Kisah Sukses UBS Gold: Dari Toko Emas hingga Merajai Bisnis Perhiasan Emas Indonesia

bintangbisnis

Ada masa ketika bisnis keluarga ini bahkan belum berbentuk perseroan terbatas. Di Surabaya, keluarga asal Purworejo itu memulai perjalanan dengan sebuah toko emas di Pasar Tambahrejo pada 1975, sebelum kemudian beralih dari sekadar berdagang menjadi membuat sendiri perhiasan yang mereka jual. Dari sebuah usaha kecil yang bertumpu pada keterampilan tangan, keluarga tersebut perlahan membangun apa yang kelak dikenal sebagai PT Untung Bersama Sejahtera atau UBS Gold. Perjalanan itu menunjukkan bahwa kerajaan bisnis emas ini tidak lahir dari modal besar, melainkan dari keberanian keluarga untuk masuk ke sisi produksi dan terus memperbaiki kualitas.

Dari Toko Emas Menjadi Pabrik Perhiasan

Kisah UBS bermula dari keluarga Giam atau Sugianto yang berasal dari Purworejo, Jawa Tengah. Dalam sejumlah catatan mengenai sejarah perusahaan, sang ayah sebelumnya bekerja sebagai guru sementara sang ibu berdagang hasil bumi, sebelum keuntungan dari usaha tersebut digunakan untuk membuka toko emas. Toko di Pasar Tambahrejo menjadi pintu pertama keluarga ini memasuki industri yang kemudian mereka geluti selama lebih dari empat dekade. Mereka belajar bahwa margin terbesar dalam bisnis emas bukan hanya berada di aktivitas jual-beli, melainkan juga pada kemampuan menciptakan produk sendiri.

Titik balik terjadi pada 1981 ketika keluarga tersebut mulai membuat dan mendesain sendiri perhiasan emas yang dipasarkan dari kawasan Bangil, Jawa Timur. Pada fase awal, proses produksinya masih sederhana dan sangat bergantung pada keterampilan manusia. Perusahaan kemudian berkembang sebagai industri rumahan dengan tenaga kerja dan kemampuan produksi yang terus bertambah. Di sinilah karakter UBS mulai terbentuk: bisnis keluarga yang memahami pasar dari sisi pedagang sekaligus memahami produk dari sisi manufaktur.

Perubahan tersebut terlihat sederhana, tetapi secara bisnis sangat menentukan. Dengan memproduksi sendiri, UBS memperoleh kendali lebih besar atas desain, kualitas, kadar emas, biaya produksi dan kecepatan mengikuti perubahan selera konsumen. Kemampuan tersebut kemudian menjadi fondasi bagi ekspansi yang jauh lebih besar. Perusahaan yang awalnya menjual produk di pasar domestik mulai memiliki kemampuan untuk membangun portofolio desain sendiri. Perlahan, UBS tidak lagi sekadar menjadi toko emas yang menjual barang orang lain, tetapi berubah menjadi perusahaan manufaktur yang menciptakan produknya sendiri.

Pada 1991, badan usaha yang sebelumnya berbentuk CV berubah menjadi perseroan terbatas dengan nama PT Untung Bersama Sejahtera. Transformasi tersebut menandai fase ketika bisnis keluarga mulai memasuki bentuk organisasi yang lebih modern. Pada perkembangan berikutnya, teknologi menjadi bagian penting dari strategi produksi UBS. Ratusan mesin didatangkan dari Italia, salah satu pusat teknologi dan desain perhiasan dunia, untuk memperkuat kemampuan manufakturnya.

Namun teknologi saja tidak cukup untuk membuat sebuah perusahaan emas bertahan. UBS harus menggabungkan mesin dengan tenaga manusia yang memiliki keahlian artistik dan ketelitian tinggi. Dalam bisnis perhiasan, sedikit perbedaan pada bentuk, finishing, kadar atau detail dapat menentukan apakah sebuah produk terlihat premium atau biasa saja. Karena itu, UBS membangun kombinasi antara craftsmanship dan industrial manufacturing yang kemudian menjadi salah satu kekuatan utamanya. Filosofi tersebut masih terlihat dalam cara perusahaan menggambarkan proses produksinya sebagai perpaduan material berkualitas, teknologi, tenaga kerja terampil dan perhatian terhadap detail.

