Di balik menjulangnya nama Adaro Group yang belakangan menjadi salah satu konglomerasi energi terbesar di Indonesia dan tiap hari selalu disebut-sebut media massa, terdapat sebuah kisah klasik dunia bisnis: sekelompok investor cerdas yang mampu membaca momentum, bersabar mengeksekusi strategi, dan berani mengambil keputusan besar ketika peluang masih dipandang sebelah mata. Adaro tidak lahir dari satu figur tunggal dengan kharisma dominan, melainkan dari kolaborasi lima pelaku bisnis dengan latar belakang kuat, jaringan luas, dan disiplin investasi yang tajam.
Kelima tokoh tersebut adalah Edwin Soeryadjaya, Sandiaga Salahuddin Uno, Theodore Permadi Rachmat, Benny Subianto, serta keluarga Thohir yang diwakili oleh Garibaldi Thohir atau Boy Thohir. Mereka adalah pendiri Adaro yang brilian, yang melihat peluang dan kemudian berani merealisasikanya. Sebelum memiliki Adaro, masing-masing sudah punya pengalaman bisnis. Mereka punya pengalaman, perspektif, dan kapasitas manajerial yang saling melengkapi. Kombinasi inilah yang kemudian membentuk fondasi kuat bagi transformasi Adaro dari perusahaan tambang batubara yang relatif undervalued menjadi raksasa energi terintegrasi.
Pada saat mereka masuk, Adaro belum berada di posisi yang sekuat sekarang. Bahkan, jika ditarik ke masa awal akuisisi, bisnis-bisnis para pendirinya pun belum berkembang sebesar hari ini. Namun justru di titik itulah kecermatan mereka terlihat: mereka masuk bukan saat valuasi sudah mahal, melainkan ketika potensi jangka panjang masih belum sepenuhnya tercermin dalam harga.
Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno, melalui Saratoga Capital, dikenal sebagai investor strategis yang menanamkan modalnya di berbagai bidang bisnis dengan modal dipercaya banyak investor luar negeri. . Saratoga adalah investor strategis yang cermat memilih perusahaan untuk ditanami modal, dan mereka benar-benar menjadi value creator yang aktif dalam membangun perusahaan portofolio. Masuknya Saratoga ke Adaro juga dilakukan dengan pendekatan itu. Mereka punya keyakinan kuat terhadap prospek energi, khususnya batubara, pada fase siklus komoditas yang sedang menanjak.
Sementara itu, Theodore Permadi Rachmat membawa pengalaman kelas berat dari Astra Group. Sebagai mantan CEO Astra dan pendiri Triputra Group, Teddy Rachmat dikenal sebagai figur yang sangat disiplin dalam tata kelola, manajemen risiko, dan pembangunan bisnis berkelanjutan. Ia adalah CEO legendaris Astra yang punya andil besar dalam membesarkan Group Astra yang didirikan pamannya, William Soeryajaya. Kontribusinya dalam pengembangan sistem dan fondasi bisnis Astra sangat kuat.
Benny Subianto, mantan Wakil Presiden Direktur Astra Group sekaligus pendiri Persada Capital, melengkapi formasi dengan keahlian finansial dan strukturisasi investasi. Ia adalah ahli keuangan dengan insting bisnis yang kuat. Pria asal Madura ini sangat berpengalaman dalam membangun dan mengelola portofolio industri berskala besar menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi agresif dan kehati-hatian finansial. Ia dulu juga turut membesarkan United Tractor Group dan merupakan teman bisnis setia dari Theodore Permadi Rachmat (Teddy) dimanapun. Teddy sangat trust dengan Benny.
Keluarga Thohir, yang diwakili oleh Boy Thohir, anak dari Tedy Thohir (salah satu tokoh senior Astra dalam masa perintisan Astra) membawa kekuatan jaringan global, akses pembiayaan internasional, serta kemampuan membangun kemitraan lintas negara. Boy Thohir dikenal piawai dalam menghubungkan kepentingan bisnis domestik dengan pasar dan investor global. Peran ini menjadi semakin relevan ketika Adaro mulai menatap ekspansi lintas sektor dan lintas energi. Sejak awal karir bisnis Boy memang sangat suka bisnis tambang. Bahkan sebelum mendirikan Adaro, ia juga sudah punya bisnis tambang sendiri bersama keluarganya, TNT Group.
