menggambarkan Buntoro sebagai sosok yang sangat berhati-hati terhadap pengeluaran. Ia dikenal tidak mudah tergoda menunjukkan kemewahan. Bahkan ketika bisnisnya mulai berkembang, pendekatan terhadap uang tetap sama seperti ketika keluarganya dahulu harus menghitung setiap rupiah hasil penjualan apem.

Kemiskinan masa kecil ternyata meninggalkan bekas yang tidak pernah benar-benar hilang.


Tahun demi tahun berlalu.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada era Orde Baru mulai mengubah wajah kota-kota tingkat dua. Jalan diperlebar. Kawasan perdagangan tumbuh. Pendapatan masyarakat meningkat. Kelas menengah mulai muncul.

Banyak pengusaha lokal melihat perubahan itu hanya sebagai kenaikan jumlah pembeli.

Buntoro melihat sesuatu yang lebih besar.

Ia melihat perubahan perilaku masyarakat.

Orang tidak lagi sekadar ingin membeli barang.

Mereka mulai ingin berbelanja dengan nyaman.

Mereka ingin datang ke tempat yang bersih.

Mereka ingin pilihan barang lebih lengkap.

Mereka ingin keluarga ikut menikmati pengalaman berbelanja.

Di sinilah insting bisnisnya bekerja.

Alih-alih sekadar memperbesar toko tradisional, ia mulai mengembangkan konsep department store dan pusat perbelanjaan modern di wilayah yang ketika itu belum menjadi perhatian kelompok-kelompok ritel nasional.

Keputusan itu mengandung risiko besar.

Purwokerto bukan Jakarta.

Bukan Bandung.

Bukan Surabaya.

Banyak orang menganggap membangun pusat perbelanjaan modern di kota seperti Purwokerto terlalu berani.

Tetapi justru karena itulah peluangnya terbuka.

Buntoro memiliki filosofi yang berbeda dari sebagian besar pengusaha ritel saat itu.

“Kalau semua orang sudah datang ke satu kota, berarti kita sudah terlambat.”

Ia lebih memilih menjadi yang pertama daripada menjadi pengikut.

Strategi tersebut kemudian menjadi salah satu ciri khas ekspansi Rita Group selama bertahun-tahun. Perusahaan lebih banyak membangun pusat perbelanjaan di kota-kota berkembang di Jawa Tengah dan sekitarnya dibanding langsung bersaing di Jakarta dengan pemain nasional yang memiliki modal jauh lebih besar.


Keputusan itu perlahan membuahkan hasil.

Nama Rita mulai dikenal.

Bukan hanya sebagai toko.

Melainkan sebagai tujuan belanja keluarga.

Anak-anak datang untuk melihat permainan.

Orang tua membeli kebutuhan rumah tangga.

Remaja berkumpul pada akhir pekan.

Pusat perbelanjaan yang dibangun Buntoro secara perlahan mengubah cara masyarakat kota kecil menikmati ruang publik.

Di banyak daerah, mal bukan sekadar tempat transaksi ekonomi.

Ia menjadi simbol perubahan gaya hidup.

Dan Buntoro membaca perubahan itu lebih cepat dibanding banyak pengusaha lain.

 

Share This Article