Salah satu langkah teknologi yang menjadi bagian penting dari sejarah UBS adalah penggunaan teknik casting atau pengecoran. Teknik tersebut menggunakan cetakan berbasis lilin untuk menghasilkan perhiasan dengan bentuk presisi dan meminimalkan sambungan atau patri pada produk tertentu. UBS mempelajari teknik tersebut dari Taiwan dan kemudian mengembangkannya dalam proses produksinya di Indonesia. Langkah ini memberikan keuntungan penting karena produksi perhiasan dapat dilakukan dengan tingkat konsistensi yang lebih tinggi dibandingkan pengerjaan manual sepenuhnya. Di sinilah UBS mulai mengubah keterampilan tradisional menjadi kemampuan manufaktur berskala industri.

Menaklukkan Pasar dan Membangun Kepercayaan

Pertumbuhan UBS kemudian menghadapi ujian yang jauh lebih berat ketika perusahaan mulai mencoba memasuki pasar internasional. Dalam berbagai pameran perhiasan di Dubai, Las Vegas, Hong Kong dan kota-kota besar lainnya, UBS pada awalnya ditempatkan di bagian yang kurang strategis dan harus bekerja keras mendapatkan perhatian calon pembeli. Bahkan ketika calon pembeli mulai tertarik, negosiasi berlangsung panjang dengan tekanan harga dan berbagai permintaan tambahan. Bagi perusahaan dari Indonesia yang ingin masuk ke pasar perhiasan dunia, tantangannya bukan sekadar menghasilkan produk bagus, tetapi membangun keyakinan bahwa produk tersebut dapat dipasok secara konsisten.

Di titik inilah UBS menghadapi persoalan yang jauh lebih fundamental daripada pemasaran. Pembeli internasional perlu mempercayai kadar emas, kualitas produksi, konsistensi desain, kemampuan memenuhi volume pesanan dan ketepatan pengiriman. UBS memilih membangun kepercayaan tersebut secara perlahan melalui konsistensi. Menurut Catur R. Limas, perusahaan membutuhkan sekitar 10–12 tahun untuk memperoleh kepercayaan dunia internasional.

Strategi tersebut kemudian menghasilkan perubahan posisi yang dramatis. Jika sebelumnya UBS harus menerima ruang pameran di sudut dan bernegosiasi keras untuk mendapatkan order, kemudian perusahaan mulai memperoleh tempat di ruang utama dan kelas premium dalam pameran internasional. Perubahan tersebut bukan hasil satu kampanye pemasaran, melainkan akumulasi dari kualitas produk, konsistensi kadar, inovasi dan hubungan bisnis yang dibangun bertahun-tahun. Dalam industri perhiasan, reputasi seperti itu merupakan aset yang jauh lebih sulit ditiru daripada sebuah mesin produksi. Kepercayaan akhirnya menjadi bagian dari produk UBS itu sendiri.

Skala inovasi UBS juga berkembang sangat agresif. Dalam satu laporan, perusahaan disebut mampu menghasilkan sekitar 50 desain baru setiap hari atau sekitar 500–600 model baru setiap bulan. Kemampuan menghasilkan banyak desain membuat UBS dapat merespons perubahan tren dengan cepat, sebuah keunggulan penting dalam industri fashion jewelry. Produk perhiasan juga memiliki siklus selera yang jauh lebih cepat daripada produk komoditas biasa. Karena itu, kemampuan desain menjadi senjata kompetitif yang sama pentingnya dengan kemampuan manufaktur.

Yang menarik, ekspansi internasional UBS tidak semata-mata dibangun melalui satu merek global. Data Kementerian Perdagangan pada 2023 mencatat bahwa dalam pasar ekspor UBS menjual produk manufakturnya tanpa menggunakan nama UBS Gold sebagai consumer brand. Strategi tersebut memperlihatkan sisi lain dari bisnis perusahaan: UBS mampu berfungsi sebagai manufacturing partner bagi pasar internasional. Model tersebut memungkinkan perusahaan menangkap peluang dari buyer yang mempunyai merek atau jaringan distribusi sendiri. Dengan demikian, kekuatan UBS berada pada kemampuan membuat produk berkualitas dalam skala industri sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan pasar.

