Lee Shau-kee: Dari Anak Pedagang Emas Menjadi “Warren Buffett dari Hong Kong”

bintangbisnis

Di dunia bisnis Asia, nama Lee Shau-kee menempati posisi yang unik. Ia sering disandingkan dengan taipan properti legendaris Hong Kong, tetapi di saat yang sama dijuluki “Warren Buffett dari Hong Kong”—sebuah gelar yang tidak diberikan tanpa alasan. Kekayaannya memang bertumpu pada properti, namun strategi investasinya di pasar modal menjadikannya figur yang sangat memahami kekuatan saham, waktu, dan kesabaran.

Lee Shau-kee bukanlah pengusaha yang sekadar membangun perusahaan dari nol lalu berhenti di sana. Ia adalah contoh nyata bagaimana kekayaan besar bisa tumbuh berlipat ganda lewat pasar modal, asalkan pelakunya memiliki disiplin, naluri, dan keberanian yang terukur.

Awal Kehidupan: Dari Perdagangan Emas ke Dunia Uang

Lee Shau-kee lahir pada tahun 1928 di Shunde, Provinsi Guangdong, China. Ia berasal dari keluarga sederhana yang bergerak di perdagangan emas dan perak. Sejak kecil, Lee sudah terbiasa melihat bagaimana uang berpindah tangan, bagaimana harga naik dan turun, serta bagaimana keputusan kecil bisa berdampak besar pada keuntungan.

Pelajaran paling penting yang ia serap bukan soal kemewahan, melainkan ketepatan membaca nilai. Saat masih remaja, Lee sudah mahir menilai kadar emas dan memahami selisih harga—sebuah keterampilan yang kelak membentuk insting investasinya di pasar modal.

Pada akhir 1940-an, Lee hijrah ke Hong Kong. Kota ini pada saat itu sedang tumbuh sebagai pusat perdagangan dan keuangan Asia. Namun, Hong Kong juga keras: kompetisi tinggi, modal terbatas, dan kegagalan adalah risiko sehari-hari.

Merintis Bisnis Properti: Belajar dari Krisis

Lee Shau-kee memulai kariernya di sektor properti bukan sebagai pemilik besar, melainkan sebagai mitra kecil dan pengamat pasar. Ia mendirikan dan bergabung dalam berbagai usaha pengembangan properti, belajar memahami siklus harga tanah, kebutuhan masyarakat urban, serta bagaimana kebijakan pemerintah memengaruhi nilai aset.

Tahun-tahun awal bisnisnya penuh ketidakpastian. Pasar properti Hong Kong dikenal sangat fluktuatif. Ada masa harga tanah melonjak tajam, lalu jatuh tanpa ampun. Lee beberapa kali menghadapi situasi di mana proyek berjalan lambat, penjualan tertahan, dan arus kas tertekan.

Namun justru dari krisis itulah ia membentuk prinsip hidupnya:
aset terbaik sering kali dibeli saat orang lain takut.

Prinsip ini kelak menjadi fondasi gaya investasinya—baik di properti maupun di pasar saham.

Henderson Land dan Lompatan Besar

Pada tahun 1976, Lee mendirikan Henderson Land Development, yang kemudian tumbuh menjadi salah satu perusahaan properti terbesar di Hong Kong. Keberhasilannya bukan semata karena pembangunan gedung, tetapi karena kemampuan membaca siklus ekonomi jangka panjang.

Lee dikenal sangat berhati-hati dalam penggunaan utang, memilih lokasi strategis, dan menahan aset berkualitas tinggi untuk jangka panjang. Namun, di balik kesuksesan Henderson Land, ada satu pilar lain yang sering luput dari perhatian publik: pasar modal.

“Warren Buffett dari Hong Kong”: Reputasi di Pasar Saham

Julukan “Warren Buffett dari Hong Kong” muncul karena Lee Shau-kee dikenal sebagai investor saham yang sangat aktif dan disiplin. Ia mengalokasikan sebagian besar kekayaannya untuk membeli saham-saham perusahaan besar dan mapan—terutama blue-chip Hong Kong dan China.

Berbeda dengan spekulan, Lee tidak mengejar keuntungan cepat. Ia membeli saham dengan pendekatan nilai (value investing), menahan dalam jangka panjang, dan menikmati dividen serta pertumbuhan harga seiring waktu.

Ia percaya bahwa:

  • Saham perusahaan besar adalah kepemilikan bisnis, bukan sekadar kertas

  • Waktu adalah sekutu terbaik investor

  • Pasar modal adalah alat pengganda kekayaan, bukan mesin judi

Strategi ini membuat kekayaannya sangat terpapar dinamika bursa. Saat pasar naik, nilainya melonjak. Saat krisis datang—termasuk krisis finansial Asia dan gejolak global—nilai portofolionya sempat tertekan. Namun Lee tidak panik. Ia justru dikenal menambah posisi saat harga jatuh.

Jatuh-Bangun dan Mental Baja

Seperti investor besar lainnya, Lee Shau-kee tidak luput dari kerugian. Ada saham yang tidak berkembang sesuai harapan, ada fase pasar yang stagnan bertahun-tahun. Namun, ia tidak pernah menganggap kegagalan sebagai kesalahan fatal.

Baginya, kerugian adalah biaya belajar.

Lee juga terkenal sangat disiplin dalam gaya hidup. Meski menjadi salah satu orang terkaya Asia, ia hidup relatif sederhana, fokus pada bisnis dan investasi, serta menghindari sorotan berlebihan.

Share This Article