PURWOKERTO—Sulit membayangkan seorang anak yang dulu berkeliling menjajakan bakso dengan sepeda akhirnya membangun jaringan pusat perbelanjaan terbesar di Jawa Tengah bagian selatan. Namun itulah kisah hidup Buntoro. Pendiri Rita Group ini membuktikan bahwa perjalanan menuju sukses tidak selalu dimulai dari modal besar.
Ketika masih remaja, hidup Buntoro jauh dari kata mudah. Ayahnya meninggal saat ia masih kecil sehingga beban ekonomi keluarga jatuh ke pundak sang ibu dan anak-anaknya. Demi membantu keluarga bertahan hidup, Buntoro ikut berjualan makanan buatan ibunya, termasuk bakso yang dijajakan dengan sepeda mengelilingi Kota Purwokerto. Kisah itu kembali ia ceritakan saat peluncuran buku biografinya Dari Nol Menjadi Mall pada 2022.
Salah satu kenangan yang paling membekas adalah ketika ia dan kakaknya terjatuh ke selokan saat sedang mengantar dagangan. Bakso yang mereka bawa tumpah ke jalan. Mereka pulang dengan perasaan takut karena hasil jualan hari itu seharusnya menjadi biaya hidup keluarga.
Peristiwa itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun bagi Buntoro, pengalaman tersebut menjadi pelajaran yang tidak pernah terlupakan. Ia belajar bahwa mencari uang membutuhkan kerja keras, keberanian, dan kesabaran yang luar biasa.
Siapa sangka, puluhan tahun kemudian, anak yang pernah berjualan bakso itu justru dikenal sebagai salah satu pengusaha paling sukses di Banyumas. Nama Rita Group kini identik dengan jaringan supermarket, department store, hotel, restoran, hingga pusat perbelanjaan modern yang tersebar di sejumlah kota di Jawa Tengah.
Perjalanan itu tentu tidak berlangsung dalam semalam. Setelah membantu ibunya berjualan, Buntoro mulai merintis usaha sendiri dari kios kecil dengan ukuran yang sangat sederhana. Modalnya terbatas. Peralatannya pun banyak yang dipinjam. Namun semangatnya untuk membangun usaha tidak pernah surut.
Di usia yang masih sangat muda, Buntoro sudah berpikir seperti seorang pedagang profesional. Ia memahami bahwa pelanggan harus dibuat nyaman agar mau kembali berbelanja. Prinsip sederhana itu kemudian menjadi fondasi ketika bisnisnya berkembang menjadi toko kelontong, lalu swalayan.
Tahun 1982 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Rita Group. Buntoro membuka toko swalayan pertama di Purwokerto dengan konsep pelayanan modern yang ketika itu masih tergolong baru bagi masyarakat setempat. Keputusan tersebut ternyata mendapat sambutan positif dari konsumen.
Keberhasilan toko pertama mendorong pembukaan cabang berikutnya. Sedikit demi sedikit, Rita berkembang menjadi jaringan ritel yang makin dikenal masyarakat. Dari Purwokerto, ekspansi kemudian merambah Cilacap, Wonosobo, Kebumen, Tegal, dan kota-kota lainnya.
Yang menarik, Buntoro tidak terburu-buru mengejar ekspansi nasional. Ia memilih memperkuat pasar daerah lebih dahulu. Strategi itu membuat Rita memiliki basis pelanggan yang loyal sekaligus memahami karakter konsumsi masyarakat lokal.
Saat banyak investor berlomba membangun bisnis di Jakarta atau Surabaya, Buntoro justru melihat peluang besar di kota-kota menengah. Menurutnya, masyarakat daerah juga membutuhkan pusat perbelanjaan yang nyaman, lengkap, dan modern. Cara pandang itulah yang kemudian membedakan Rita Group dari banyak pemain ritel lainnya.
Pusat perbelanjaan yang dibangun Rita bukan sekadar tempat belanja. Mall juga menjadi ruang berkumpul keluarga, lokasi hiburan, tempat kuliner, sekaligus pusat aktivitas masyarakat. Kehadiran sebuah Rita SuperMall sering kali ikut menggerakkan pertumbuhan ekonomi kawasan di sekitarnya.
Kini, Rita Group berkembang menjadi kelompok usaha dengan berbagai lini bisnis. Ribuan orang menggantungkan mata pencahariannya pada perusahaan tersebut. Perjalanan yang dimulai dari sepeda, gerobak, dan bakso akhirnya berubah menjadi jaringan bisnis bernilai besar yang menjadi salah satu kebanggaan Banyumas.
Meski telah mencapai puncak kesuksesan, kisah masa kecil Buntoro tetap sering ia ceritakan. Bukan untuk membangkitkan rasa iba, melainkan untuk mengingatkan bahwa keberhasilan selalu memiliki harga yang harus dibayar. Tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan.
Bagi generasi muda yang ingin menjadi pengusaha, perjalanan hidup Buntoro memberikan pelajaran sederhana. Modal memang penting, tetapi bukan satu-satunya penentu. Kerja keras, keberanian mengambil peluang, dan kemampuan bertahan saat menghadapi masa sulit sering kali jauh lebih menentukan.
Hari ini, ketika masyarakat memasuki Rita SuperMall dengan gedung yang megah dan deretan merek terkenal, mungkin hanya sedikit yang mengetahui bagaimana semuanya bermula. Di balik bangunan modern itu tersimpan kisah seorang anak yang pernah mengayuh sepeda membawa bakso keliling demi membantu ibunya menghidupi keluarga.
(Red)
