![]() |
| Lili Mulyadi Susanto, pengusaha sukses Bandung bidang industri kertas |
Di tengah hiruk-pikuk industri manufaktur nasional, nama PT Alkindo Naratama Tbk mungkin tidak sering terdengar di ruang publik seluas perusahaan konsumer. Namun bagi pelaku industri kertas, kemasan, dan manufaktur penunjang, Alkindo adalah pemain yang tak bisa dipandang sebelah mata. Dengan omzet bersih yang telah menembus sekitar Rp1,1 triliun per tahun, perusahaan yang bermarkas di Kawasan Industri Cimareme, Bandung Barat ini menjadi bukti nyata bahwa bisnis yang dirintis dari skala kecil, dikelola dengan ketekunan, dan dikembangkan dengan visi jangka panjang dapat tumbuh menjadi kekuatan industri nasional.
Kesuksesan Alkindo tidak hadir secara instan. Ia merupakan akumulasi dari perjalanan panjang seorang pengusaha Bandung bernama Lili Mulyadi Susanto, sosok yang memulai langkah bisnisnya dari aktivitas paling dasar di industri kertas, jauh sebelum istilah startup, scaling up, atau unicorn menjadi jargon populer.
Lili Mulyadi lahir di Bandung pada 10 April 1955. Sejak muda, ia sudah akrab dengan dunia usaha, khususnya yang berkaitan dengan kertas. Awal perjalanan bisnisnya terbilang sederhana. Ia memulai dari usaha membuat kertas kado dan memotong kertas stensil, sebuah aktivitas yang kala itu banyak dibutuhkan sekolah, instansi pemerintah, serta toko-toko alat tulis. Skala usahanya kecil, peralatannya terbatas, dan proses produksinya mengandalkan ketekunan manual.
Kesibukan merintis usaha bahkan membuat Lili tidak sempat menuntaskan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Namun keputusan itu bukan karena menyerah pada pendidikan, melainkan karena fokus dan tekad kuat untuk membangun usaha. Sejak awal, ia percaya bahwa pembelajaran nyata di lapangan bisnis akan menjadi “universitas” yang membentuk mental, disiplin, dan naluri kewirausahaan.
Modal utama Lili Mulyadi bukanlah uang besar, melainkan kemauan yang kuat, etos kerja tinggi, serta komitmen untuk menghasilkan produk dengan kualitas terbaik. Ia menekuni usaha pemotongan kertas stensil dengan sungguh-sungguh, mendistribusikannya langsung ke konsumen, dan menjaga kepercayaan pelanggan satu demi satu. Usaha kecil itu ia jalani dengan konsisten, cukup untuk membuat bisnisnya bertahan dan perlahan tumbuh.
Titik penting dalam perjalanan bisnis Lili terjadi sekitar tahun 1989. Saat itu, Bandung dikenal sebagai salah satu pusat industri tekstil nasional. Pabrik-pabrik benang dan tekstil bermunculan, dan dari sanalah Lili melihat peluang baru yang tidak semua orang sadari. Industri tekstil membutuhkan gelendong atau inti gulungan benang yang sebagian besar terbuat dari kertas, dikenal sebagai papertube.
Permintaan terhadap produk konversi kertas untuk industri tekstil saat itu sangat tinggi. Lili membaca peluang tersebut dengan jeli. Ia menyadari bahwa kebutuhan ini bersifat berkelanjutan dan terikat langsung dengan aktivitas produksi industri besar. Dengan keberanian khas pengusaha perintis, Lili memutuskan untuk masuk ke bisnis konversi kertas, sebuah langkah strategis yang mengubah skala usahanya secara signifikan.
Untuk mengeksekusi peluang ini, Lili tidak berjalan sendiri. Ia bersinergi dengan Herwanto Sutanto, partner bisnis yang hingga kini menjadi rekan strategisnya. Kolaborasi keduanya melahirkan PT Alkindo Naratama, perusahaan yang fokus memproduksi papertube untuk memenuhi kebutuhan industri benang dan tekstil. Sinergi ini menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan Alkindo ke depan.
Karakter keduanya saling melengkapi. Lili dikenal memiliki kepekaan tinggi dalam membaca peluang bisnis serta pengalaman panjang di industri kertas, sementara Herwanto kuat di sisi pemasaran, operasional, dan produksi. Kombinasi ini membuat Alkindo tidak hanya tumbuh secara volume, tetapi juga secara manajerial dan strategis.
Papertube yang diproduksi Alkindo dibuat dari kertas karton inti berbasis daur ulang. Seiring perkembangan teknologi mesin tekstil dan kebutuhan industri, spesifikasi papertube pun berkembang. Alkindo menyesuaikan produknya dengan berbagai ketebalan, ukuran, dan warna, menunjukkan fleksibilitas produksi yang menjadi salah satu kekuatan perusahaan.