Dalam waktu sekitar seperempat abad aktivitas ekspor, UBS kemudian membangun pasar di 35 negara di lima benua. Pasarnya mencakup berbagai kawasan, termasuk Afrika, dan produknya hadir dalam beragam kadar emas dari 9 hingga 22 karat serta berbagai kategori seperti cincin, kalung, gelang, anting dan liontin. Pencapaian tersebut kemudian memperoleh pengakuan pemerintah melalui Primaniyarta pada 2019, 2021 dan 2022 dalam kategori yang berbeda, termasuk Eksportir Berkinerja, Eksportir Produk Teknologi Tinggi dan Eksportir Produk Inovatif. Bagi perusahaan keluarga yang memulai dari sebuah toko emas, ekspor ke puluhan negara tersebut menunjukkan bagaimana kompetensi manufaktur dapat berubah menjadi keunggulan global.

Menjaga Mutu, Membangun Brand dan Mengubah Emas Menjadi Gaya Hidup

Di dalam negeri, UBS kemudian membangun strategi yang berbeda dari bisnis ekspornya. Jika di luar negeri perusahaan lebih banyak berperan sebagai manufaktur, di Indonesia UBS Gold dikembangkan sebagai merek yang berhubungan langsung dengan konsumen. Perusahaan memperluas distribusi, membangun kanal digital dan mengembangkan komunikasi merek agar emas tidak hanya dipandang sebagai barang simpanan. Strategi tersebut membuat UBS bergerak dari manufaktur murni menuju kombinasi antara manufacturing, branding dan retail.

Salah satu tantangan terbesar bisnis perhiasan adalah mengubah persepsi konsumen terhadap emas. UBS mencoba memperluas citra emas dari perhiasan konvensional menjadi bagian dari fashion dan gaya hidup. Pada 2022, perusahaan menggandeng Cinta Laura Kiehl sebagai brand ambassador untuk membantu menjangkau konsumen yang lebih muda. Strategi komunikasi tersebut melengkapi aktivitas UBS dalam dunia fashion, termasuk kolaborasi dengan desainer Diana M. Putri di Los Angeles Fashion Week.

UBS juga menggunakan event berskala nasional dan internasional untuk memperkuat positioning mereknya. Perusahaan menjadi penyedia mahkota Miss Indonesia, termasuk desain Spirit of Indonesia pada 2020 dan The Shimmering Hope Crown pada 2023. Pada mahkota 2023, UBS menyebut penggunaan lebih dari 8.000 kristal cubic zirconia berkualitas tinggi sebagai bagian dari desainnya. Aktivitas semacam ini membuat UBS dapat menempatkan produk emas dalam konteks fashion, beauty dan entertainment, bukan semata-mata dalam konteks toko emas.

Tetapi di balik kemewahan tersebut terdapat pekerjaan yang jauh lebih mendasar: menjaga kualitas. UBS menyebut sistem manajemen kualitas ISO 9001:2015 sebagai bagian dari proses perusahaan, sementara kegiatan internal pada 2025 masih menekankan Kaizen, preventive maintenance, Industry 4.0 dan peningkatan sistem manajemen. Perusahaan juga melakukan survei kepuasan pelanggan secara berkala sebagai bagian dari sistem kualitasnya. Bagi bisnis emas, disiplin seperti ini penting karena satu kesalahan kualitas dapat merusak kepercayaan yang dibangun selama puluhan tahun.

Hubungan dengan pelanggan juga dibangun melalui layanan purna jual dan customer service. UBS pernah menetapkan target agar permintaan melalui WhatsApp Care Center mendapat respons kurang dari satu menit dan penyelesaian masalah berada pada rentang lima hingga 15 menit. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan memahami satu hal sederhana: konsumen membeli emas bukan hanya karena desain, tetapi juga karena rasa aman terhadap produk yang mereka pegang. Dalam bisnis yang menjadikan kepercayaan sebagai bagian dari nilai produk, customer service pada akhirnya menjadi bagian dari strategi brand. Di sinilah pengalaman puluhan tahun sebagai pedagang emas tetap memberikan pengaruh terhadap cara UBS mengelola konsumennya.

Perjalanan UBS Gold memperlihatkan bagaimana sebuah bisnis keluarga dapat tumbuh dengan mengubah keunggulan lokal menjadi kemampuan manufaktur global. Dari toko emas di Pasar Tambahrejo, usaha tersebut berkembang menjadi PT Untung Bersama Sejahtera dengan ribuan karyawan dan jaringan ekspor ke puluhan negara. Kuncinya bukan satu terobosan tunggal, melainkan rangkaian keputusan kecil: masuk ke produksi, berinvestasi pada teknologi, mempertahankan keterampilan manusia, mengejar kualitas, memperbanyak desain dan bersabar membangun kepercayaan pasar.

Share This Article