Ketika sektor teknologi keuangan Indonesia mulai tumbuh pesat pada akhir 2010-an, perhatian publik sebagian besar tertuju pada layanan dompet digital dan pembiayaan konsumtif. Namun di balik pertumbuhan tersebut, berlangsung transformasi yang lebih senyap di sektor keuangan syariah—khususnya dalam pembiayaan usaha kecil dan menengah (UKM).
Salah satu pelaku dalam pergeseran ini adalah Dima Djani, mantan banker investasi yang membangun Alami Group sebagai platform pembiayaan syariah berbasis teknologi, serta memimpin transformasi sebuah bank pembiayaan rakyat syariah menjadi Hijra Bank. Hingga kini, kedua entitas tersebut telah menyalurkan pembiayaan kumulatif lebih dari Rp4 triliun, menempatkannya sebagai bagian dari upaya Indonesia memperdalam ekosistem keuangan syariah nasional.
Dari Perbankan Global ke Peluang Domestik
Latar belakang profesional Dima Djani berbeda dari narasi startup pada umumnya. Ia mengawali karier di dunia perbankan internasional setelah menempuh pendidikan di Singapura dan Amerika Serikat, dengan fokus pada manajemen bisnis dan keuangan. Sekembalinya ke Indonesia, ia bergabung dengan Citibank Indonesia, menangani layanan corporate investment dan investment banking, termasuk klien korporasi besar dan BUMN.
Pengalaman tersebut diperluas saat ia bergabung dengan bank asal Prancis, Société Générale, yang kala itu tengah membangun divisi corporate investment banking di Indonesia. Dengan struktur organisasi yang ramping, ia terlibat langsung dalam berbagai fungsi, mulai dari pengembangan klien hingga penataan transaksi keuangan.
Paparan terhadap praktik perbankan internasional ini membentuk pendekatan yang kelak menjadi ciri khasnya: kehati-hatian struktural, penekanan pada tata kelola, serta pemahaman bahwa bisnis keuangan bertumpu pada kepercayaan.
Awal yang Tidak Linear
Alami didirikan pada awal 2018 bersama dua rekan pendiri. Berbeda dari persepsi publik, Alami tidak langsung beroperasi sebagai platform peer-to-peer lending. Model awalnya adalah agregator pembiayaan UKM, yang berfungsi melakukan kurasi dan penilaian calon debitur sebelum disalurkan ke bank syariah.
Model tersebut menghadapi kendala struktural. Pada periode tersebut, banyak bank di Indonesia masih memandang fintech sebagai kompetitor, bukan mitra. Akibatnya, integrasi berjalan terbatas dan sulit diskalakan.
Situasi ini mendorong perubahan strategi. Alami beralih menjadi platform peer-to-peer lending berbasis syariah, sebuah langkah yang menuntut kesiapan regulasi dan pemahaman mendalam atas dinamika pendanaan masyarakat. Perusahaan memperoleh izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2019.
Pertumbuhan di Tengah Ketidakpastian
Momentum Alami menguat selama pandemi Covid-19. Di saat banyak lembaga pembiayaan memperketat penyaluran kredit, pembiayaan Alami justru meningkat. Fokus pada pembiayaan produktif UKM dengan nilai menengah, serta penggunaan teknologi analitik data untuk menilai risiko, membantu menjaga kualitas portofolio.
Selain itu, meningkatnya minat terhadap produk keuangan syariah turut memperluas basis pengguna. Alami memposisikan diri sebagai penyedia pembiayaan bagi UKM yang membutuhkan dana relatif terbatas namun berkelanjutan, segmen yang sering kali berada di antara pembiayaan mikro dan korporasi.
Batas Model Fintech
Meski mencatat pertumbuhan, manajemen menilai model peer-to-peer lending memiliki keterbatasan struktural. Kapasitas pembiayaan sangat bergantung pada ketersediaan dana dari investor ritel dan institusional, sehingga ekspansi cepat dapat terhambat oleh kondisi pasar.
