Pada pagi yang lembap di Medan—kota yang selalu bergerak di antara perdagangan, pelabuhan, dan percakapan warung kopi—industri baja mungkin bukan hal pertama yang terlintas di benak banyak orang. Namun justru dari kota inilah sebuah perusahaan manufaktur berat tumbuh pelan-pelan, nyaris tanpa hiruk-pikuk, hingga akhirnya menjadi salah satu pemain penting dalam rantai pasok industri bisnis konstruksi nasional. Namanya Growth Steel Group.
Kisah Growth Steel bukan kisah ledakan cepat ala startup teknologi, melainkan cerita tentang kesabaran industrial, tentang keluarga yang membangun usaha selama puluhan tahun dengan logika kerja keras dan disiplin, serta keyakinan bahwa bisnis yang kokoh dibangun dari proses panjang yang sering kali tak terlihat dari luar.
Dari Sebuah Bengkel Logam
Akar Growth Steel Group bermula pada 1964, ketika keluarga Fajar Suhendra menanamkan pijakan awal di industri pengolahan baja. Pada masa itu, Indonesia masih sangat bergantung pada impor komponen industri. Baja bukan sekadar komoditas; ia adalah simbol dari pembangunan yang belum sepenuhnya mandiri. Di tengah keterbatasan infrastruktur dan teknologi, keputusan untuk masuk ke sektor ini bukan keputusan yang romantis, melainkan penuh risiko.
Namun di situlah karakter kewirausahaan keluarga Suhendra terbentuk. Mereka tidak membangun bisnis dengan logika “cepat besar”, melainkan dengan pendekatan bertahap: memahami kebutuhan pasar, menguasai proses produksi, lalu memperluas kapasitas secara perlahan. Pertumbuhan, dalam konteks ini, benar-benar dimaknai secara harfiah.
Sejarah Growth Steel Group berakar pada langkah awal keluarga Fajar Suhendra yang mendirikan PT Growth Sumatra Industry, sebuah perusahaan pengolahan besi dan baja yang menjadi fondasi dari seluruh ekspansi bisnis grup ini di kemudian hari. Perusahaan tersebut secara resmi berdiri pada 23 April 1969 sebagai perseroan terbatas berstatus Penanaman Modal Dalam Negeri, dengan fokus awal pada aktivitas peleburan dan penggilingan baja. Berlokasi di kawasan industri Medan–Belawan, entitas ini sejak awal diarahkan untuk menjadi basis manufaktur baja yang mampu menjawab kebutuhan pembangunan nasional.
Pada fase awal operasinya, perusahaan masih beroperasi dalam skala terbatas dan bahkan sempat memproduksi peralatan rumah tangga sederhana seperti kuali dan wajan dengan teknologi yang minimal serta tenaga kerja sekitar 70 orang. Namun dalam waktu tiga tahun, manajemen mengambil keputusan strategis untuk meninggalkan lini tersebut dan beralih sepenuhnya ke industri rolling mill besi dan baja. Keputusan ini menandai pergeseran penting dari industri kecil ke manufaktur berat, sekaligus menunjukkan fleksibilitas bisnis dalam membaca peluang pertumbuhan jangka panjang.
Transformasi tersebut menjadi titik akselerasi. Dengan hanya satu unit dapur peleburan dan satu mesin penggiling pada awalnya, perusahaan secara bertahap memperluas kapasitas dan mengadopsi teknologi yang lebih maju. Investasi berkelanjutan dilakukan pada fasilitas produksi, termasuk pembangunan tanur busur listrik, ladle furnace, sistem conveyor baja, hingga continuous casting machine. Ekspansi fasilitas ini tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperbaiki efisiensi dan konsistensi kualitas produk baja yang dihasilkan.
Memasuki akhir dekade 1980-an, Growth Sumatra Industry telah beroperasi sebagai pabrik baja terintegrasi dengan skala industri penuh. Penambahan area pabrik yang signifikan serta peningkatan daya listrik terpasang mencerminkan lonjakan kapasitas operasional perusahaan. Dengan ribuan tenaga kerja yang terlibat, perusahaan berkembang menjadi salah satu pelaku industri baja terbesar di Sumatera Utara, menghasilkan berbagai produk baja panjang seperti besi beton, baja siku, baja strip, baja WF, dan wire rod yang menopang sektor konstruksi dan infrastruktur.
