Di tengah dinamika ekonomi global yang masih berlapis tantangan, semakin banyak investor ritel Indonesia yang mulai mencari instrumen investasi yang tidak hanya menjanjikan imbal hasil, tetapi juga selaras dengan nilai dan prinsip. Di sinilah saham syariah menemukan momentumnya. Tahun 2026 menjadi fase menarik bagi saham-saham syariah, bukan semata karena label halal, tetapi karena banyak di antaranya berada di sektor riil yang justru diuntungkan oleh tren ekonomi jangka menengah Indonesia.
Saham syariah, sebagaimana ditetapkan oleh otoritas bursa dan Dewan Syariah Nasional, harus memenuhi sejumlah kriteria ketat: struktur utang yang sehat, bisnis inti yang halal, serta praktik usaha yang transparan. Artinya, saham syariah secara inheren memiliki profil risiko yang relatif lebih terkontrol. Bagi investor personal finance, ini bukan sekadar isu agama, melainkan soal disiplin bisnis dan kualitas fundamental.
Berikut adalah 20 saham syariah yang dinilai memiliki potensi cuan di 2026, ditinjau dari sisi fundamental, sektor usaha, dan relevansinya dengan arah ekonomi Indonesia.
1. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)
Sebagai tulang punggung infrastruktur digital nasional, Telkom tetap menjadi saham syariah defensif sekaligus bertumbuh. Kebutuhan data, cloud, dan layanan digital terus meningkat. Transformasi Telkom ke bisnis digital dan data center membuat prospeknya tetap solid di 2026, terutama di tengah percepatan ekonomi berbasis teknologi.
2. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA)
AKRA bergerak di distribusi energi dan kawasan industri. Keunggulan AKRA terletak pada arus kas yang stabil dan posisi strategis dalam rantai pasok industri. Pertumbuhan kawasan industri dan hilirisasi menjadikan saham ini menarik bagi investor syariah yang mencari kombinasi stabilitas dan pertumbuhan.
3. PT United Tractors Tbk (UNTR)
Meski identik dengan alat berat, UNTR telah bertransformasi menjadi perusahaan sumber daya dan energi terintegrasi. Diversifikasi ke energi terbarukan dan efisiensi operasional membuat UNTR tetap relevan di 2026, bahkan saat siklus komoditas berfluktuasi.
4. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)
Sektor konsumsi primer selalu menjadi favorit dalam kondisi ekonomi apa pun. ICBP dengan portofolio produk makanan pokok memiliki daya tahan tinggi. Konsumsi domestik yang kuat membuat saham ini berpotensi memberikan cuan stabil bagi investor jangka menengah.
5. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
Sebagai induk usaha, INDF menawarkan eksposur terdiversifikasi dari hulu ke hilir. Ketahanan sektor pangan dan kemampuan menjaga margin membuat saham ini tetap menarik dalam portofolio syariah 2026.
6. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN)
Industri protein hewani masih bertumbuh seiring naiknya pendapatan masyarakat. CPIN memiliki keunggulan skala, efisiensi, dan integrasi. Dalam jangka menengah, stabilisasi harga pakan berpotensi meningkatkan profitabilitas.
7. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
Sebagai alternatif CPIN, JPFA menawarkan potensi turnaround yang menarik. Dengan perbaikan struktur biaya dan permintaan protein yang meningkat, saham ini berpotensi memberikan capital gain di 2026.
8. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO)
Meski bergerak di energi fosil, ADRO masih masuk kriteria saham syariah. Keunggulannya adalah neraca yang kuat dan strategi diversifikasi ke energi hijau. Dividen yang konsisten membuatnya menarik bagi investor income-oriented.
9. PT Bukit Asam Tbk (PTBA)
PTBA diuntungkan oleh efisiensi produksi dan pasar domestik yang kuat. Selain itu, langkah diversifikasi ke energi baru terbarukan memperbaiki persepsi jangka panjang perusahaan ini.
10. PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI)
Konsumsi kelas menengah tetap menjadi mesin pertumbuhan. MAPI dengan portofolio ritel gaya hidup dan olahraga internasional diuntungkan oleh pergeseran belanja ke experiential spending.
11. PT Astra International Tbk (ASII)
ASII adalah saham konglomerasi syariah yang mencerminkan denyut ekonomi Indonesia. Dari otomotif, agribisnis, hingga infrastruktur, ASII menawarkan diversifikasi alami dan stabilitas jangka panjang.
12. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR)
Pembangunan infrastruktur dan perumahan tetap menjadi agenda struktural Indonesia. SMGR diuntungkan oleh konsolidasi industri semen dan efisiensi operasional.
13. PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON)
Sebagai bagian dari rantai pasok konstruksi, WTON berpotensi bangkit seiring membaiknya proyek infrastruktur dan properti pada 2026.
14. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA)
Industri media memang menghadapi disrupsi digital, namun SCMA berhasil beradaptasi melalui konten dan platform digital. Monetisasi konten tetap menjadi sumber pertumbuhan.
15. PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK)
EMTK menawarkan eksposur ke media, digital, dan teknologi. Meski volatil, saham ini menarik bagi investor syariah yang siap mengambil risiko terukur demi pertumbuhan.
16. PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA)
Distribusi perangkat digital dan ekosistem teknologi membuat ERAA relevan di era digital. Konsumsi gadget dan layanan purna jual tetap tumbuh.
17. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF)
Sektor kesehatan adalah tema jangka panjang. KLBF dengan portofolio farmasi dan nutrisi memiliki fundamental kuat dan stabilitas pendapatan.
18. PT Kimia Farma Tbk (KAEF)
Meski menghadapi tantangan, restrukturisasi dan fokus pada efisiensi membuka peluang turnaround di 2026, terutama jika belanja kesehatan meningkat.
19. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
ANTM diuntungkan oleh hilirisasi mineral dan transisi energi global. Eksposur ke nikel dan emas menjadikannya saham syariah berbasis komoditas strategis.
20. PT Timah Tbk (TINS)
Dengan permintaan timah global dan perbaikan tata kelola, TINS berpotensi memanfaatkan momentum komoditas di 2026.
Bagaimana Mengelola Saham Syariah agar Benar-Benar Cuan?
Memilih saham syariah bukan sekadar mengikuti daftar. Investor personal finance perlu memperhatikan tiga hal utama: fundamental perusahaan, manajemen risiko, dan horizon investasi. Saham syariah cocok untuk strategi jangka menengah hingga panjang, dengan pendekatan disiplin dan diversifikasi lintas sektor.
Tahun 2026 bukan soal mencari saham yang “cepat naik”, melainkan membangun portofolio yang berkualitas, berkelanjutan, dan sesuai nilai. Saham syariah menawarkan kombinasi menarik antara etika bisnis dan potensi keuntungan—dua hal yang semakin dicari oleh investor modern Indonesia.
____________
