Dunia teknologi memasuki fase baru pada 2026. Perkembangan yang sebelumnya banyak berlangsung di layar komputer kini bergerak ke dunia fisik, mulai dari jaringan listrik dan semikonduktor yang menopang data center, robot yang membawa kecerdasan buatan ke pabrik, sistem AI yang menjalankan pekerjaan secara mandiri, hingga teknologi antariksa yang mendorong peluncuran ribuan satelit. McKinsey dalam Technology Trends Outlook 2026 melihat perubahan ini sebagai pergeseran besar dalam cara teknologi menciptakan nilai bagi perusahaan dan perekonomian.
Laporan terbaru McKinsey mengidentifikasi 14 tren teknologi yang dinilai penting bagi dunia bisnis pada 2026. Tren tersebut dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar, yakni revolusi AI, perkembangan komputasi dan konektivitas, serta teknologi engineering generasi baru. Dua bidang baru yang masuk dalam laporan tahun ini adalah agentic software development serta AI untuk scientific discovery and engineering, sementara cloud dan edge computing tidak lagi dimasukkan sebagai tren frontier karena teknologinya sudah semakin matang dan luas digunakan.
McKinsey menggunakan enam ukuran aktivitas untuk menilai perkembangan setiap teknologi, yaitu volume pencarian internet, jumlah pemberitaan, paten, publikasi penelitian, investasi ekuitas dan permintaan tenaga kerja. Data investasi berasal dari PitchBook dan mencakup venture capital, corporate and strategic M&A, private equity, buyout, PIPE serta investasi publik. Pendekatan tersebut membuat laporan ini tidak hanya mengukur seberapa populer sebuah teknologi, tetapi juga melihat apakah inovasi tersebut mulai menarik modal, talenta dan adopsi perusahaan.
AI menjadi benang merah hampir seluruh perubahan tersebut. Dari 14 tren yang diteliti, empat secara khusus berkaitan dengan AI, tetapi McKinsey menilai AI juga mempercepat 10 tren lainnya, termasuk robotika, pengembangan perangkat lunak, penemuan ilmiah, keamanan siber dan semikonduktor. Dengan demikian, AI dalam laporan ini tidak lagi diperlakukan sebagai satu kategori teknologi, melainkan sebagai lapisan yang mengubah hampir seluruh rantai teknologi.
Salah satu perubahan paling penting adalah munculnya agentic AI dan sistem yang semakin mampu bekerja secara mandiri. AI sebelumnya banyak digunakan untuk menghasilkan jawaban, membuat dokumen atau merangkum informasi, sedangkan sistem agentic bergerak menuju kemampuan merencanakan dan menjalankan rangkaian pekerjaan secara end-to-end. Konsekuensinya bagi perusahaan bukan sekadar mengganti satu perangkat lunak dengan perangkat lunak lain, tetapi berpotensi mengubah struktur pekerjaan dan operating model perusahaan.
Perubahan berikutnya terjadi ketika AI keluar dari layar dan masuk ke dunia fisik. McKinsey melihat physical AI berkembang melalui robot, kendaraan otonom, wearable devices dan sistem industri yang mampu memahami lingkungan, mengambil keputusan dan melakukan tindakan. Manufaktur dan logistik menjadi sektor awal yang menarik karena manfaat ekonominya lebih mudah dihitung, tetapi penggunaan teknologi tersebut berpotensi meluas ke rumah sakit, konstruksi, pertanian dan infrastruktur perkotaan.
AI juga mempercepat proses penemuan ilmiah dengan kecepatan yang sulit diimbangi oleh proses validasi di dunia nyata. Dalam biopharma, misalnya, AI dapat menghasilkan ribuan kandidat obat dalam waktu yang sebelumnya hanya mampu menghasilkan sebagian kecil dari jumlah tersebut, tetapi kandidat itu tetap harus melewati eksperimen laboratorium, uji klinis dan proses regulasi. Fenomena yang sama terjadi pada software dan material science, sehingga kemampuan AI menghasilkan ide semakin cepat daripada kemampuan organisasi untuk menguji dan menerapkannya.
