Krisis selalu datang membawa suasana yang sama: penjualan melemah, pelanggan menahan belanja, biaya meningkat, dan ketidakpastian membuat banyak orang memilih menunggu. Di tengah situasi seperti itu, seorang pebisnis justru dituntut tetap tenang karena keputusan yang dibuat hari ini menentukan apakah perusahaan mampu bertahan beberapa tahun ke depan. Optimisme bagi pebisnis bukan berarti menganggap keadaan baik-baik saja. Optimisme adalah kemampuan melihat kenyataan secara jernih sambil tetap percaya bahwa selalu ada jalan untuk bergerak maju.
Bisnis Memang Selalu Penuh Tantangan
Alasan pertama adalah sederhana: bisnis memang selalu penuh tantangan. Ketika ekonomi sedang tumbuh, perusahaan menghadapi persaingan, perang harga, perebutan talenta, perubahan teknologi dan tuntutan pelanggan yang semakin tinggi. Ketika krisis datang, tantangannya berubah menjadi penurunan permintaan, tekanan cash flow dan ketidakpastian pasar. Karena itu, pebisnis berpengalaman memahami bahwa ada atau tidak ada krisis, tantangan tetap merupakan bagian dari pekerjaan mereka.
Pebisnis yang sudah lama berada di dunia usaha biasanya memiliki perspektif yang berbeda terhadap krisis. Mereka pernah merasakan masa ketika bisnis tumbuh sangat cepat, kemudian menghadapi masa ketika penjualan tiba-tiba jatuh. Mereka tahu bahwa tidak ada kondisi bisnis yang berlangsung selamanya. Karena itu, krisis tidak selalu dipandang sebagai bencana, melainkan sebagai salah satu fase yang harus dilewati perusahaan.
Bagi seorang entrepreneur, persoalannya bukan bagaimana menciptakan dunia tanpa masalah, melainkan bagaimana menyelesaikan masalah yang muncul satu demi satu. Ketika penjualan turun, ia mencari produk baru atau pasar baru. Ketika biaya meningkat, ia mencari efisiensi tanpa merusak kualitas. Ketika kompetitor semakin agresif, ia mencari cara agar perusahaan memiliki keunggulan yang sulit ditiru.
Di Tengah Krisis Selalu Ada Peluang
Alasan kedua, krisis hampir selalu menciptakan peluang baru. Ketika sebagian perusahaan memilih mengurangi investasi, perusahaan yang memiliki neraca sehat justru dapat memperoleh kesempatan membeli aset dengan harga lebih menarik. Ketika kompetitor mundur dari pasar tertentu, ruang yang ditinggalkan dapat diisi oleh perusahaan yang lebih berani. Krisis dengan demikian bukan hanya periode ketika permintaan menurun, tetapi juga periode ketika peta persaingan dapat berubah.
Banyak perusahaan besar justru lahir atau tumbuh pesat setelah melewati periode ekonomi yang sulit. Krisis memaksa konsumen mengubah perilaku, dan perubahan perilaku tersebut menciptakan kebutuhan baru. Perusahaan yang mampu membaca perubahan itu lebih cepat daripada kompetitornya dapat menemukan pasar yang sebelumnya tidak terlihat. Di sinilah entrepreneurship bekerja: melihat kesempatan ketika kebanyakan orang hanya melihat masalah.
Namun peluang dalam krisis tidak selalu berarti melakukan ekspansi besar-besaran. Kadang peluang terbaik justru berupa memperbaiki proses, mendapatkan talenta berkualitas, memperkuat teknologi, atau membangun hubungan dengan pelanggan yang sebelumnya sulit diperoleh. Perusahaan yang menggunakan masa krisis untuk memperkuat fondasinya dapat keluar dari krisis dalam posisi yang lebih kuat. Ketika ekonomi kembali tumbuh, mereka sudah memiliki mesin bisnis yang lebih siap dibandingkan kompetitor.
