(Medan) — Kisah bisnis Aldes Maryono menarik karena Suzuya Group tidak lahir dari jaringan supermarket besar atau modal korporasi berskala nasional. Bisnis ini bermula pada 1983 dari sebuah kios kecil seluas hanya 77,5 meter persegi dengan nama Suzuya Boutique. Lebih dari empat dekade kemudian, bisnis tersebut berkembang menjadi kelompok ritel lokal dengan puluhan outlet yang tersebar di berbagai kota di Sumatra.
Informasi publik mengenai kehidupan pribadi Aldes Maryono memang relatif terbatas dibandingkan para taipan nasional. Namun, sejumlah profil perusahaan dan penelitian mengenai Suzuya menyebut Aldes Maryono sebagai pemilik yang membangun bisnis tersebut bersama dukungan anggota keluarganya. Karena itu, kisah Aldes lebih tepat dibaca sebagai kisah entrepreneurship keluarga yang berkembang secara bertahap daripada kisah seorang pengusaha yang membangun perusahaan melalui satu ekspansi besar.
Nama Suzuya sendiri berasal dari bahasa Jepang yang berarti “kayu gemerincing”. Pada fase pertama, model bisnisnya masih sangat sederhana, yaitu sebuah toko yang berfokus pada fashion. Namun, perkembangan usaha kemudian mendorong perubahan format, dan luas toko yang semula 77,5 meter persegi meningkat menjadi sekitar 180 meter persegi dengan nama Suzuya Fashion.
Titik paling dramatis dalam perjalanan bisnis itu terjadi pada 1986 ketika toko Suzuya terbakar habis. Bagi bisnis keluarga yang masih berada pada tahap awal, kehilangan aset fisik utama dapat berarti berakhirnya usaha. Aldes dan keluarganya justru menggunakan peristiwa tersebut sebagai momentum untuk membangun kembali bisnis dengan skala yang jauh lebih besar.
Pada 1988, Suzuya kembali beroperasi dengan luas sekitar 900 meter persegi dan menggunakan format baru sebagai Suzuya Department Store. Perubahan dari butik 77,5 meter persegi menjadi department store 900 meter persegi menunjukkan bahwa strategi Aldes sejak awal tidak berhenti pada mempertahankan sebuah toko, tetapi memperbesar format bisnis dan cakupan barang yang ditawarkan kepada konsumen.
Di sinilah salah satu karakter penting strategi Suzuya terlihat. Bisnis tersebut berkembang dengan memperluas kebutuhan konsumen yang dapat dilayani dalam satu ekosistem ritel, sehingga perusahaan kemudian memiliki format department store, supermarket dan superstore. Perubahan ini membuat Suzuya tidak hanya bergantung pada penjualan fashion, tetapi dapat menangkap belanja kebutuhan rumah tangga dan konsumsi sehari-hari.
Pada 2007, nama bisnis berkembang menjadi Suzuya Group. Perubahan tersebut mencerminkan transformasi dari sebuah jaringan toko menjadi kelompok usaha dengan beberapa lini bisnis yang saling berhubungan. Perusahaan kemudian menyebut memiliki sembilan unit bisnis, termasuk department store, supermarket, superstore, fashion outlet ROMP, furniture plaza, hotel dan restoran.
Model diversifikasi tersebut menjadi salah satu kekuatan Suzuya. Ritel makanan dapat mendatangkan frekuensi kunjungan yang tinggi, fashion memberikan kategori dengan karakter margin yang berbeda, sementara furniture, hotel dan restoran memperluas sumber pendapatan grup. Strateginya bukan membangun konglomerasi dengan masuk ke industri yang sama sekali tidak berhubungan, melainkan memperluas berbagai kebutuhan konsumen di sekitar bisnis ritel dan gaya hidup.
