PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) bukanlah cerita tentang ekspansi agresif yang penuh sensasi, melainkan kisah klasik kewirausahaan keluarga yang dibangun dengan kesabaran, disiplin, dan kehati-hatian selama lebih dari setengah abad. Didirikan pada tahun 1970 oleh almarhum Suwito Widjaja di Medan, Sumatera Utara, perusahaan ini memulai langkahnya jauh sebelum industri kelapa sawit Indonesia menjadi raksasa global seperti sekarang. Pada masa awal itu, bisnis perkebunan masih penuh ketidakpastian, mulai dari keterbatasan infrastruktur, akses pembiayaan yang minim, hingga risiko agronomis yang tinggi.
Alih-alih mengejar pertumbuhan cepat, Suwito Widjaja memilih jalur yang relatif jarang ditempuh: membangun usaha secara bertahap, mengandalkan arus kas yang sehat, dan memperluas kebun hanya ketika fondasi operasional sudah benar-benar matang. Prinsip ini kemudian diwariskan kepada dua putranya, Suwandi Widjaja dan Riswan Widjaja, yang melanjutkan estafet kepemimpinan dengan pendekatan yang nyaris serupa. Tidak ada lonjakan ekspansi yang membabi buta, tidak pula ambisi untuk menjadi yang terbesar dalam waktu singkat. Fokusnya selalu pada keberlanjutan usaha dan kontrol risiko.
Pendekatan itu tercermin jelas dalam perjalanan panjang STA Group. Selama puluhan tahun, perusahaan ini tumbuh nyaris tanpa sorotan publik nasional. Berkantor pusat di Medan, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta, STA Group memilih bekerja dalam senyap. Namun di balik sikap low profile tersebut, fondasi bisnisnya terus diperkuat. Hingga akhir 2024, STAA telah mengelola lebih dari 49.728 hektar perkebunan kelapa sawit, terdiri dari kebun inti dan plasma, yang tersebar di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Jumlah ini dicapai bukan dalam satu dekade, melainkan melalui proses panjang selama lebih dari 50 tahun.
Yang menarik, ekspansi kebun STA Group selalu diiringi dengan pembangunan infrastruktur pengolahan. Saat banyak pemain lain bergantung pada pihak ketiga, STAA membangun sistem terintegrasi. Kini, grup ini mengelola 15 perkebunan kelapa sawit dengan 10 pabrik kelapa sawit, satu fasilitas kernel crushing, dan satu pabrik ekstraksi palm kernel expeller yang didukung pembangkit listrik biogas. Integrasi ini menjadi kunci efisiensi dan stabilitas margin, sekaligus mencerminkan filosofi lama keluarga pendiri: jangan menumbuhkan aset tanpa kesiapan operasional.
Dari Medan, sebuah kota yang tidak selalu diasosiasikan dengan konglomerasi nasional, STA Group menunjukkan bahwa kewirausahaan daerah mampu tumbuh menjadi pemain besar tanpa kehilangan karakter kehati-hatian. Hingga kini, perusahaan ini telah mencatatkan penjualan bersih di atas Rp6 triliun per tahun, angka yang menempatkannya sebagai salah satu grup perkebunan sawit menengah-besar yang paling solid di Indonesia.
Kepemimpinan Generasi Kedua
Peralihan kepemimpinan dari Suwito Widjaja kepada generasi kedua tidak mengubah DNA bisnis STA Group secara drastis. Suwandi Widjaja dan Riswan Widjaja, yang telah terlibat dalam bisnis keluarga sejak usia muda, memahami betul bahwa kekuatan utama perusahaan ini terletak pada konsistensi strategi jangka panjang. Keduanya menempuh pendidikan bisnis di Singapura pada era 1970-an, sebuah pengalaman yang memperkaya perspektif mereka namun tidak membuat mereka tergoda meniru gaya ekspansi agresif ala korporasi multinasional.
Suwandi Widjaja, yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama, memiliki rekam jejak panjang mengelola bisnis keluarga sejak 1976, mulai dari perdagangan suku cadang hingga perkebunan sawit. Ia memimpin STA Resources sebagai Direktur Utama selama hampir tiga dekade sebelum beralih ke posisi komisaris pada 2021. Sementara itu, Riswan Widjaja dikenal sebagai figur yang sangat memahami operasional perkebunan, dengan pengalaman lebih dari 40 tahun di industri kelapa sawit.
