Fitch Ratings: Sukuk Global Diprediksi Menguat hingga Akhir 2026

bintangbisnis

Pasar sukuk global diperkirakan melanjutkan pemulihan hingga akhir 2026 setelah aktivitas penerbitan kembali menguat pada kuartal III. Fitch Ratings menilai kebutuhan pendanaan dari berbagai sektor dan permintaan yang tetap kuat dari investor syariah akan menopang pasar. Fitch juga memperkirakan penerbitan sukuk dapat meningkat sebelum biaya pendanaan naik lebih lanjut.

Fitch memperkirakan Federal Reserve Amerika Serikat akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember 2026. Ekspektasi tersebut dapat mendorong sejumlah penerbit mempercepat penerbitan sukuk sebelum biaya pendanaan meningkat. Kondisi suku bunga global menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan aktivitas pasar sukuk pada akhir tahun.

Pada kuartal III 2026, sukuk mencakup sekitar 13% dari penerbitan surat utang berdenominasi dolar AS di negara-negara emerging market, tidak termasuk China. Angka tersebut menunjukkan posisi sukuk yang semakin penting dalam struktur pembiayaan pasar negara berkembang. Fitch memperkirakan sukuk akan tetap menjadi salah satu instrumen utama bagi penerbit di emerging market.

Nilai sukuk global yang masih beredar telah melampaui US$1,1 triliun. Konsentrasi terbesar berada di kawasan Gulf Cooperation Council atau GCC, Malaysia, Indonesia dan Turki. Besarnya outstanding tersebut menunjukkan bahwa sukuk telah berkembang dari instrumen pembiayaan yang relatif khusus menjadi bagian penting dari pasar obligasi global.

Penerbitan sukuk berdenominasi dolar AS di pasar-pasar utama meningkat 58% secara kuartalan menjadi US$25,5 miliar pada kuartal III 2026. Pada periode yang sama, penerbitan obligasi dolar AS justru turun 25,9%. Perbedaan tersebut memperlihatkan momentum sukuk yang relatif lebih kuat dibandingkan pasar obligasi konvensional dalam periode tersebut.

Fitch melihat perkembangan pasar sukuk juga didukung oleh sejumlah perubahan regulasi dan inovasi produk. Tokenisasi, instrumen sukuk berbasis ESG, sukuk ritel serta residential mortgage-backed securities atau RMBS sukuk menjadi beberapa area yang berpotensi memperluas basis investor dan meningkatkan kematangan pasar. Perkembangan tersebut dapat membuka akses sukuk kepada kelompok investor yang lebih luas.

Dari sisi kualitas kredit, Fitch menilai profil sukuk global masih relatif kuat. Lebih dari 80% sukuk yang memperoleh peringkat Fitch berada dalam kategori investment grade, sementara lebih dari 80% penerbit memiliki Stable Outlook. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menopang kepercayaan investor terhadap instrumen pembiayaan syariah.

Namun, pasar sukuk tetap menghadapi risiko dari ketidakpastian geopolitik dan kenaikan imbal hasil. Fitch mencatat spread antara sukuk investment grade dari negara-negara GCC dan US Treasury telah meningkat. Kenaikan spread tersebut mencerminkan premi risiko geopolitik serta volatilitas imbal hasil US Treasury dan pasar negara berkembang.

Sejumlah negara juga mulai memperkuat kerangka penerbitan sukuk. Pemerintah Arab Saudi menyatakan akan melanjutkan penerbitan sukuk pada 2027, sementara Kuwait menerbitkan undang-undang sukuk baru yang berpotensi memperluas akses terhadap instrumen tersebut. Pakistan juga telah menunjuk konsorsium bank internasional untuk menjalankan program penerbitan sukuk.

Malaysia kembali masuk ke pasar sukuk dolar AS setelah jeda selama lima tahun dengan menerbitkan sukuk senilai US$1,5 miliar. Langkah tersebut memperlihatkan masih kuatnya peran Malaysia sebagai salah satu pusat utama keuangan Islam global. Malaysia bersama negara-negara GCC, Indonesia dan Turki menjadi pasar yang menyumbang porsi besar terhadap outstanding sukuk dunia.

Di Asia, peluang pengembangan sukuk juga mulai diperluas oleh negara-negara yang sebelumnya memiliki pasar yang lebih kecil. Bank sentral Filipina menerbitkan rancangan aturan yang memberikan relaksasi sekaligus insentif bagi penerbitan dan investasi sukuk. Sementara itu, Mesir berencana menerbitkan sukuk berbasis pajak untuk pertama kalinya.

Bagi Indonesia, perkembangan pasar sukuk global memiliki arti strategis karena Indonesia termasuk salah satu negara dengan konsentrasi outstanding sukuk terbesar di dunia. Fitch mencatat adanya penerbitan sukuk rupiah Indonesia yang mengalami default dan menjadi default pertama sukuk rupiah Indonesia yang memperoleh peringkat Fitch. Di tengah perkembangan tersebut, pemulihan aktivitas sukuk global tetap membuka peluang bagi Indonesia untuk mempertahankan perannya sebagai salah satu pasar utama keuangan syariah dunia.

Share This Article