Ada sedikit merek makanan di Indonesia yang begitu kuat hingga namanya hampir menjadi bagian dari ritual Lebaran. Setiap Ramadan berakhir dan Idulfitri tiba, kaleng merah Khong Guan kerap muncul di meja ruang tamu, di antara toples kue kering, sirup dan hidangan untuk tamu yang datang bersilaturahmi. Survei GoodStats terhadap 1.000 responden di berbagai provinsi pada 11–24 Februari 2026 menunjukkan 31,5% responden memilih Khong Guan sebagai produk kue atau biskuit kemasan yang paling sering disajikan saat Idulfitri, mengungguli Monde 23,2% dan Tango 14,2%. Angka tersebut menunjukkan bahwa setelah lebih dari lima dekade berada di Indonesia, Khong Guan bukan lagi sekadar merek biskuit, melainkan telah menjadi bagian dari memori konsumsi keluarga Indonesia.
Namun, cerita bisnis di balik kaleng merah itu bermula jauh sebelum Khong Guan menjadi simbol Lebaran di Indonesia. Dua bersaudara asal Fujian, China, Chew Choo Keng dan Chew Choo Han datang ke Singapura pada 1935 untuk mencari penghidupan dan kemudian bekerja di sebuah pabrik biskuit. Ketika Jepang menginvasi Singapura pada 1940, keduanya mengungsi ke Perak, Malaysia, dan mencoba membuat biskuit secara manual sebelum keterbatasan gula dan tepung memaksa mereka beralih menjual garam dan sabun. Setelah perang berakhir, mereka kembali ke Singapura dan kembali menjalankan bisnis biskuit.
Titik balik datang ketika Chew Choo Han menemukan mesin pembuat biskuit bekas yang rusak akibat perang dari pabrik tempat mereka pernah bekerja. Mesin tersebut tidak langsung menjadi aset produksi modern, karena harus diperbaiki dan dimodifikasi dengan sumber daya yang tersedia. Mereka kemudian membangun jalur produksi semiotomatis dengan menggunakan rantai sepeda sebagai bagian dari sistem konveyor dan oven bata yang dibuat secara manual. Dari teknologi sederhana tersebut lahir Khong Guan Biscuit Factory di Singapura pada 1947.
Bagi seorang entrepreneur, bagian paling menarik dari kisah itu bukan sekadar tanggal berdirinya perusahaan, tetapi cara kedua bersaudara tersebut melihat aset yang oleh orang lain mungkin dianggap tidak berguna. Mesin bekas menjadi fondasi produksi, sementara pengalaman bekerja di industri biskuit memberi mereka pengetahuan mengenai proses manufaktur. Setelah kapasitas produksi meningkat, pasar memberikan validasi yang mereka perlukan untuk mengembangkan usaha. Dalam beberapa dekade berikutnya, bisnis yang berawal dari produksi sederhana tersebut berkembang menjadi perusahaan dengan jaringan manufaktur dan distribusi lintas negara.
Khong Guan kemudian mulai memperluas bisnisnya ke Malaysia dan negara Asia lainnya. Pada periode 1950-an hingga 1960-an, produk Khong Guan tidak lagi hanya beredar di Singapura dan Malaysia, tetapi mulai diekspor ke sejumlah pasar lain. Salah satu catatan historis menyebut pabrik Singapura pada masa itu mampu menghasilkan sekitar 10.000 kaleng biskuit per hari dengan sekitar 200 pekerja, sedangkan operasi di Malaysia mencapai sekitar 40.000 kaleng per hari dengan sekitar 1.000 pekerja. Sekitar 70% produk ketika itu dijual di Singapura dan Malaysia, sedangkan sisanya diekspor ke berbagai pasar termasuk Indonesia, Hong Kong, Afrika dan Timur Tengah.
Indonesia kemudian menjadi salah satu bab penting dalam perjalanan merek tersebut. Pada 6 September 1956, Hidayat Darmono atau Kwee Boen Twie, Ong Kong Ie dan Go Swie Kie mendirikan NV Giok San Kongsie yang pada tahap awal mengimpor biskuit Khong Guan dari Singapura. Bisnis tersebut kemudian bergerak dari perdagangan menuju manufaktur lokal. Sumber sejarah perusahaan dan sejumlah laporan media mencatat produksi Khong Guan di Indonesia mulai berkembang pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, dengan pabrik pertama di Ciracas, Jakarta Timur.
Perubahan dari importir menjadi produsen merupakan keputusan penting karena memberikan kendali lebih besar atas kapasitas produksi, biaya, kualitas dan distribusi. Khong Guan sendiri mencatat perusahaan di Indonesia didirikan pada 1970 dan mulai beroperasi pada 1971, dengan pabrik pertama di kawasan Jalan Bogor, Ciracas. Pada Juni 1972, perusahaan secara resmi berganti nama menjadi PT Khong Guan Biscuit Factory Indonesia. Dari satu fasilitas produksi tersebut, bisnis kemudian berkembang menjadi kelompok usaha makanan dengan beberapa pabrik dan merek.
