Boleh dibilang, bisnis jahitlah yang mengantarnya ke jenjang sukses. Bisnis ini berkembang pesat hingga menjadi industri konveksi (garmen). Bahkan di Medan, bukan rahasia lagi, pusat seragam sekolah, seragam olah raga, pakaian adat dan busana muslim terbesar berada di Plaza Gelora.
Di kompleks itu, terdapat gerai-gerai layaknya supermarket dan industri konveksi dengan tukang jahit tak kurang dari 200 orang. Singkatnya, karena usaha jahitan itu membesar, awal 1990-an Masri bisa membangun kompleks plaza di lokasi itu. “Saya bersyukur, menjadi satu-satunya pengusaha pribumi yang punya plaza di Medan ini,” ujar ayah tujuh anak yang masih berbadan tegap ini.
Yang paling menarik dari sekian kisah bisnis Masri adalah Hotel Madani. Ketika akan mendirikan hotel dengan 173 kamar yang berkonsep syariah dua tahun lalu, banyak yang skeptis hotel itu akan laku. Termasuk, beberapa ulama Jakarta tempat Masri berkonsultasi.
Maklum, berbeda dari kebanyakan hotel syariah yang awalnya hotel konvensional, Hotel Madani sejak awal menerapkan sistem syariah secara ketat. Tamu bukan suami-istri tidak boleh menginap sekamar. Screening dan pengawasan dilakukan serius baik melalui pegawai hotel maupun alat keamanan.
Aturan bagi tamu hotel bahkan ditulis besar di lobi. Tidak ada alkohol. Penyanyi perempuan di lounge hotel pun wajib pakai jilbab. “Enam bulan pertama ujian kami berat. Kami banyak mengeluarkan tamu dari hotel,” ungkap Masri seraya menjelaskan, hotelnya diresmikan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla.
Rupanya, di 6 bulan pertama banyak tamu yang coba-coba melanggar atau tidak tahu sama sekali aturan tersebut sehingga walau awalnya datang sendirian, tetapi tengah malam mengajak teman lawan jenis bukan suami-istri untuk menginap sekamar. Untuk itu, Masri bahkan sempat memberi ganti rugi dan pernah juga ada tamunya yang marah.
Namun, dia memang punya prinsip ingin membangun hotel yang berbeda. “Saya yakin Tuhan akan memberi jalan. Kalaupun Tuhan marah kepada saya, masak iya Tuhan juga marah kepada karyawan saya dengan tidak memberi mereka makan,” katanya yakin.
Keyakinan itu tak bertepuk sebelah tangan karena occupancy rate Madani terbilang paling tinggi di Medan. Dari 173 kamar, setiap hari setidaknya 150 kamar terisi. Awalnya, manajemen Madani memprediksikan cash flow dan keuntungan baru akan positif setelah dua tahun.
Ternyata, pada dua bulan pertama langsung positif dan Masri sama sekali tak pernah menyubsidi hotel ini. Yang juga menarik, tamunya bukan hanya muslim, tetapi juga nonmuslim, baik kalangan Tionghoa maupun ekspat. “Rupanya para istri dan keluarga merasa lebih aman kalau keluarganya menginap di hotel ini ketika di Medan,” ujarnya seraya mengungkapkan, untuk membangun hotel ini diperlukan modal Rp 200 miliar di luar tanah.
Yang juga melegakan, lanjut Masri, selain sering full booked, kini brand hotel-nya sebagai hotel berkonsep syariah sudah dikenal semua pelaku bisnis wisata Medan dan beberapa kota lain sehingga pihaknya tak perlu mengeluarkan tamu lagi karena tak ada lagi tamu yang melanggar aturan hotel.
Bagi Masri, keberadaan Hotel Madani merupakan catatan sejarah yang menarik. Di depan Hotel Madani itulah (dulu belum dibangun hotel) dirinya pertama menginjakkan kaki di Medan sebagai perantau “ ketika itu, di sebelahnya memang lokasi stasiun bus antar-kota“ dan kini properti itu menjadi miliknya.
Ya, perjalanan hidup memang sering tak terduga.