Di sektor software, muncul tren agentic software development yang mengubah cara aplikasi dibangun. AI dapat meningkatkan produktivitas programmer secara signifikan, tetapi peningkatan kecepatan menghasilkan kode juga menciptakan tantangan baru karena perusahaan harus mampu meninjau, menguji dan mengamankan kode dalam volume yang jauh lebih besar. Bagi perusahaan, investasi AI karena itu tidak cukup hanya membeli tools, tetapi membutuhkan perubahan pada proses pengembangan, quality control dan governance teknologi.
Perubahan besar lainnya berlangsung di industri semikonduktor. AI meningkatkan kebutuhan terhadap chip yang dirancang secara khusus untuk workload tertentu, terutama inference, yaitu proses ketika model AI menjalankan tugas setelah dilatih. McKinsey melihat semakin banyak perusahaan teknologi besar seperti Amazon, Google, Meta dan Microsoft bekerja sama dengan perusahaan semikonduktor untuk mengembangkan custom silicon yang disesuaikan dengan kebutuhan model AI mereka.
Perkembangan chip tersebut memiliki dampak langsung terhadap bisnis data center dan energi. Chip yang lebih efisien dapat menghasilkan lebih banyak output AI untuk konsumsi listrik yang sama, sementara kebutuhan komputasi yang terus meningkat membuat perusahaan harus memikirkan infrastruktur energi sejak awal. McKinsey mencatat bahwa investasi pada teknologi energi mencapai hampir US$200 miliar pada 2025, sementara belanja untuk AI infrastructure meningkat dua kali lipat dalam satu tahun.
Masalah listrik bahkan mulai menjadi salah satu batas utama ekspansi AI. McKinsey memperkirakan data center di Amerika Serikat yang menjalankan workload AI saja dapat mengonsumsi listrik pada 2030 sebesar konsumsi listrik California saat ini. Persoalannya bukan hanya jumlah listrik yang dibutuhkan, tetapi kemampuan jaringan transmisi, gardu dan transformer untuk menyediakan daya tepat ketika dan di tempat data center membutuhkannya.
Kesenjangan infrastruktur tersebut menciptakan peluang bisnis baru di luar industri teknologi. McKinsey mencatat lebih dari 2.500 gigawatt proyek energi di seluruh dunia masih tertahan dalam antrean koneksi jaringan dan dapat membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan akses. Di sejumlah pasar, transformer bahkan memiliki waktu tunggu lebih dari dua tahun, sehingga akses terhadap listrik yang stabil mulai menjadi keunggulan kompetitif bagi perusahaan, sama pentingnya dengan akses terhadap modal dan tenaga kerja.
Keamanan siber juga memasuki fase baru karena AI mempercepat kemampuan kedua pihak dalam perlombaan antara penyerang dan pertahanan. Sistem AI dapat membantu tim keamanan menemukan dan memperbaiki kerentanan lebih cepat, tetapi teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk menemukan dan mengeksploitasi kelemahan sistem dengan kecepatan lebih tinggi. Artinya, perusahaan semakin sulit mengandalkan pendekatan keamanan yang bersifat reaktif dan harus membangun sistem pertahanan yang mampu beroperasi dengan kecepatan yang sebanding dengan ancaman.
Di luar AI, McKinsey melihat perkembangan besar pada future of energy and sustainability technologies, advanced connectivity, quantum technologies, future of robotics, future of space technologies, future of mobility, immersive-reality technologies serta future of life sciences and bioengineering. Bidang-bidang tersebut berada pada tingkat kematangan yang berbeda, sehingga strategi perusahaan tidak harus sama untuk setiap teknologi. Sebagian membutuhkan investasi sekarang, sementara lainnya lebih tepat dipantau sampai bukti komersialnya semakin kuat.