Perjalanan Alkindo tidak berhenti pada satu jenis produk. Dengan visi jangka panjang, manajemen terus melakukan diversifikasi. Pada tahun 2007, Alkindo mulai memproduksi honeycomb paper, papercore, serta edge protector atau pelindung tepi. Produk-produk ini memiliki aplikasi luas, mulai dari kemasan fleksibel, karton bergelombang, aluminium foil, hingga perlindungan barang elektronik, furnitur, dan barang pecah belah.
Honeycomb paper yang diproduksi Alkindo dikenal karena struktur sarang lebahnya yang ringan namun kuat, menjadikannya solusi kemasan ramah lingkungan sekaligus efisien. Selain itu, Alkindo juga memproduksi berbagai jenis kemasan berbasis kertas, seperti box kue, nampan kertas, mangkuk kertas, gelas kertas, dan kemasan makanan lainnya. Diversifikasi ini membuat Alkindo tidak tergantung pada satu sektor industri saja.
Secara fisik, pertumbuhan Alkindo tercermin dari ekspansi fasilitas produksinya. Awalnya, perusahaan hanya memiliki satu pabrik di Cimareme dengan luas lahan sekitar 1,96 hektare dan bangunan 1,67 hektare untuk produksi papertube. Seiring meningkatnya permintaan dan ragam produk, pada tahun 2010 Alkindo membangun pabrik kedua di area yang berdekatan.
Pabrik baru tersebut berdiri di atas lahan seluas 4,3 hektare dengan bangunan sekitar 1,63 hektare, difokuskan untuk produksi honeycomb, papercore, edge protector, dan berbagai varian produk kertas lainnya. Investasi ini menegaskan keseriusan Alkindo dalam membangun kapasitas jangka panjang, bukan sekadar mengejar pertumbuhan sesaat.
Dari sisi pasar, Alkindo tidak hanya bermain di dalam negeri. Produk-produknya telah menembus pasar ekspor, memperkuat posisi perusahaan sebagai pemain industri kertas konversi yang berdaya saing global. Strategi ekspor ini juga menjadi bantalan penting ketika pasar domestik mengalami fluktuasi.
Langkah strategis besar berikutnya dilakukan pada tahun 2018. Untuk memperkuat struktur usaha dan mengamankan pasokan bahan baku, Alkindo mengakuisisi PT Eco Paper Indonesia dengan nilai transaksi sekitar Rp198 miliar. Perusahaan ini sebelumnya memasok sekitar 20% kebutuhan bahan baku kertas Alkindo. Akuisisi tersebut menjadikan Alkindo sebagai perusahaan kertas konversi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Selain PT Eco Paper Indonesia, Alkindo juga memiliki dua anak usaha lainnya. PT Alfa Polimer Indonesia, yang didirikan pada tahun 2007, bergerak di bidang perekat berbasis air dan bahan kimia khusus untuk berbagai aplikasi industri dengan merek seperti Alfachem dan AlfaBond. Sementara PT Swisstex Naratama Indonesia berfokus pada distribusi bahan kimia untuk industri benang dan tekstil, melayani pelanggan besar seperti Famatex, Sri Rejeki Isman, Tyfountex Indonesia, Tokai Texprint Indonesia, hingga Argo Pantes.
Kinerja anak-anak usaha ini terus menunjukkan pertumbuhan, baik dari sisi penjualan maupun laba bersih, memperkuat fondasi grup Alkindo secara keseluruhan.
- Rahasia Sukses Pemasaran MS Glow
- Kiat Sukses Manajemen Rumah Sakit Hermina Group
- Berguru Kepada Pendiri Nutrisari & Tropicana Slim
- Tip Sukses Memasarkan Produk Alkes
Kisah Lili Mulyadi Susanto dan Alkindo adalah refleksi nyata tentang pentingnya kesabaran, keberanian mengambil peluang, dan kemampuan beradaptasi. Dari usaha kertas kado berskala kecil, Alkindo tumbuh menjadi perusahaan publik dengan omzet triliunan rupiah. Perjalanan ini menegaskan bahwa bisnis manufaktur, yang sering dianggap kurang “seksi”, justru menyimpan potensi besar ketika dikelola dengan visi dan disiplin.
Di tengah tantangan global dan persaingan industri yang semakin ketat, Alkindo menunjukkan bahwa pengusaha lokal dengan akar kuat di daerah, seperti Bandung, mampu membangun perusahaan nasional yang tangguh dan berorientasi jangka panjang. Sebuah pelajaran berharga bagi generasi wirausaha Indonesia: besar itu bukan soal seberapa cepat memulai, melainkan seberapa konsisten bertahan dan berkembang.

