Sebuah klinik kecil di kawasan Tanjung Priok pada awal 1970-an barangkali tidak pernah dibayangkan akan menjadi fondasi bagi sebuah kelompok usaha kesehatan yang bertahan lintas generasi. Namun dari ruang praktik sederhana itulah almarhum dr. H. Sismadi Partodimulyo Sp.B, MBA menanamkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar layanan medis: sebuah visi tentang kesehatan sebagai ladang pengabdian sekaligus ruang kewirausahaan yang dikelola dengan disiplin dan nilai.
Didirikan pada tahun 1971, klinik mandiri pertama dr. Sismadi lahir dari kepedulian terhadap kondisi kesehatan masyarakat di sekitar pelabuhan Tanjung Priok. Di masa ketika akses layanan medis masih terbatas dan negara belum sepenuhnya mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, klinik ini menjadi jawaban konkret—bukan retorika—atas kebutuhan kesehatan warga. Bagi dr. Sismadi, praktik medis tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu diposisikan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial sekaligus fondasi ekonomi yang sehat.
Tiga dekade kemudian, pengalaman panjang tersebut memperlihatkan satu kenyataan: tantangan dunia kesehatan tidak lagi bisa dijawab dengan skala kecil dan pendekatan individual. Industri kesehatan menuntut tata kelola, profesionalisme, serta keberanian berinvestasi. Maka pada 13 Agustus 2003, keluarga besar dr. Sismadi mendirikan PT Sisma Medika Internasional, sebagai kendaraan korporasi untuk memperluas kontribusi mereka di sektor kesehatan Indonesia.
Keputusan ini menandai transisi penting: dari praktik klinik keluarga menjadi bisnis kesehatan terstruktur. Dari sinilah Sismadi Group berkembang menjadi jaringan rumah sakit, klinik, institusi pendidikan kesehatan, laboratorium, apotek, hingga layanan penunjang lainnya. Rumah sakit seperti RS Harum Sisma Medika, RS Sukmul Sismamedika, dan RS Delima Asih Sisma Medika bukan hanya simbol ekspansi fisik, melainkan representasi dari cara pandang baru terhadap pelayanan kesehatan yang berkelanjutan.
Dari Klinik Keluarga ke Organisasi Profesional
Yang membedakan Sismadi Group dari banyak bisnis keluarga lain bukan sekadar lamanya usia usaha, melainkan keberanian untuk membatasi peran keluarga sendiri. Sekitar 90 persen posisi strategis di seluruh lini bisnis diisi oleh profesional. Anak-anak pendiri tidak otomatis mendapat jabatan, tidak pula memperoleh hak istimewa hanya karena nama belakang mereka.
Langkah ini bukan kebetulan. Menjelang akhir hayatnya, dr. Sismadi telah mempersiapkan struktur tata kelola untuk meminimalkan konflik antargenerasi. Ia mendirikan PT Sismadi Mancorpindo, sebuah entitas pengelola yang bertugas mengelola unit-unit usaha secara profesional. Bagi keluarga Sismadi, perusahaan ini bukan holding dalam pengertian struktural, melainkan managing company—mirip trustee company di luar negeri—yang bekerja atas mandat, bukan garis darah.
Hanya dua anggota keluarga yang berada di jajaran direksi, salah satunya Dr. Priyanto Sismadi, MM, yang kini memegang peran sebagai Presiden Direktur Sismadi Group. Itu pun bukan tanpa proses. Adik laki-lakinya baru bergabung setelah melalui seleksi ketat dan penilaian komite independen. Saudara kandung, ipar, bahkan cucu pendiri tidak bisa serta-merta masuk ke manajemen, apalagi memegang kendali operasional.
Prinsipnya sederhana namun tegas: kompetensi mendahului hubungan keluarga. Bahkan untuk sekadar praktik sebagai dokter di jaringan rumah sakit Sismadi, anggota keluarga harus melalui proses panjang hingga dianggap layak secara profesional. Bagi dr. Sismadi, ini bukan soal keras atau tidak, melainkan soal menjaga keberlangsungan bisnis yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Pola ini juga terlihat dari bagaimana anak-anak keluarga Sismadi dibesarkan. Sejak kecil mereka didorong untuk mandiri, bahkan belajar berdagang dan bekerja teknis di luar dunia medis. Priyanto Sismadi—yang akrab dipanggil Totok—pernah diminta ayahnya belajar di bengkel, memahami cara memperbaiki aki, dan mengenal dunia kerja dari bawah. Bukan untuk menjadikannya montir, tetapi untuk membentuk intuisi usaha dan rasa hormat terhadap kerja keras.
Anak perempuan pun diberi ruang untuk berkembang, meski tetap dalam batas nilai keluarga. Salah satu putri dr. Sismadi sempat dipercaya menduduki posisi General Manager di PT Sismadi Mancorpindo. Namun ketika ayahnya menilai karakter kepemimpinannya terlalu dominan dan berpotensi menimbulkan friksi, keputusan diambil dengan tenang: posisi itu dihentikan. Bagi dr. Sismadi, kepemimpinan bukan sekadar ambisi, melainkan keseimbangan antara peran, nilai, dan tanggung jawab keluarga.
Bisnis Kesehatan sebagai Jalan Panjang
Hari ini, Sismadi Group menaungi puluhan entitas usaha dengan ragam aktivitas—mulai dari rumah sakit, klinik, laboratorium (Sisma Lab), apotek (Sisma Farma), hingga unit pendidikan seperti Akademi Kebidanan Sismadi. Semua itu bergerak dalam satu benang merah: pelayanan kesehatan yang terintegrasi dan berorientasi jangka panjang.
Menariknya, meski bisnis ini tumbuh rata-rata 20–30 persen per tahun, manajemen tidak sepenuhnya puas. Struktur pembiayaan yang konservatif—dengan pinjaman relatif kecil dibanding omzet—justru menjadi bahan refleksi internal. Bagi Priyanto Sismadi, pertumbuhan yang sehat tetap membutuhkan keberanian mengambil risiko finansial secara terukur. Bisnis, bagaimanapun, harus bergerak, bukan sekadar aman.
Di tengah dinamika industri kesehatan yang semakin kompleks—regulasi ketat, tekanan biaya, dan tuntutan mutu—Sismadi Group memilih fokus pada pengembangan sumber daya manusia. Program pelatihan internal, seminar kesehatan, hingga keterlibatan aktif dalam layanan BPJS menjadi bagian dari strategi menjaga relevansi sekaligus kepercayaan publik.
Apa yang dilakukan keluarga Sismadi pada akhirnya mencerminkan filosofi kewirausahaan yang jarang disorot: bahwa bisnis keluarga tidak harus diwariskan sebagai kekuasaan, tetapi sebagai sistem nilai. Bahwa kepemilikan tidak selalu berarti kendali. Dan bahwa dalam industri kesehatan, keberlanjutan hanya mungkin tercapai jika profesionalisme dijaga setinggi standar etika.
Dari sebuah klinik kecil di Tanjung Priok hingga jaringan layanan kesehatan yang tersebar di berbagai wilayah, Sismadi Group menempuh jalan panjang yang tidak selalu lurus. Namun justru di situlah kekuatannya. Di dunia usaha yang sering tergoda pertumbuhan instan, kisah ini menjadi pengingat bahwa membangun bisnis—terutama bisnis yang menyentuh kehidupan manusia—adalah maraton, bukan lari cepat.