Seiring berjalannya waktu, perusahaan ini tidak hanya bertahan sebagai entitas tunggal, tetapi berevolusi menjadi bagian dari kelompok usaha dengan struktur multi-entitas dan multi-bisnis. Dalam sektor baja dan besi, Growth berkembang sebagai integrated steel mill yang memanfaatkan scrap metal sebagai bahan baku utama dan melayani pasar domestik maupun internasional. Model bisnis terintegrasi ini memberikan fleksibilitas pasokan, efisiensi biaya, serta daya saing global yang berkelanjutan.
Kini, dengan kantor pusat tetap berlokasi di Medan dan jaringan pemasaran di berbagai negara, Growth Steel Group dikenal sebagai salah satu pemain manufaktur dan foundry terkemuka di dunia. PT Growth Sumatra Industry, sebagai entitas awal, tetap memainkan peran strategis dalam rantai nilai grup dengan fokus pada produksi besi beton polos dan produk baja panjang lainnya. Dari fondasi lokal yang dibangun sejak akhir 1960-an, Growth telah berkembang menjadi perusahaan industri berskala internasional—sebuah perjalanan yang mencerminkan disiplin investasi, keberanian mengambil keputusan strategis, dan konsistensi dalam membangun bisnis manufaktur jangka panjang.
Kehadiran Growth Steel Group di berbagai negara mempertegas transformasinya dari produsen baja regional menjadi pemain industri global. Melalui jaringan kantor penjualan dan perwakilan di kawasan Asia Pasifik, Afrika, dan Amerika Latin—termasuk Australia, Afrika Selatan, Ghana, Peru, Chile, dan Tiongkok—perusahaan ini membangun kedekatan langsung dengan pasar akhir dan pengguna industri berat. Model kehadiran internasional ini memungkinkan Growth tidak hanya mengekspor produk, tetapi juga memahami kebutuhan spesifik tiap pasar, memperkuat layanan teknis, serta mengamankan posisinya dalam rantai pasok global baja dan manufaktur logam yang semakin kompetitif.
Juga Ekspansi Ke Jawa
Di luar pabrik-pabrik baja dan lini manufaktur yang telah lama identik dengan nama Growth Steel di Medan, terdapat babak lain dari kisah perusahaan ini yang tidak selalu berada di garis depan pemberitaan: perjalanan menyeberang ke Pulau Jawa. Langkah ini melahirkan sebuah unit usaha yang, dalam banyak hal, mencerminkan evolusi cara berpikir strategis keluarga Suhendra. Unit tersebut adalah PT Growth Java Industry, anak perusahaan yang berdiri di Cilegon, Banten, sebagai titik awal ekspansi menuju pasar domestik yang lebih luas—khususnya Indonesia bagian tengah dan timur—sekaligus sebagai respons terhadap perubahan regulasi dan kebutuhan industri nasional yang kian kompleks.
PT Growth Java Industry berdiri pada 2006, bukan sebagai perpanjangan ambisi semata, melainkan sebagai jawaban atas lanskap bisnis yang berubah cepat. Ketika arah kebijakan nasional mulai mendorong pengolahan mineral di dalam negeri sebelum ekspor, muncul pertanyaan mendasar di kalangan pelaku industri: bagaimana menciptakan nilai tambah yang nyata dari kekayaan alam. GJI hadir di titik persimpangan itu—bukan sekadar sebagai anak usaha baru, tetapi sebagai smelter modern yang mengubah bijih mineral menjadi Nickel Pig Iron dan Ferro Nickel bernilai industri tinggi.
Keputusan membangun fasilitas produksi di Cilegon dengan kapasitas sekitar 10.000 ton NPI dan FeNi per bulan bukanlah langkah teknis belaka. Ia mencerminkan pilihan ekonomi yang lebih luas: memindahkan Indonesia dari posisi pemasok bahan mentah menuju peran yang lebih strategis dalam rantai pasok global stainless steel. Di sini terlihat kecerdikan kewirausahaan Growth Steel—melihat sumber daya bukan hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai instrumen perubahan struktural dalam ekonomi nasional.
