Bisnis-Bisnis Masa Lalu Hashim Djojohadikusumo

bintangbisnis

Nama Hashim Djojohadikusumo hari ini kerap muncul dalam diskursus ekonomi dan politik Indonesia, terutama setelah kakaknya, Prabowo Subianto, menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, serta peran Hashim sebagai salah satu pembina Partai Gerindra. Namun jauh sebelum posisi politik keluarga itu menjadi sorotan, Hashim telah dikenal sebagai pengusaha besar yang terbiasa mengelola aset lintas sektor, lintas negara, dan lintas kompleksitas bisnis. Bahwa hari ini Arsari Group, kendaraan bisnis terbarunya, bergerak agresif di berbagai sektor strategis, sesungguhnya bukanlah hal yang mengejutkan. Ia telah menempuh jalan itu sejak puluhan tahun lalu, ketika melalui Tirtamas Group ia mengendalikan penyertaan di tak kurang dari 50 entitas bisnis di sektor perbankan, semen, petrokimia, pertambangan, energi, hingga manufaktur berteknologi tinggi.

Pada dekade 1990-an, Hashim merupakan salah satu figur sentral dalam gelombang ekspansi konglomerasi Indonesia. Melalui Tirtamas Group—dengan PT Tirtamas Majutama sebagai induk—ia membangun portofolio bisnis yang mencerminkan karakter ekonomi Indonesia pada masa pertumbuhan cepat: padat modal, berorientasi aset riil, dan terhubung erat dengan mitra asing. Skala dan keragaman bisnis yang dikelola Tirtamas menjadikan Hashim bukan sekadar investor pasif, melainkan operator aktif yang terbiasa menavigasi risiko pembiayaan besar, regulasi sektoral, dan dinamika pasar internasional.

Salah satu tonggak penting dalam sejarah bisnis Hashim adalah pengambilalihan Bank Niaga, salah satu bank swasta terbesar di Indonesia pada masanya. Melalui anak usaha Tirtamas, ia membeli sekitar 50 persen saham Bank Niaga dalam transaksi bernilai ratusan miliar rupiah. Akuisisi ini bukan hanya memperluas pijakan Tirtamas di sektor keuangan, tetapi juga menempatkan Hashim sebagai pengendali signifikan dalam sistem perbankan nasional. Bank Niaga—yang kini telah bertransformasi menjadi CIMB Niaga—menjadi simbol bagaimana Tirtamas memandang sektor keuangan sebagai tulang punggung ekspansi lintas bisnis.

Keterlibatan Tirtamas di sektor keuangan tidak berhenti pada satu bank. Grup ini tercatat memiliki kepemilikan di enam bank, termasuk Bank Pelita, Bank Credit Asia, Bank Papan Sejahtera, serta penyertaan di Bank Universal dan Bank Industri. Di luar perbankan, Tirtamas juga masuk ke sektor pembiayaan dan asuransi, mencerminkan pendekatan konglomerasi klasik: menguasai sumber pendanaan sekaligus menyalurkannya ke sektor-sektor produktif lain dalam grup.

Namun fondasi utama ekspansi Tirtamas justru berada pada sektor industri berat dan padat modal. Akuisisi PT Semen Cibinong pada akhir 1980-an menjadi salah satu langkah paling strategis. Semen Cibinong, yang telah tercatat di bursa sejak 1970-an, kemudian berkembang pesat di bawah kendali Tirtamas. Kapasitas produksi diperluas, teknologi ditingkatkan, dan struktur biaya diperbaiki melalui konversi energi dari minyak ke batubara. Ekspansi berlanjut dengan pembangunan pabrik besar di Cilacap, Jawa Tengah, yang pada masanya menjadi salah satu fasilitas produksi semen tunggal terbesar di Indonesia.

Melalui Semen Cibinong dan entitas turunannya, Hashim memperluas bisnis ke beton pracetak, logistik, dan layanan konstruksi pendukung. Integrasi vertikal ini mencerminkan pola berpikir industrialis: mengamankan rantai nilai dari hulu ke hilir, sekaligus memanfaatkan skala ekonomi untuk mempertahankan daya saing. Tirtamas tidak sekadar menjadi produsen semen, melainkan pemain bahan bangunan yang terintegrasi.

Di sektor energi dan pertambangan, Hashim juga memainkan peran penting. Melalui kelompok usaha yang kemudian dikenal sebagai Asian Mining and Energy Group, Tirtamas mengakuisisi saham mayoritas di perusahaan tambang batubara besar seperti PT Adaro Indonesia dan PT Multi Harapan Utama. Target ambisius dicanangkan: menjadikan entitas tersebut sebagai produsen batubara kelas Asia dengan kapasitas puluhan juta ton per tahun. Pada saat yang sama, Tirtamas terlibat dalam proyek Paiton I, pembangkit listrik swasta berskala besar pertama di Indonesia—sebuah proyek yang menandai era baru keterlibatan swasta dalam infrastruktur energi nasional.

Keterlibatan Hashim dalam sektor petrokimia bahkan lebih mencerminkan ambisi jangka panjang. Melalui PT Polytama Propindo, Tirtamas masuk ke bisnis polipropilena—produk petrokimia dasar dengan aplikasi luas di industri plastik. Proyek ini melibatkan mitra asing besar dari Jepang dan Inggris, dengan nilai investasi ratusan juta dolar Amerika. Langkah tersebut menunjukkan kesiapan Tirtamas untuk bermain di sektor berteknologi tinggi, dengan kebutuhan modal besar dan standar operasional internasional.

