Setelah menghadapi pasar mobil yang melemah sepanjang 2025, bisnis otomotif Astra memasuki 2026 dengan momentum yang lebih baik. Pada semester pertama 2026, laba bersih bisnis Otomotif Astra meningkat 9% menjadi Rp5,9 triliun, menjadikannya salah satu dari dua bisnis inti yang berhasil mencatat pertumbuhan laba pada periode tersebut.
Perbaikan tersebut terjadi ketika pasar mobil nasional mulai menunjukkan pemulihan. Penjualan mobil nasional meningkat 16% menjadi 437.000 unit pada semester pertama 2026, sementara penjualan Grup Astra naik 10%.
Kinerja tersebut kontras dengan 2025. Sepanjang tahun lalu, pasar mobil nasional justru turun 7% menjadi sekitar 804.000 unit dan laba divisi Otomotif & Mobilitas Astra relatif stabil di Rp11,4 triliun. Astra mampu mempertahankan profitabilitas karena kekuatan bisnis sepeda motor dan komponen.
Pemulihan pasar mobil memberikan keuntungan langsung kepada Astra karena Grup masih memiliki posisi dominan melalui Toyota dan Daihatsu. Pada semester pertama 2026, pangsa pasar mobil Astra mencapai sekitar 51%, dengan Toyota dan Daihatsu tetap berada di posisi pertama dan kedua sebagai merek dengan penjualan terbesar di Indonesia.
Angka pangsa pasar tersebut penting karena kompetisi otomotif Indonesia semakin ketat. Pemain China dan merek lain terus memperluas portofolio, terutama pada kendaraan listrik dan segmen dengan harga kompetitif. Astra harus mempertahankan volume sekaligus menjaga hubungan dengan konsumen ketika preferensi kendaraan berubah.
Sepeda motor juga tetap menjadi penyangga penting. Penjualan sepeda motor nasional meningkat 1% menjadi 3,1 juta unit pada semester pertama 2026, sedangkan penjualan sepeda motor Honda tumbuh 1% dan mempertahankan pangsa pasar sekitar 77%.
Kekuatan sepeda motor memberikan Astra sumber laba yang berbeda dari mobil. Ketika daya beli konsumen menekan pembelian mobil, sepeda motor dapat tetap menjadi alat transportasi utama bagi kelompok konsumen yang lebih luas.
Komponen otomotif bahkan menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat. Kontribusi laba bersih bisnis komponen Astra meningkat 23% menjadi Rp921 miliar pada semester pertama 2026, dengan peningkatan kontribusi dari seluruh segmen.
Pertumbuhan komponen memberikan gambaran bahwa pemulihan otomotif tidak hanya terjadi pada penjualan kendaraan baru. Rantai pasok suku cadang dan aftermarket juga memberikan kontribusi terhadap profitabilitas Astra, sehingga Grup memperoleh sumber pendapatan dari berbagai tahapan siklus kendaraan.
Bisnis mobil bekas juga bergerak positif. Mobilitas Grup mencatat kenaikan penjualan mobil bekas sebesar 4% menjadi 15.700 unit, sementara jumlah kendaraan dalam kontrak meningkat 13% menjadi 29.200 unit.
Perkembangan tersebut memperluas sumber pendapatan Astra di luar dealer mobil baru. Pasar kendaraan bekas, rental dan solusi mobilitas memungkinkan Grup memperoleh pendapatan dari kendaraan yang telah keluar dari jaringan penjualan mobil baru.
Strategi baru Astra menjadikan Otomotif sebagai salah satu dari tiga core businesses. Dua lainnya adalah Jasa Keuangan dan Solusi Pertambangan & Alat Berat. Dengan demikian, bisnis otomotif tetap berada di pusat strategi Astra meskipun Grup juga terus memiliki portofolio bisnis yang lebih luas.
Ada alasan kuat untuk mempertahankan fokus tersebut. Ekosistem otomotif Astra terhubung dengan pembiayaan, asuransi, komponen, mobil bekas, rental dan layanan mobilitas. Setiap kenaikan penjualan kendaraan berpotensi menciptakan efek berantai terhadap bisnis lain di dalam Grup.
Jasa keuangan menjadi salah satu contoh paling jelas. Pada semester pertama 2026, pembiayaan konsumen Astra meningkat 10% menjadi Rp61,8 triliun, didorong pertumbuhan pembiayaan otomotif dan multi-cycle. Kontribusi laba bisnis pembiayaan mobil meningkat 6% menjadi Rp1,2 triliun.
Kombinasi antara penjualan kendaraan dan pembiayaan menciptakan model bisnis yang lebih defensif dibandingkan hanya mengandalkan margin dealer. Astra dapat memperoleh nilai dari transaksi kendaraan sekaligus pembiayaan dan layanan setelah penjualan.
Tantangan berikutnya adalah mempertahankan pertumbuhan ketika struktur pasar berubah. Kendaraan listrik, persaingan harga, perubahan teknologi dan masuknya merek baru akan menguji kemampuan Astra mempertahankan pangsa pasar 51% dalam jangka panjang.
Untuk saat ini, angka semester pertama memberikan sinyal yang lebih positif. Dengan laba Otomotif naik 9%, pasar mobil nasional tumbuh 16%, penjualan Grup naik 10% dan bisnis komponen tumbuh kuat, mesin otomotif Astra kembali menunjukkan akselerasi setelah menghadapi tekanan sepanjang 2025.