Salah satu kekuatan Khong Guan adalah kemampuannya membangun produk yang mudah dikenali tanpa kehilangan konsistensi rasa. Khong Guan Assorted Red, yang kemudian populer dengan sebutan “Si Kaleng Merah”, menjadi produk yang sangat kuat di pasar biskuit musiman Indonesia. Superbrands mencatat Assorted Red telah diproduksi dengan merek Khong Guan sejak 1969 dan tetap memiliki daya tarik lintas generasi, terutama menjelang Lebaran. Produk tersebut tidak hanya dijual sebagai biskuit, tetapi berkembang menjadi simbol suguhan keluarga ketika masyarakat Indonesia memasuki musim Idulfitri.
Skala produksinya kemudian membutuhkan ekspansi fasilitas. Dalam dokumentasi Kementerian Perindustrian, Emil Darmono menyebut Khong Guan Group pada 2019 telah memiliki enam pabrik, dengan empat di antaranya memproduksi biskuit Khong Guan Merah. PT Serena Indopangan Industri di Cibinong, misalnya, dibangun untuk memperkuat distribusi ke Jawa Barat dan Sumatra. Menurut keterangan perusahaan saat itu, satu kaleng Khong Guan Assorted terdiri dari belasan jenis biskuit sehingga setiap jenis membutuhkan lini mesin produksi yang berbeda.
Model manufaktur tersebut memperlihatkan bahwa produk yang tampak sederhana di rak supermarket sebenarnya membutuhkan sistem produksi yang kompleks. Satu kaleng berisi banyak bentuk dan jenis biskuit berarti perusahaan harus mengelola berbagai formula, bahan baku, mesin, standar kualitas dan proses pengemasan secara bersamaan. Tantangannya kemudian bukan hanya membuat biskuit yang enak, tetapi memastikan setiap jenis biskuit memiliki rasa dan tekstur yang konsisten dalam volume produksi besar. Di sinilah pengalaman manufaktur yang dibangun selama puluhan tahun menjadi salah satu aset paling penting perusahaan.
Kekuatan merek kemudian diterjemahkan menjadi kekuatan distribusi. Khong Guan Indonesia kini menyatakan produknya telah didistribusikan ke lebih dari 90 wilayah di Indonesia, sementara portofolionya telah berkembang dari assorted biscuits menjadi cookies, crackers, Marie, pie, stick dan wafer. Perusahaan menggambarkan dirinya sebagai produsen dengan produk yang tersedia dalam berbagai bentuk, ukuran dan rasa untuk memenuhi kebutuhan pasar yang luas. Jaringan tersebut menunjukkan perubahan bisnis dari satu produk ikonik menjadi portofolio makanan ringan dengan cakupan nasional.
Lebaran menjadi salah satu mesin permintaan terbesar bagi produk Khong Guan. Data yang dikutip Kementerian Perindustrian pada 2019 menyebut Khong Guan Merah memiliki sekitar 70% market share di segmen biskuit seasonal pada saat itu, sementara sekitar 95% volume produksi produk tersebut terserap pada momentum menjelang Idulfitri. Angka itu menggambarkan betapa ekstremnya pola musiman sebuah produk yang secara komersial telah menjadi bagian dari tradisi. Bagi perusahaan, kemampuan mengantisipasi lonjakan permintaan tersebut berarti harus mempersiapkan bahan baku, mesin, tenaga kerja dan distribusi jauh sebelum Lebaran tiba.
Menariknya, kekuatan Khong Guan tidak hanya berasal dari rasa, tetapi juga dari identitas visual. Kaleng merah dengan ilustrasi seorang ibu dan dua anak di meja makan telah menjadi salah satu kemasan paling mudah dikenali di pasar makanan Indonesia. Bahkan ketika isi kaleng sudah habis, wadahnya sering digunakan kembali oleh rumah tangga untuk menyimpan makanan atau barang lain. Dalam perspektif branding, fenomena tersebut memperpanjang umur sebuah kemasan jauh melewati siklus konsumsi produknya.
Di balik perkembangan Khong Guan Indonesia terdapat keluarga Darmono dan Kweefanus yang kemudian memperluas bisnis makanan ke pasar Asia. Hartono Kweefanus, putra Hidayat Darmono menurut sejumlah sumber, menjadi salah satu figur utama dalam perkembangan bisnis keluarga tersebut. Dalam dokumen resmi Monde Nissin, Hartono tercatat sebagai Chairman of the Board dan juga chairman sejumlah entitas terkait, termasuk PT Khong Guan Biscuit Indonesia. Ia memperoleh pendidikan di Nanyang University, Singapura, dengan bidang Industrial and Business Management.
Ekspansi keluarga tersebut kemudian mencapai skala yang jauh lebih besar melalui Monde Nissin di Filipina. Perusahaan itu didirikan pada 1979 dan kemudian berkembang menjadi produsen makanan besar dengan produk seperti Lucky Me!, SkyFlakes dan Fita. Hartono Kweefanus menjadi salah satu pemegang saham terbesar Monde Nissin, dengan kepemilikan langsung 4,214 miliar saham atau 23,453% dari total saham beredar per 31 Maret 2025. Hoediono Kweefanus memiliki 948,3 juta saham atau 5,278%, sementara anggota keluarga lainnya juga memiliki kepemilikan signifikan.