Krisis Menguji Daya Tahan Perusahaan
Alasan ketiga, krisis merupakan stress test bagi perusahaan. Dalam kondisi ekonomi yang baik, hampir semua perusahaan terlihat sehat karena revenue tumbuh dan kesalahan manajemen masih dapat tertutup oleh pertumbuhan pasar. Krisis menghilangkan sebagian bantalan tersebut. Tiba-tiba terlihat perusahaan mana yang memiliki cash flow kuat, biaya terkendali, pelanggan loyal dan strategi yang benar-benar bekerja.
Krisis juga menguji kualitas manusia di dalam perusahaan. Ada karyawan yang ketika keadaan sulit justru semakin kreatif dan bertanggung jawab, sementara ada pula yang mudah kehilangan semangat. Ada tim yang ketika target turun menjadi semakin kompak mencari solusi, tetapi ada juga organisasi yang mulai saling menyalahkan. Bagi seorang pemimpin, periode seperti ini menjadi kesempatan untuk mengetahui siapa yang benar-benar menjadi bagian penting dari perjalanan perusahaan.
Karena itu, pebisnis yang sehat secara mental tidak selalu takut terhadap krisis. Ia bahkan dapat melihat krisis sebagai kesempatan untuk memperkuat DNA perusahaan. Proses restrukturisasi, efisiensi, perubahan strategi dan evaluasi karyawan mungkin terasa menyakitkan, tetapi sering kali membuat organisasi menjadi lebih disiplin. Perusahaan yang berhasil melewati krisis biasanya keluar dengan daya tahan dan daya saing yang lebih tinggi.
Pebisnis Harus Terus Bergerak Maju
Alasan keempat bersifat sangat personal: pebisnis tidak memiliki kemewahan untuk terus-menerus melihat ke belakang. Seorang pemilik perusahaan biasanya memiliki tanggung jawab terhadap karyawan, keluarga karyawan, pemasok, pelanggan dan berbagai pihak yang bergantung pada keberlangsungan bisnis. Ketika perusahaan mengalami kesulitan, pemimpin memang boleh merasa khawatir, tetapi ia tetap harus mengambil keputusan. Terlalu lama tenggelam dalam ketakutan justru dapat membuat masalah menjadi semakin besar.
Seorang entrepreneur pada akhirnya harus memiliki mentalitas untuk terus maju. Ia harus bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan sekarang?” bukan terus bertanya, “Mengapa keadaan menjadi seperti ini?” Perbedaan dua pertanyaan tersebut terlihat kecil, tetapi menghasilkan perilaku yang sangat berbeda. Pertanyaan pertama menggerakkan organisasi menuju solusi, sementara pertanyaan kedua sering membuat energi perusahaan habis untuk menyesali keadaan.
Optimisme seorang pebisnis juga memiliki dimensi tanggung jawab. Ketika seorang pengusaha mempekerjakan 100, 1.000 atau bahkan 10.000 orang, keputusan pribadinya memiliki konsekuensi terhadap kehidupan banyak keluarga. Karena itu, optimisme bukan sekadar sikap positif untuk dirinya sendiri. Optimisme menjadi bagian dari kepemimpinan, yaitu kemampuan memberikan arah ketika orang-orang di dalam organisasi sedang kehilangan kepastian.
Krisis dan Booming Adalah Siklus Bisnis
Alasan kelima adalah pemahaman bahwa krisis dan booming merupakan bagian dari siklus bisnis. Ekonomi bergerak dalam fase ekspansi dan kontraksi, sementara setiap industri memiliki siklusnya sendiri. Ada masa ketika permintaan melonjak, investasi mengalir deras dan perusahaan berlomba melakukan ekspansi. Setelah itu, datang fase normalisasi, perlambatan atau bahkan krisis.
Pebisnis berpengalaman memahami bahwa ketika pasar sedang bullish, perusahaan harus mempersiapkan diri menghadapi masa sulit. Sebaliknya, ketika krisis datang, perusahaan harus mempersiapkan diri untuk menghadapi masa pertumbuhan berikutnya. Prinsipnya bukan menjadi terlalu percaya diri ketika pasar naik atau terlalu pesimistis ketika pasar turun. Yang penting adalah tetap memiliki perspektif jangka panjang.
Rim Redaksi www.BintangBisnis.com
