Jagoan Bisnis Pakan Ternak dari Medan

bintangbisnis

Di dalam pabrik PT Mabar Feed Indonesia (MFI), bongkahan pakan ternak menggunung, menciptakan lanskap miniatur bukit yang memenuhi ruang produksi. Aroma tajam khas dedak dan bahan pakan bercampur menjadi sesuatu yang mungkin tak tertahankan bagi manusia, tetapi menjadi santapan lezat bagi ayam dan babi. Di antara dominasi perusahaan multinasional yang menguasai pasar, MFI berdiri sebagai pemain lokal yang tak hanya bertahan, tetapi terus berkembang, mengukir jejaknya di industri ini.

Rachman alias Ciu Se Tuan, sang pendiri, tidak memulai bisnis ini dengan rencana besar atau pengalaman panjang. “Saya tidak memiliki pengalaman. Yah, hanya sekadar mencoba,” kenangnya tentang masa-masa awal pada tahun 1971. Kala itu, produksi pakan MFI hanya mencapai 50 ton per bulan. Lambat laun, bisnisnya mulai tumbuh. Pada 1976, ia mengubah nama perusahaannya menjadi MFI, memperluas produksinya hingga 12–15 ribu ton per bulan di pabrik seluas lima hektare di Medan. Dengan kapasitas produksi 30 ribu ton per bulan, ia belum mencapai titik maksimalnya, tetapi cukup untuk memenuhi permintaan di Sumatra Utara, Riau, Sumatra Barat, dan Nanggroe Aceh Darussalam.

Namun, di balik pertumbuhan yang stabil, ada tantangan yang tak sedikit. “Sekarang agak sulit, harganya tidak bagus. Terutama dengan adanya isu flu burung,” ungkapnya. Kendati demikian, ia tidak berhenti berinovasi dan terus mencari peluang di bisnis lain.

 

Dari Sepuluh Babi ke Imperium Ternak

Perjalanan bisnis Rachman tidak berhenti pada pakan ternak. Setelah beberapa tahun, ia memberanikan diri mengelola peternakan babi. “Mulanya hanya sepuluh ekor,” ujarnya. Kini, jumlah ternaknya mencapai lebih dari 12 ribu ekor di atas lahan 10 hektare di Sumbul, Petumbak. Dalam sebulan, ia menjual sekitar 1.000–1.500 ekor babi dengan harga rata-rata Rp1 juta per ekor.

Namun, ia menyadari bahwa potensi pasar babi di Indonesia terbatas. Dengan mayoritas penduduk Muslim, konsumsi babi tidak mengalami pertumbuhan signifikan. Maka, pada 1981, ia mulai merambah bisnis pembibitan ayam. Ia mendirikan peternakan ayam induk di Namo Sulo Baru seluas 50 hektare dengan populasi ayam induk mencapai 400 ribu ekor. Setiap bulan, MFI memproduksi 3,5 juta anak ayam (DOC), yang dijual dengan harga Rp3.000–3.500 per ekor.

Tak berhenti di situ, ia juga mengembangkan peternakan ayam petelur di lahan 30 hektare di Gunung Tinggi. Populasinya mencapai 600 ribu ekor dengan produksi telur 400–500 ribu butir per hari. Meskipun ada fluktuasi harga, ia tetap bertahan dengan strategi diversifikasi dan efisiensi biaya.

Teknologi dan Kepercayaan

Seperti bisnis lain, MFI juga mengalami pasang surut. Saat krisis ekonomi melanda Indonesia, produksinya ikut terdampak. “Saya harus memulainya lagi dari bawah. Tapi, saya bisa belajar dari kegagalan itu,” kata Rachman. Dengan semangat pantang menyerah, ia terus mencari cara untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing perusahaannya.

Modernisasi menjadi langkah berikutnya. MFI mulai mengadopsi teknologi dari Amerika Serikat dan China untuk mempercepat proses produksi. “Sekarang kami sudah pakai teknologi canggih, sehingga cara menimbang dan pemrosesannya lebih cepat dan akurat,” ujarnya. Studi banding ke luar negeri pun ia lakukan agar tetap mengikuti perkembangan industri global. Konsekuensinya, jumlah tenaga kerja berkurang dari 1.000 menjadi sekitar 800 orang. Namun, Rachman tetap berpegang teguh pada prinsipnya: menjaga kepercayaan dan membangun jaringan bisnis yang kuat.

“Dalam bisnis ini yang terpenting adalah kepercayaan,” katanya. “Selain itu, network juga perlu dibina dengan pengusaha lain.” Oleh karena itu, ia sering mengadakan pertemuan dengan sesama pebisnis di Medan untuk berbagi wawasan dan menjalin hubungan bisnis yang lebih erat.

Kini, ia bersiap untuk langkah berikutnya: membangun pabrik pakan ikan dan udang dengan kapasitas produksi 10 ribu ton per bulan. Meski usaha tambak udangnya sempat merugi, ia belum menutup peluang untuk kembali terjun ke bisnis tersebut. “Saya mau lihat situasinya dulu. Kalau memungkinkan, akan dibuka lagi,” katanya.

Rachman meyakini satu hal: kerja keras adalah kunci utama. “Kalau orang lain bisa, kita juga harus bisa,” tegasnya. Prinsip ini juga ia tanamkan kepada anak-anaknya, yang kini turut serta dalam menjalankan bisnis keluarga. Baginya, sukses bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga terus berkembang. Dengan strategi yang tepat dan ketahanan menghadapi tantangan, MFI terus melaju sebagai jagoan peternakan dari Medan.

Share This Article