Kesamaan visi kelima pendiri ini terletak pada satu hal krusial: keberanian mengambil keputusan akuisisi di saat yang tepat. Mereka melihat bahwa saat itu industri batubara tengah berada dalam fase yang menjanjikan, dengan permintaan global yang kuat dan ruang efisiensi operasional yang masih luas. Alih-alih sekadar menikmati siklus harga, mereka memilih masuk secara intensif dan membangun skala.
Setelah akuisisi, fokus mereka tidak berhenti pada eksploitasi sumber daya. Adaro dikembangkan sebagai platform energi terintegrasi. Investasi diarahkan pada peningkatan efisiensi tambang, pembangunan infrastruktur pendukung, serta penguatan rantai nilai dari hulu ke hilir. Pendekatan ini membuat Adaro lebih tahan terhadap fluktuasi siklus komoditas.
Keberanian lima pendiri Adaro Group terletak pada keputusan yang pada masanya justru dipandang tidak populer. Ketika sebagian besar investor masih ragu dan minat terhadap aset tambang batubara belum sebesar sekarang, mereka memilih melangkah masuk. Tambang yang diakuisisi saat itu bukanlah aset primadona, bahkan cenderung dianggap berisiko dan kurang menarik. Namun kelima pendiri ini melihat sesuatu yang luput dari perhatian banyak pihak: potensi cadangan jangka panjang, peluang efisiensi operasional, serta prospek permintaan energi yang akan terus tumbuh. Keputusan akuisisi tersebut lahir dari analisis mendalam, bukan spekulasi, dan menunjukkan keberanian untuk berbeda dari arus utama.
Setelah peluang itu terlihat, kerja keras menjadi kunci berikutnya. Mereka tidak berhenti pada kepemilikan saham, melainkan terlibat aktif membangun fondasi bisnis yang kuat. Investasi diarahkan pada perbaikan tata kelola, penguatan manajemen, pembangunan infrastruktur, serta peningkatan produktivitas tambang. Mimpi untuk menjadikan Adaro sebagai pemain energi berskala besar diwujudkan melalui disiplin eksekusi dan konsistensi strategi. Dari aset yang semula kurang diminati, mereka membuktikan bahwa visi yang jelas dan kerja keras yang terukur mampu mengubah peluang menjadi bisnis bernilai tinggi dan berkelanjutan.
Langkah strategis berikutnya adalah diversifikasi. Adaro tidak ingin selamanya bergantung pada batubara. Ekspansi ke bisnis pembangkit listrik menjadi jembatan penting, memperluas peran perusahaan dari sekadar penambang menjadi penyedia solusi energi. Dalam beberapa tahun terakhir, arah ini semakin diperkuat dengan masuknya Adaro ke sektor energi terbarukan, sebuah sinyal bahwa perusahaan membaca perubahan lanskap energi global dengan serius.
Keputusan untuk masuk ke renewable energy bukanlah langkah kosmetik. Ini adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga relevansi dan keberlanjutan bisnis. Dengan portofolio yang semakin seimbang antara energi fosil dan energi bersih, Adaro memposisikan diri sebagai pemain yang adaptif terhadap transisi energi, tanpa meninggalkan kekuatan utamanya.
Yang menarik, kesuksesan Adaro juga berbanding lurus dengan pertumbuhan bisnis para pendirinya. Investasi mereka di Adaro bukan hanya menghasilkan imbal hasil finansial yang signifikan, tetapi juga memperkuat reputasi dan kapasitas mereka sebagai konglomerat baru Indonesia. Dari Saratoga, Triputra, Persada Capital, hingga Thohir Group, seluruh entitas tersebut berkembang pesat seiring dengan melesatnya nilai Adaro.
Kisah Adaro Group pada akhirnya adalah studi kasus tentang kolaborasi strategis. Tidak ada ego tunggal yang mendominasi, tidak ada langkah spekulatif tanpa perhitungan. Yang ada adalah kesabaran, disiplin, dan keberanian untuk bertindak ketika peluang muncul. Lima pengusaha ini memahami bahwa dalam dunia investasi, waktu dan keputusan sering kali lebih menentukan daripada sekadar modal.
Di tengah dinamika global energi yang terus berubah, fondasi yang dibangun oleh lima serangkai ini membuat Adaro tidak hanya besar, tetapi juga relevan. Dari tambang batubara hingga pembangkit listrik dan energi terbarukan, Adaro berdiri sebagai bukti bahwa kejelian membaca peluang, jika dipadukan dengan eksekusi yang cermat, dapat melahirkan konglomerasi yang berkelanjutan dan penuh cuan.
_______________

