Di dunia perdagangan kopi global, nama Indonesia bukanlah pemain baru. Namun, sedikit yang tahu bahwa salah satu pemasok utama biji kopi roasted bean berasal dari Sumatra, lebih tepatnya dari Medan. SariMakmur, yang mengusung merek Opal Coffee, menjadi bukti ketangguhan pengusaha Tionghoa Medan dalam menembus pasar dunia. Berdiri sejak 1995, perusahaan ini telah mengukuhkan dirinya sebagai eksportir kopi ke Asia, Amerika Serikat, Eropa, dan Timur Tengah. Setiap bulannya, lebih dari 3.000 ton kopi dikirim ke berbagai belahan dunia, menjadikan perusahaan ini sebagai pemain kunci di industri kopi internasional.
Suryo Pranoto, pendiri dan presiden direktur SariMakmur, jarang menjadi sorotan media. Namun, keuletannya dalam membangun bisnis ini telah membawa perusahaan mencapai omzet tahunan sekitar 40 juta dolar AS. Beberapa pengusaha yang mengenalnya bahkan menaksir angka sesungguhnya lebih tinggi. Dengan pabrik di Binjai, Lampung, dan Makassar, SariMakmur tidak hanya berperan dalam ekspor kopi tetapi juga membuka lapangan kerja bagi lebih dari 1.200 karyawan.
Ketika berbicara tentang keberhasilan pengusaha Tionghoa Medan, satu benang merah yang selalu muncul adalah kerja keras, kecermatan dalam membaca pasar, serta kemampuan untuk berkembang dalam lingkungan bisnis yang sering kali penuh tantangan. Namun, SariMakmur hanyalah salah satu dari banyak bisnis yang menonjol. Di balik layar, masih banyak kelompok usaha yang memiliki skala bisnis yang tak kalah besar, bahkan bersaing dengan perusahaan nasional dan multinasional.
Jejak Konglomerasi: Dari Kelapa Sawit hingga Consumer Goods
Bagi mereka yang tidak akrab dengan dunia bisnis Medan, nama-nama seperti Grup Karya Prajona Nelayan (KPN), Grup Musim Mas, dan Sumatera Tobacco Trading Company (STTC) mungkin terdengar asing. Namun, di antara para pelaku industri, mereka adalah raksasa dengan kekuatan bisnis yang mencengangkan.
KPN, yang didirikan oleh Martua Sitorus (Thio Seng Hap) pada 1978, telah menjadi pemain utama dalam industri crude palm oil (CPO) nasional. Perusahaan ini memiliki terminal CPO sendiri di Jambi dan mencakup lini bisnis dari perkebunan sawit hingga ekspedisi dan pupuk. Sementara itu, Grup Musim Mas yang dibangun oleh Anwar Karim sejak 1972 telah berkembang menjadi konglomerasi yang mendominasi industri minyak sawit, oleokimia, hingga sabun dengan merek terkenal seperti Tropical dan Shinzui. Juga ada Robert, pemilik Group Permata Hijau Sawit dan Suwito Wijaya (Sumber Tani Agung Group).
Di sektor rokok dan consumer goods, STTC menjadi nama yang diperhitungkan. Didirikan oleh Ng Chin Tan pada 1952, STTC menguasai pasar rokok putih di Sumatera dan Kalimantan dengan merek-merek seperti Union dan Winston. Lebih dari itu, perusahaan ini juga masuk ke bisnis kopi instan melalui PT Sari Incofood, yang memproduksi Indocafe dan Express Cafe.
Selain itu, ada nama Majujaya Pohonpinang yang sukses di industri minuman, khususnya sirup dan jus markisa yang telah menembus pasar Sumatra, Jawa, dan Bali. Keberhasilan bisnis ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan hasil dari dedikasi dan ketekunan keluarga Rajali Chuwardi yang telah mengelola perusahaan ini dari generasi ke generasi.
Di bidang properti, Grup Multatuli dan PT Alfinky Binamitra Sejahtera telah membangun gedung-gedung jangkung di Medan, sementara PT Olagafood semakin dikenal sebagai pemain nasional di industri mi instan dengan merek Alhami. Nama-nama ini hanya segelintir dari banyaknya pengusaha Tionghoa Medan yang telah mengukuhkan posisi mereka dalam perekonomian nasional.
Meninggalkan Medan, Menaklukkan Nusantara dan Dunia
Seiring pertumbuhan bisnis, beberapa pengusaha Tionghoa Medan memilih untuk memindahkan markas mereka ke Jakarta atau kota-kota besar lainnya demi memperluas jaringan dan memperkuat daya saing. Salah satu contoh sukses adalah Grup ABC, yang didirikan oleh Chandra Djojonegoro dan kini telah menjadi salah satu konglomerasi terbesar di industri consumer goods Indonesia. Berkantor pusat di Jakarta, perusahaan ini memiliki lebih dari 50 anak perusahaan dengan berbagai produk yang telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Tak hanya itu, Grup Jakaranatama yang dipimpin oleh Djajadi Djaja telah sukses di bisnis distribusi dan produksi makanan olahan, termasuk mi instan GaGaMie dan StarMie. Sementara itu, PT Probesco Disatama yang didirikan oleh Saripin Taidy telah berkembang menjadi pemain besar di industri alat berat, menyaingi nama-nama besar seperti Trakindo dan United Tractors.
Dari sektor makanan ringan, PT Siantar Top yang dipimpin oleh Shindo Sumidomo memilih Surabaya sebagai basis operasionalnya. Sejak berdiri pada 1978, perusahaan ini telah merambah pasar nasional dengan produk mulai dari mi instan hingga biskuit dan permen.
Namun, tak ada yang bisa mengabaikan Raja Garuda Mas (RGM), konglomerasi yang kini beroperasi dari Singapura. Di bawah kendali Sukanto Tanoto, RGM telah melebarkan sayap ke berbagai industri, termasuk perkayuan, perkebunan kelapa sawit, perbankan, dan properti.
Dari Medan ke Jakarta, Surabaya, hingga Singapura, para pengusaha Tionghoa asal Medan telah membuktikan bahwa mereka mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Dengan prinsip kerja keras, ketekunan, dan kemampuan adaptasi yang luar biasa, mereka telah membangun imperium bisnis yang tak hanya bertahan dalam waktu lama tetapi juga terus berkembang. Dalam keheningan, mereka bergerak, dan dalam bayang-bayang, mereka mengukir sejarah.
Menatap Masa Depan
Meski banyak yang telah mencapai puncak kesuksesan, para pengusaha Tionghoa Medan tetap menghadapi tantangan besar di era digital ini. Transformasi bisnis menjadi keharusan untuk tetap relevan dalam persaingan global. Industri e-commerce, teknologi finansial, dan ekspansi ke pasar digital menjadi langkah strategis bagi generasi penerus bisnis ini.
Dengan fondasi yang kuat, jaringan bisnis yang luas, dan semangat pantang menyerah, para pengusaha Tionghoa Medan diprediksi akan terus menjadi pilar penting dalam perekonomian Indonesia. Tidak hanya sebagai pemain domestik, tetapi juga sebagai bagian dari rantai pasok global yang semakin terintegrasi. Masa depan mereka bukan sekadar tentang mempertahankan kejayaan, tetapi juga bagaimana beradaptasi dan menciptakan inovasi di tengah perubahan zaman.