Tahun 2026 diperkirakan menjadi salah satu fase paling menarik bagi investor saham Indonesia. Sejumlah analis memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki siklus penguatan baru seiring stabilisasi ekonomi domestik, meredanya tekanan suku bunga global, serta berlanjutnya belanja infrastruktur dan konsumsi rumah tangga.
Dalam kondisi seperti ini, perhatian investor mulai bergeser dari saham perbankan—yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung IHSG—ke saham non bank yang menawarkan potensi kenaikan harga lebih agresif sekaligus dividen menarik. Inilah strategi yang semakin populer: memburu total return, bukan sekadar capital gain atau yield semata.
Artikel ini merangkum 25 saham non bank di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diprediksi berpeluang menjadi top gainer 2026, dengan mempertimbangkan dua faktor utama:
-
Potensi apresiasi harga saham
-
Konsistensi dan besaran dividen
Bagaimana Saham Dipilih?
Daftar ini disusun berdasarkan kombinasi:
-
Fundamental bisnis dan posisi pasar
-
Prospek sektor hingga 2026
-
Rekam jejak dividen atau potensi pembagian dividen
-
Sensitivitas terhadap pemulihan ekonomi dan konsumsi
Saham dibagi ke dalam beberapa sektor utama agar investor dapat melakukan diversifikasi yang sehat.
SEKTOR KONSUMSI & RITEL (Stabil + Bertumbuh)
1. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)
Saham konsumsi defensif yang memiliki kekuatan merek dan jaringan distribusi luas. ICBP menawarkan stabilitas laba sekaligus dividen rutin, menjadikannya tulang punggung portofolio jangka panjang.
2. Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
Sebagai induk usaha dengan portofolio terdiversifikasi dari agribisnis hingga consumer goods, INDF memiliki karakter cash generator yang kuat.
3. Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)
Ekspansi gerai yang agresif dan konsumsi domestik yang resilient menjadikan AMRT kandidat kuat saham pertumbuhan dengan arus kas stabil.
4. Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI)
Pemilik merek ritel global ini diuntungkan dari pemulihan daya beli kelas menengah dan gaya hidup urban.
5. Matahari Department Store Tbk (LPPF)
LPPF dikenal sebagai salah satu saham ritel dengan dividend payout ratio tinggi, cocok bagi investor pencari pendapatan pasif.
SEKTOR TELEKOMUNIKASI & TEKNOLOGI
6. Telkom Indonesia Tbk (TLKM)
Pendapatan berulang dari telekomunikasi dan transformasi digital membuat TLKM menjadi kombinasi ideal antara stabilitas dan pertumbuhan.
7. Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT)
Efisiensi pasca-merger membuka ruang ekspansi margin dan potensi dividen yang lebih atraktif ke depan.
8. GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO)
Meski belum konsisten laba, potensi re-rating harga saham tetap terbuka jika profitabilitas tercapai, menjadikannya saham berisiko tinggi namun berpotensi cuan besar.
9. Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK)
Eksposur ke media, digital, dan konten membuat EMTK menarik jika sektor teknologi kembali mendapatkan sentimen positif.
SEKTOR ENERGI & PERTAMBANGAN (Dividen Jumbo + Volatilitas Tinggi)
10. PT Bukit Asam Tbk (PTBA)
Salah satu mesin dividen terbesar di BEI. PTBA menjadi favorit investor karena yield yang konsisten dan posisi kas yang kuat.
11. Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)
Disiplin keuangan dan kebijakan dividen agresif menjadikan ITMG langganan dividend hunter.
12. Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO)
Diversifikasi bisnis dan transisi energi memperkuat prospek jangka menengah ADRO.
13. Golden Energy Mines Tbk (GEMS)
Dikenal rajin membagikan dividen interim, GEMS menawarkan potensi total return tinggi saat harga komoditas stabil.
14. Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
Eksposur migas dan energi terbarukan membuat MEDC relevan dalam siklus energi global.
15. Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)
Permintaan tembaga dan emas untuk transisi energi membuka peluang kenaikan valuasi jangka panjang.
SEKTOR INFRASTRUKTUR & KONSTRUKSI
16. Jasa Marga Tbk (JSMR)
Pendapatan jalan tol yang semakin stabil membuka ruang pemulihan dividen dan kenaikan harga saham.
17. Wijaya Karya Tbk (WIKA)
Saham konstruksi berisiko tinggi, namun berpotensi rebound jika restrukturisasi berjalan sukses.
18. Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP)
Pemulihan proyek pemerintah dapat menjadi katalis utama.
SEKTOR PROPERTI & REAL ESTATE
19. Ciputra Development Tbk (CTRA)
Fokus pada pasar menengah menjadikan CTRA relatif tahan siklus.
20. Summarecon Agung Tbk (SMRA)
Pendapatan berulang dari township dan pusat komersial menopang stabilitas laba.
21. Pakuwon Jati Tbk (PWON)
Mal dan properti mixed-use memberikan arus kas yang solid.
SEKTOR INDUSTRI & AGRIBISNIS
22. Astra International Tbk (ASII)
Konglomerasi dengan eksposur otomotif, alat berat, dan agribisnis—ASII sering menjadi barometer ekonomi domestik.
23. United Tractors Tbk (UNTR)
Kombinasi alat berat, tambang, dan dividen besar menjadikan UNTR saham favorit investor institusi.
24. Sampoerna Agro Tbk (SGRO)
Saham agribisnis dengan yield menarik dan potensi kenaikan harga komoditas.
25. Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN)
Pemimpin industri protein dengan permintaan jangka panjang yang kuat.
Mengapa Saham Non Bank Berpeluang Jadi Top Gainer di 2026?
Pertama, rotasi sektor. Investor global cenderung mencari saham dengan upside lebih tinggi di luar perbankan.
Kedua, fokus ke total return. Dividen besar kembali menjadi magnet.
Ketiga, pemulihan konsumsi dan belanja pemerintah mendorong sektor riil.
Strategi Investor Personal Finance
-
Kombinasikan dividen besar + saham pertumbuhan
-
Jangan hanya fokus pada yield, perhatikan keberlanjutan laba
-
Disiplin diversifikasi lintas sektor
Notes:
Tahun 2026 berpotensi menjadi momentum emas bagi saham non bank di BEI. Emiten dari sektor konsumsi, energi, infrastruktur, hingga teknologi menawarkan peluang kenaikan harga sekaligus dividen yang mampu menghasilkan total return optimal. Bagi investor yang jeli dan disiplin, daftar ini dapat menjadi fondasi kuat membangun portofolio cuan berkelanjutan.


