Ekspansi Suzuya juga menunjukkan karakter regional yang kuat. Alih-alih langsung mengejar Jakarta atau pasar nasional, perusahaan membangun jaringan di Sumatra, mulai dari Medan dan wilayah sekitarnya kemudian berkembang ke kota-kota seperti Binjai, Pematangsiantar, Rantau Prapat, Pekanbaru, Padang, Lhokseumawe dan Banda Aceh. Situs perusahaan saat ini mencantumkan outlet di berbagai lokasi tersebut, termasuk sejumlah gerai di Medan dan Sumatra Utara.
Strategi regional tersebut memiliki nilai ekonomi tersendiri. Pemahaman terhadap karakter konsumen lokal, pola perdagangan dan jaringan pemasok dapat menjadi keunggulan bagi peritel yang beroperasi di wilayah yang luas tetapi belum sepenuhnya dikuasai jaringan ritel nasional. Suzuya pada akhirnya membangun posisi sebagai salah satu pemain ritel lokal yang kuat di Sumatra, dengan identitas yang lebih dekat dengan pasar regionalnya.
Skala bisnis yang dicantumkan Suzuya saat ini menunjukkan besarnya transformasi tersebut. Perusahaan menyebut memiliki 26 outlet di 11 kota, lebih dari 3.000 karyawan, lebih dari 20.000 meter persegi lahan ritel, lebih dari 100.000 jenis produk dan lebih dari 500.000 pelanggan terdaftar. Angka tersebut memperlihatkan bahwa bisnis yang dimulai dari satu kios kecil telah berubah menjadi organisasi ritel dengan jaringan dan basis pelanggan yang cukup besar.
Namun, ukuran Suzuya tidak hanya dapat dilihat dari jumlah outlet. Model bisnis ritel membutuhkan kemampuan mengelola persediaan, harga, pemasok, lokasi, tenaga kerja, promosi dan pengalaman pelanggan secara bersamaan. Semakin besar jaringan, semakin kompleks pula kebutuhan untuk menjaga konsistensi operasi, sehingga transformasi dari toko keluarga menjadi group retail company merupakan perubahan manajemen yang jauh lebih besar daripada sekadar membuka cabang baru.
Nilai yang dikomunikasikan perusahaan juga memperlihatkan upaya membangun organisasi yang lebih formal. mencantumkan integritas, profesionalitas, kerja tim, inovasi serta hemat dan cermat sebagai nilai perusahaan. Bagi sebuah bisnis keluarga yang telah berkembang menjadi ribuan karyawan, nilai-nilai tersebut penting karena keberhasilan generasi pertama harus diterjemahkan menjadi sistem yang dapat dijalankan oleh organisasi yang jauh lebih besar.
Kekuatan lain dari perjalanan Aldes adalah kemampuan mempertahankan identitas bisnis lokal ketika industri ritel Indonesia mengalami perubahan besar. Suzuya menghadapi masuknya berbagai format ritel modern, perubahan perilaku konsumen dan berkembangnya pusat perbelanjaan serta perdagangan digital. Alih-alih menghilang di tengah kompetisi tersebut, Suzuya tetap membangun jaringan terutama melalui kekuatan pasar Sumatra.
Dari sudut pandang entrepreneurship, pengalaman Aldes juga menunjukkan pentingnya resilience dalam bisnis ritel. Kebakaran pada 1986 menghancurkan toko yang telah dibangun selama beberapa tahun, tetapi dua tahun kemudian Suzuya kembali dengan format 900 meter persegi. Dalam sejarah perusahaan keluarga, kemampuan untuk mengalokasikan kembali modal setelah mengalami kehilangan aset sering kali sama pentingnya dengan kemampuan menciptakan bisnis pada fase awal.
Hal yang menarik adalah perkembangan Suzuya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang. Dari 1983 hingga menjadi Suzuya Group pada 2007, perusahaan membutuhkan lebih dari dua dekade untuk mengubah identitasnya dari toko menjadi kelompok usaha. Setelah itu, ekspansi regional terus dilakukan hingga perusahaan menyatakan memiliki jaringan 26 outlet di 11 kota.