Di bawah kepemimpinan generasi kedua ini, STA Group justru semakin menegaskan pendekatan “tumbuh hati-hati”. Setiap ekspansi kebun selalu dihitung dengan cermat dari sisi kesiapan lahan, produktivitas tanaman, hingga kemampuan pendanaan internal. Hingga akhir 2024, produktivitas rata-rata tandan buah segar STAA mencapai 23,4 metrik ton per hektar per tahun, sebuah angka yang mencerminkan praktik agronomi yang disiplin dan berkelanjutan. Dengan masih banyaknya tanaman muda yang memasuki fase produktif, manajemen memperkirakan yield ini akan terus meningkat secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.
Strategi keuangan perusahaan juga mencerminkan kehati-hatian yang sama. Pada 2024, total aset STAA mencapai Rp8,08 triliun, tumbuh hampir 21% dibandingkan tahun sebelumnya. Ekuitas perusahaan meningkat menjadi Rp5,90 triliun, sementara rasio utang terhadap aset berada di level konservatif 0,27 dan rasio utang terhadap ekuitas di 0,37. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pertumbuhan STA Group tidak didorong oleh leverage berlebihan, melainkan oleh akumulasi nilai secara organik.
Kinerja laba juga mencerminkan buah dari strategi jangka panjang tersebut. Laba bersih tahun 2024 mencapai Rp1,45 triliun, melonjak hampir 86% dibandingkan 2023. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp1,28 triliun, jauh melampaui target yang ditetapkan. Bagi keluarga Widjaja, angka-angka ini bukan sekadar pencapaian tahunan, melainkan validasi atas filosofi bisnis yang menolak jalan pintas.
Dalam pengelolaan sumber daya manusia, STA Group juga menunjukkan konsistensi. Dengan lebih dari 10.000 karyawan tetap, perusahaan menempatkan pengembangan tim profesional sebagai prioritas. Budaya kerja kolaboratif, fokus pada keselamatan kerja, dan kepatuhan lingkungan menjadi bagian dari sistem yang dibangun secara bertahap, bukan sekadar slogan.
Teladan Kewirausahaan Sawit Indonesia
Di tengah sorotan terhadap industri kelapa sawit yang kerap dikaitkan dengan isu lingkungan dan tata kelola, STA Group berupaya menempatkan diri sebagai pemain yang bertanggung jawab. Perusahaan menekankan pengelolaan limbah melalui daur ulang tandan kosong dan pengolahan Palm Oil Mill Effluent sebagai pupuk organik, sekaligus memanfaatkan biogas sebagai sumber energi terbarukan. Praktik ini bukan hanya soal kepatuhan, tetapi juga efisiensi jangka panjang yang sejalan dengan prinsip kehati-hatian finansial.
Penguatan tata kelola perusahaan juga menjadi fokus penting, terutama setelah STAA melantai di bursa. Penelusuran rantai pasok, kerja sama dengan petani plasma, serta keterlibatan komunitas lokal dijadikan pilar pertumbuhan yang berimbang. Bagi keluarga Widjaja, keberlanjutan bukanlah tren sesaat, melainkan prasyarat agar bisnis dapat bertahan lintas generasi.
Ke depan, STA Group tidak berhenti berinvestasi. Pembangunan pabrik refinery di Riau dengan kapasitas 2.000 ton per hari menunjukkan bahwa kehati-hatian bukan berarti stagnasi. Proyek ini dilengkapi fasilitas penyimpanan 64.000 ton dan pelabuhan berkapasitas kapal hingga 50.000 DWT, yang ditargetkan mulai berkontribusi pada peningkatan efisiensi dan kapasitas produksi sejak 2025. Namun sekali lagi, ekspansi ini dilakukan dengan perhitungan matang, didukung neraca yang kuat dan arus kas yang sehat.
Kisah STA Group adalah contoh bahwa mengelola dan membesar bisnis yang tidak harus tergesa-gesa. Dari sebuah usaha keluarga di Medan pada 1970, perusahaan ini berkembang menjadi grup perkebunan dengan 15 lokasi kebun, omzet di atas Rp6 triliun, dan aset lebih dari Rp8 triliun. Semua itu dicapai tanpa euforia ekspansi dan tanpa kehilangan kendali.
Pendekatan keluarga Suwito Widjaja bisa menjadi pengingat bahwa membangun bisnis besar tidak selalu harus berlari. Kadang, berjalan pelan namun mantap justru membawa perusahaan lebih jauh. STA Group layak menjadi contoh bahwa kehati-hatian, disiplin, dan konsistensi strategi dapat menghasilkan pertumbuhan yang kokoh.