Data investasi memberikan gambaran mengenai ke mana modal mulai bergerak. Berdasarkan investasi paruh pertama 2026 dan proyeksi berdasarkan laju pertumbuhan saat ini, lima tren diperkirakan menerima investasi lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2025, yaitu agentic software development, AI infrastructure and model architectures, AI for scientific discovery and engineering, future of space technologies dan future of robotics. McKinsey menekankan bahwa nilai investasi merupakan sinyal mengenai tingkat keyakinan pasar, bukan jaminan bahwa teknologi tersebut pasti menghasilkan keuntungan.
Salah satu angka paling mencolok berasal dari AI infrastructure and model architectures. Data McKinsey menunjukkan investasi pada bidang ini berpotensi meningkat dari sekitar US$145 miliar pada 2025 menjadi sekitar US$770 miliar pada 2026 berdasarkan extrapolation yang digunakan dalam analisis mereka. Jika terealisasi, lonjakan tersebut akan memperlihatkan bahwa perlombaan AI telah berkembang jauh melewati pembangunan model dan aplikasi, menuju penguasaan infrastruktur komputasi yang menopangnya.
Perubahan tersebut juga menciptakan persoalan tenaga kerja. McKinsey menemukan bahwa lebih dari 75 persen lowongan pekerjaan pada empat kategori AI serta application-specific semiconductors berada di bidang R&D, menunjukkan bahwa teknologi tersebut masih berada pada tahap relatif awal meskipun pertumbuhannya cepat. Sebaliknya, pada connectivity, cybersecurity, energy, life sciences dan mobility, lebih dari separuh lowongan sudah berada pada fungsi non-R&D seperti operasi, administrasi, penjualan dan pemasaran, sebuah indikasi bahwa implementasi komersial mulai berkembang.
Bagi perusahaan, pesan penting dari laporan ini adalah bahwa adopsi teknologi tidak dapat dipisahkan dari perubahan operating model. Perusahaan menghadapi kebutuhan untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja, memperbarui sistem lama, memperkuat keamanan jaringan dan memastikan ketersediaan energi serta modal. McKinsey menilai perusahaan yang ingin mendapatkan nilai penuh dari teknologi perlu melakukan perubahan organisasi dari dalam, bukan sekadar menambahkan teknologi baru di atas struktur bisnis lama.
Bagi investor, laporan ini menawarkan cara lain untuk membaca peluang teknologi. Perusahaan yang berada di pusat AI memang menarik perhatian, tetapi nilai ekonomi juga dapat mengalir kepada pemasok chip, pembuat transformer, produsen sistem energi, perusahaan data center, penyedia cybersecurity, robotika, konektivitas dan berbagai perusahaan yang menyediakan infrastruktur pendukung. Pergeseran tersebut menunjukkan bahwa investasi teknologi masa depan kemungkinan semakin ditentukan oleh ekosistem, bukan hanya oleh perusahaan yang memiliki aplikasi AI paling populer.
Bagi Asia, implikasinya sangat besar karena kawasan ini memiliki basis manufaktur, semikonduktor, pusat data, jaringan telekomunikasi dan rantai pasok elektronik yang luas. Negara yang mampu menyediakan listrik, konektivitas, talenta teknologi dan infrastruktur data center berpotensi memperoleh manfaat dari gelombang investasi AI, sementara perusahaan manufaktur menghadapi peluang untuk mengadopsi robotika dan physical AI. Dalam konteks tersebut, kompetisi teknologi juga menjadi kompetisi infrastruktur, energi, modal dan sumber daya manusia.
McKinsey pada akhirnya menggambarkan 2026 sebagai periode ketika batas antara teknologi digital dan dunia fisik semakin tipis. AI mulai mengendalikan sistem, robot mulai memahami lingkungan, chip semakin dirancang khusus untuk workload tertentu, energi menjadi faktor pembatas ekspansi data center dan teknologi ilmiah bergerak menuju proses penemuan yang semakin dibantu mesin. Bagi pemimpin bisnis dan investor, memahami arah pergerakan modal, inovasi dan adopsi menjadi semakin penting karena teknologi yang terlihat eksperimental hari ini dapat menjadi bagian dari struktur industri beberapa tahun mendatang. (Redaksi)