Pertimbangan ini mendorong Alami Group untuk mengevaluasi opsi masuk ke sektor perbankan. Setelah berkonsultasi dengan regulator dan praktisi industri, dipilihlah jalur akuisisi bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS), yang dinilai lebih fleksibel dibandingkan mendirikan bank umum dari awal.
Transformasi Menjadi Hijra Bank
Pada 2021, Alami Group mengakuisisi BPRS Cempaka Al-Amin, satu-satunya BPRS yang berbasis di Jakarta. Bank tersebut kemudian direbranding menjadi Hijra Bank.
Langkah ini menandai pergeseran dari pengembangan platform ke pembangunan institusi keuangan. Selain pembaruan merek, dilakukan pembenahan menyeluruh pada sistem operasional, struktur tata kelola, serta komposisi sumber daya manusia. Tim inti Alami dikombinasikan dengan profesional perbankan berpengalaman.
Saat diakuisisi, aset bank tercatat sekitar Rp12 miliar. Dalam beberapa tahun, aset tersebut meningkat menjadi mendekati Rp300 miliar, sementara dana pihak ketiga tumbuh dari sekitar Rp8 miliar menjadi sekitar Rp150 miliar. Jumlah nasabah kini melampaui 100 ribu akun.
Akses langsung terhadap dana pihak ketiga juga menurunkan biaya dana, yang menurut manajemen berada di kisaran 5 persen.
Integrasi Platform dan Bank
Alami dan Hijra Bank kini beroperasi secara terintegrasi. Di bawah ketentuan OJK, Alami dapat menyalurkan pembiayaan hingga Rp2 miliar per debitur, sementara Hijra Bank dapat memberikan pembiayaan hingga Rp10 miliar. Struktur ini memungkinkan grup melayani UKM pada berbagai tahap pertumbuhan.
Integrasi ini juga memungkinkan sinergi antara pendanaan, teknologi, dan basis nasabah, menciptakan ekosistem tertutup yang relatif efisien.
Dukungan Investor dan Minat Regional
Alami Group telah memperoleh pendanaan dari sejumlah modal ventura, termasuk Golden Gate Ventures, Ageti, Eas Venture, dan Kona. Pengamat industri menilai latar belakang profesional pendiri dan pendekatan tata kelola yang konservatif menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan investor.
Ke depan, manajemen menyebut adanya minat dari beberapa negara seperti Malaysia, Brunei, dan Turki. Meski demikian, belum ada pengumuman resmi terkait ekspansi regional.
Menjaga Keseimbangan Pertumbuhan dan Tata Kelola
Saat ini, fokus utama grup adalah memperkuat sistem internal, mengembangkan produk baru—dengan tetap menunggu persetujuan regulator—serta memperkuat budaya perusahaan yang selaras dengan prinsip syariah. Hijra Bank juga tengah mengembangkan pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, untuk meningkatkan efisiensi layanan.
Dalam industri yang kerap diwarnai pertumbuhan agresif, pendekatan Alami Group cenderung moderat. Manajemen menekankan bahwa ekspansi harus sejalan dengan penguatan tata kelola dan kualitas aset.
Jalur Bertahap dalam Ekosistem Keuangan Syariah
Perjalanan Alami Group dan Hijra Bank mencerminkan arah perkembangan keuangan syariah Indonesia yang semakin terintegrasi dengan teknologi dan regulasi. Alih-alih mendisrupsi sistem yang ada, grup ini memilih bekerja dari dalam, menggabungkan kelincahan fintech dengan disiplin perbankan.
Bagi Indonesia, yang tengah berupaya memperkuat posisinya dalam peta keuangan syariah global, pendekatan semacam ini berpotensi menjadi model alternatif. Keberlanjutan pertumbuhan ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara ambisi bisnis dan ketertiban institusional—tantangan yang lazim dihadapi pelaku jasa keuangan di kawasan Asia Tenggara.