Ekspansi ini sekaligus menempatkan Growth Java Industry sebagai salah satu pelopor produksi Nickel Pig Iron dan Ferro Nickel di luar Tiongkok. Dalam konteks industri berat dunia, posisi ini bukan perkara kecil. Ia menunjukkan kemampuan adaptasi, ketepatan membaca pasar, dan fokus pada kebutuhan pengguna akhir yang semakin spesifik. GJI pun tidak berhenti pada satu lini produksi; rencana pengembangan Ferrosilicon menjadi bagian dari upaya memperluas kontribusi perusahaan terhadap industri baja modern yang menuntut material berkualitas tinggi dan konsisten.
Entrepreneurship yang Tidak Banyak Bicara
Berbeda dengan banyak konglomerasi yang tumbuh melalui ekspansi agresif dan eksposur publik, Growth Steel memilih jalan yang lebih senyap. Perusahaan ini berkembang lewat keputusan-keputusan teknis, bukan sensasi. Setiap lini usaha dibangun dengan alasan yang rasional—apakah ia memperkuat rantai pasok, menambah nilai produk, atau meningkatkan kontrol terhadap kualitas.
Pendekatan ini melahirkan struktur bisnis yang terintegrasi: dari steel mill, foundry, fastener manufacturing, hingga grinding media, rubber liner, dan energi biomassa. Diversifikasi bukan dilakukan untuk terlihat modern, melainkan sebagai cara bertahan dalam industri yang sangat sensitif terhadap siklus ekonomi global.
Di sinilah sisi entrepreneurship Growth Steel terasa paling nyata: kemampuan membaca risiko jangka panjang dan meresponsnya dengan struktur, bukan spekulasi.
Di balik citra baja yang keras dan berat, bisnis ini justru menuntut presisi dan kehalusan perhitungan. Produk Growth Steel—mulai dari mill liners hingga grinding media—harus memenuhi spesifikasi teknis yang sangat ketat. Kesalahan kecil dapat berarti kerugian besar bagi klien tambang atau pabrik pengolahan mineral.
Karena itu, reputasi Growth tidak dibangun melalui klaim, melainkan melalui keandalan. Dalam dunia industri global, nama perusahaan ini dikenal sebagai pemasok yang konsisten, dengan kapasitas besar dan kualitas stabil. Dari Medan, produk-produk mereka bergerak ke tambang-tambang di Afrika, Australia, Amerika Latin, hingga Asia Timur—mengisi ruang-ruang industri yang jarang disorot, tetapi vital bagi ekonomi dunia.
Bisnis Keluarga yang Menjadi Institusi
Sebagai perusahaan keluarga, Growth Steel menempuh jalan yang tidak selalu mudah. Tantangan regenerasi, profesionalisme, dan tata kelola menjadi isu yang tak terhindarkan. Namun alih-alih terjebak dalam romantisme pendiri, perusahaan ini justru membangun sistem yang memungkinkan nilai-nilai keluarga berjalan seiring dengan manajemen modern.
Keluarga Suhendra mempertahankan peran strategisnya, anak-anak dari Fajar Suhendra sudah aktif mengelola bisnis. Tetapi memberi ruang bagi profesionalisme operasional. Model ini memungkinkan Growth bertumbuh bukan hanya sebagai bisnis keluarga, melainkan sebagai institusi industri—sesuatu yang jarang berhasil dicapai banyak perusahaan sejenis.
Dalam beberapa tahun terakhir, Growth Steel juga bergerak ke wilayah yang semakin relevan: keberlanjutan. Investasi pada pembangkit listrik biomassa dan efisiensi energi bukan sekadar respons terhadap tren global, melainkan refleksi dari logika industri jangka panjang. Energi, seperti baja, adalah fondasi. Menguasainya berarti mengurangi ketergantungan dan meningkatkan daya tahan.
Di tingkat sosial, perusahaan ini membangun relasi dengan komunitas lokal, pendidikan vokasi, dan pengembangan tenaga kerja. Pendekatan ini tidak dibuat dengan bahasa korporasi yang berlebihan, melainkan dijalankan sebagai bagian dari siklus industri: pabrik membutuhkan manusia terampil, dan manusia terampil membutuhkan kesempatan.
_________________