Ambisi petrokimia Tirtamas tidak berhenti di situ. Grup ini terlibat dalam perencanaan pusat olefin dan aromatik bernilai miliaran dolar, sebuah mega-proyek yang dirancang untuk memasok berbagai produk petrokimia dasar bagi industri nasional. Untuk merealisasikan rencana tersebut, Tirtamas bahkan mempertimbangkan pelepasan sebagian aset—sebuah keputusan yang mencerminkan kedisiplinan finansial dan kesadaran akan prioritas strategis.

Di luar sektor-sektor utama tersebut, Tirtamas juga membangun portofolio yang luas di bidang manufaktur listrik berteknologi tinggi. Melalui kerja sama dengan perusahaan Jepang, grup ini mendirikan fasilitas produksi switchgear berisolasi gas—produk bernilai tambah tinggi yang tidak hanya ditujukan untuk pasar domestik, tetapi juga ekspor. Keterlibatan di sektor ini memperlihatkan kecenderungan Hashim untuk menggabungkan modal domestik dengan teknologi asing, sebuah pola yang konsisten dalam seluruh perjalanan bisnisnya.

Akar dari semua ekspansi ini dapat ditelusuri ke fase awal karier Hashim. Setelah menyelesaikan pendidikan di luar negeri, ia memilih membangun bisnis sendiri alih-alih sekadar melanjutkan usaha keluarga. Perusahaan dagang yang ia dirikan pada awalnya fokus pada komoditas pertanian dan perdagangan lintas negara, membuka jalur bisnis ke Asia Selatan dan Asia Tenggara. Dari aktivitas perdagangan inilah Hashim mengembangkan jaringan internasional yang kelak menjadi aset penting dalam menarik mitra asing ke proyek-proyek besar Tirtamas.

Pada puncaknya, Tirtamas Group diperkirakan memiliki aset triliunan rupiah dan mencatatkan penjualan tahunan yang signifikan. Struktur grup yang kompleks—dengan lebih dari 50 entitas—menjadikan Hashim sebagai salah satu pengusaha Indonesia dengan pengalaman paling luas dalam mengelola konglomerasi lintas sektor. Pengalaman tersebut mencakup akuisisi besar, restrukturisasi industri, pembiayaan proyek berskala internasional, serta negosiasi dengan mitra global.

Melihat rekam jejak ini, sulit memisahkan aktivitas bisnis Hashim hari ini dari masa lalunya. Arsari Group, yang kini aktif berinvestasi di sektor sumber daya alam, energi, pangan, dan industri strategis, dapat dipahami sebagai kelanjutan—bukan kebaruan—dari perjalanan panjang tersebut. Perbedaannya terletak pada konteks zaman: regulasi yang lebih ketat, transparansi yang lebih tinggi, serta hubungan yang lebih dekat antara bisnis dan kebijakan publik.

Namun satu benang merah tetap jelas. Hashim Djojohadikusumo bukanlah pendatang baru di dunia usaha. Ia adalah produk dari era konglomerasi Indonesia yang dibentuk oleh ekspansi agresif, kolaborasi internasional, dan keberanian mengambil risiko besar. Bahwa ia pernah menjadi pengendali Bank Niaga, pemilik industri semen raksasa, pemain utama di petrokimia dan energi, serta pengelola puluhan entitas bisnis, menunjukkan kapasitasnya sebagai pengusaha dengan skala dan pengalaman yang jarang dimiliki

Memasuki era pasca-Soeharto, dinamika politik dan ekonomi Indonesia berubah secara fundamental. Model bisnis konglomerasi yang sangat bergantung pada stabilitas kekuasaan dan kedekatan dengan pusat pengambilan kebijakan perlahan kehilangan relevansinya. Dalam konteks inilah, portofolio bisnis Tirtamas Group mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan, seiring dengan berkurangnya ruang ekspansi dan meningkatnya tekanan pasar yang lebih terbuka dan kompetitif. Beberapa aset strategis dilepas, sebagian lainnya dikelola secara lebih defensif, mencerminkan fase konsolidasi ketimbang pertumbuhan agresif.

Hashim Djojohadikusumo sendiri tidak tampil sebagai figur yang berupaya mempertahankan skala konglomerasi lama dengan segala cara. Selama periode tersebut, ia memilih bersikap relatif low profile dalam ekspansi bisnis besar, lebih selektif dalam investasi, dan tidak lagi mengejar posisi dominan seperti yang pernah dicapai pada puncak kejayaan Tirtamas Group. Aktivitas bisnisnya tetap berjalan, namun tanpa ambisi ekspansif yang mencolok seperti pada dekade-dekade sebelumnya.

Baru dalam beberapa tahun terakhir, publik kembali melihat Hashim tampil lebih aktif di lanskap bisnis nasional. Melalui Arsari Group, ia memasuki sektor-sektor baru seperti energi, sumber daya alam, perkebunan, dan ekonomi hijau—bidang-bidang yang dinilai memiliki relevansi strategis jangka panjang. Pergerakan ini bukanlah kemunculan mendadak seorang pendatang baru, melainkan kembalinya seorang pelaku lama yang memahami siklus bisnis, risiko politik, dan pentingnya membangun portofolio yang lebih terdiversifikasi dan berkelanjutan.

Dalam pengertian itu, agresivitas Arsari Group hari ini dapat dibaca sebagai kelanjutan logis dari perjalanan panjang Hashim Djojohadikusumo di dunia usaha.

__________________

Share This Article