Monde Nissin kemudian membawa bisnis keluarga tersebut ke pasar modal Filipina. Pada 2021, perusahaan mencatat IPO senilai sekitar US$1,1 miliar, salah satu penawaran saham terbesar dalam sejarah bursa Filipina pada saat itu. Forbes pada 2025 menyebut Monde Nissin sebagai produsen mi instan terbesar di Filipina yang dikendalikan Hartono Kweefanus dan keluarganya, sementara kekayaan gabungan kelompok pengendali, termasuk Kweefanus, Henry Soesanto dan Betty Ang, diperkirakan lebih dari US$2 miliar oleh Forbes Asia. Dengan demikian, kisah Khong Guan berkembang dari bisnis biskuit menjadi bagian dari jaringan bisnis keluarga yang memiliki operasi makanan berskala regional.
Skala Monde Nissin saat ini memberikan gambaran mengenai besarnya transformasi bisnis yang terjadi dalam beberapa generasi. Pada 2025, Monde Nissin membukukan pendapatan konsolidasi 86,5 miliar peso Filipina, naik 4% dari tahun sebelumnya. Core net income yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham mencapai 9,7 miliar peso, sementara laba bersih yang dilaporkan mencapai 8,6 miliar peso, jauh di atas 450 juta peso pada 2024. Bisnis Asia-Pacific Branded Food and Beverage menyumbang penjualan bersih 72,8 miliar peso pada 2025, tumbuh 4,7%.
Perjalanan itu juga menunjukkan bahwa bisnis keluarga makanan tidak harus berhenti pada satu produk yang sudah sukses. Setelah membangun basis biskuit, keluarga Kweefanus dan Darmono mengembangkan bisnis ke mi instan, makanan ringan dan kategori makanan lainnya. Monde Nissin bahkan mengakuisisi perusahaan makanan berbasis mycoprotein asal Inggris, Quorn, pada 2015 dengan nilai £550 juta dan kemudian menginvestasikan sekitar US$340 juta untuk mengembangkan bisnis tersebut di Amerika Serikat dan Asia. Keputusan tersebut menunjukkan bagaimana modal yang diperoleh dari bisnis makanan konsumen dapat digunakan untuk memasuki kategori baru, meskipun ekspansi tersebut juga membawa risiko besar dan kemudian menghasilkan impairment miliaran peso.
Sementara itu, Khong Guan di Indonesia terus menjaga fondasi bisnis yang membuat merek tersebut bertahan lebih dari lima dekade. Situs perusahaan menyebut filosofi dasarnya tetap berpusat pada kualitas produk, konsistensi rasa dan kebutuhan konsumen, sementara portofolionya kini mencakup biskuit, wafer, kue dan crackers. Pada 2026, perusahaan juga memperluas akses konsumen melalui peluncuran Khong Guan Mart sebagai kanal digital baru. Langkah tersebut menunjukkan bahwa perusahaan mencoba membawa merek yang dibangun pada era distribusi tradisional ke pola konsumsi digital.
Generasi penerus juga mulai terlihat dalam struktur kepemimpinan. Pada April 2026, Kataline Darmono, Managing Director Khong Guan Group, menerima penghargaan Puspa Adi Daya dalam Anugerah Puspa Bangsa 2026 atas kepemimpinannya di perusahaan. Khong Guan menyebut pada 2026 bahwa perusahaan telah mempertahankan kualitas dan kepercayaan konsumen selama 56 tahun di Indonesia. Penghargaan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa bisnis yang dibangun dari manufaktur biskuit telah berkembang menjadi perusahaan keluarga yang membutuhkan regenerasi kepemimpinan.
Kisah sukses Khong Guan bukan semata-mata cerita mengenai sebuah kaleng biskuit merah yang berhasil bertahan di meja makan Indonesia. Ini adalah cerita tentang bagaimana dua bersaudara memanfaatkan mesin bekas setelah perang, mengubah keterbatasan modal menjadi eksperimen manufaktur, membangun merek, memperluas kapasitas produksi dan kemudian mewariskan fondasi bisnis kepada generasi berikutnya. Dari pabrik sederhana di Singapura pada 1947, masuk ke Indonesia melalui jaringan perdagangan pada 1950-an, beralih ke produksi lokal pada awal 1970-an, hingga membangun jaringan distribusi lebih dari 90 wilayah Indonesia, perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana sebuah bisnis makanan dapat tumbuh melalui kombinasi produk yang konsisten, distribusi, branding dan regenerasi keluarga. Dan ketika 31,5% responden survei Idulfitri 2026 masih menyebut Khong Guan sebagai pilihan utama kue kemasan untuk disajikan saat Lebaran, kekuatan terbesar merek ini mungkin bukan lagi sekadar pada biskuitnya, melainkan pada kemampuan sebuah perusahaan membuat produknya menjadi bagian dari kebiasaan sebuah bangsa.
