CentrePark hari ini dikenal sebagai salah satu perusahaan manajemen perparkiran dengan pertumbuhan paling agresif di Indonesia. Perusahaan ini mengelola lebih dari 800 lokasi parkir yang tersebar di berbagai kota, mulai dari pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, apartemen, rumah sakit, hingga kawasan komersial lainnya. Di balik skala bisnis tersebut, berdiri sosok Charles Richard Oentomo, pendiri sekaligus President Director dan Chief Executive Officer CentrePark, yang memandang bisnis parkir bukan sekadar urusan keluar-masuk kendaraan, melainkan sebuah ekosistem layanan berbasis kepercayaan, efisiensi, dan teknologi.
Perjalanan Charles di dunia perparkiran dimulai jauh sebelum CentrePark berdiri. Ia memulai karier profesionalnya di perusahaan broker properti global Coldwell Banker, tempat ia belajar memahami dunia properti secara menyeluruh, mulai dari perspektif pemilik aset, investor, hingga pengelola. Namun titik balik kariernya terjadi ketika ia bergabung dengan SunParking, perusahaan pengelola parkir lokal yang pada masanya merupakan pemain terbesar kedua di Indonesia. Di perusahaan itulah Charles mulai terjun langsung ke dunia manajemen parkir sejak usia 22 tahun.
Di SunParking, Charles berperan sebagai owner representative yang bertanggung jawab atas pengembangan bisnis. Peran tersebut memberinya ruang luas untuk memahami seluk-beluk industri, mulai dari operasional lapangan, pengelolaan sumber daya manusia, struktur biaya, hingga dinamika hubungan dengan pemilik properti. Ia terlibat langsung dalam proses ekspansi perusahaan hingga berhasil mengelola sekitar 230 lokasi parkir. Dari pengalaman itu, Charles tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga pemahaman mendalam tentang karakter pasar Indonesia.
Ketika SunParking akhirnya dijual kepada investor Eropa, Charles sempat bergabung dengan perusahaan baru tersebut. Namun tak sampai satu tahun, ia menyadari adanya perubahan mendasar dalam pendekatan bisnis. Setelah akuisisi, positioning perusahaan bergeser menjadi terlalu premium, meninggalkan segmen pasar yang selama ini menjadi tulang punggung bisnis parkir di Indonesia. Dari sudut pandang Charles, terjadi kekosongan pasar yang justru menyimpan peluang besar.
Pengalaman tersebut membentuk salah satu kiat terpenting Charles dalam berwirausaha, yakni kemampuan membaca perubahan pasar dan berani mengambil keputusan sebelum peluang itu diambil orang lain. Ia melihat bahwa di Indonesia, kualitas layanan memang penting, tetapi aspek efisiensi biaya sama krusialnya bagi pemilik properti. Harga yang terlalu mahal, betapapun canggih layanannya, sering kali menjadi penghalang kerja sama. Dari sinilah gagasan untuk mendirikan CentrePark lahir.
Pada November 2009, Charles bersama rekan-rekannya resmi mendirikan PT Centrepark Citra Corpora. Strategi yang diterapkan sejak awal sangat jelas: menawarkan layanan dengan kualitas tinggi, namun dengan struktur biaya yang lebih rasional dan sesuai dengan realitas pasar Indonesia. CentrePark tidak ingin terjebak dalam citra eksklusif yang mahal, tetapi juga tidak mau berkompromi pada kualitas pelayanan.
Alih-alih langsung bersaing di Jakarta yang penuh pemain mapan, CentrePark memilih strategi flanking dengan memulai penetrasi dari daerah-daerah di luar ibu kota. Bengkulu, Bali, dan berbagai kota lainnya menjadi titik awal ekspansi. Keputusan ini bukan tanpa pertimbangan. Di daerah, tingkat kompetisi relatif lebih rendah dan asosiasi pemilik properti terhadap merek tertentu belum terlalu kuat. Hal ini memberi ruang bagi CentrePark untuk membangun reputasi dari nol, tanpa harus terlibat perang harga atau perang gengsi dengan pemain lama.
Strategi tersebut terbukti efektif. Secara bertahap, CentrePark mulai mendapatkan kepercayaan dari para pemilik properti. Reputasi Charles dan timnya yang telah lama berkecimpung di industri parkir menjadi modal penting dalam meyakinkan klien. Dalam bisnis jasa seperti perparkiran, kepercayaan menjadi mata uang utama. Sekali kepercayaan diperoleh, peluang untuk berkembang terbuka lebar.
Bagi Charles, membangun bisnis parkir bukan hanya soal pertumbuhan angka lokasi atau pendapatan. Ada dimensi sosial yang juga menjadi sumber kepuasan tersendiri. CentrePark saat ini menjadi bagian dari ekosistem yang menyerap sekitar 4.000 tenaga kerja. Di saat yang sama, perusahaan juga berkontribusi rutin kepada pemerintah daerah melalui pajak dan retribusi parkir. Menurut Charles, keberlanjutan bisnis tidak bisa dilepaskan dari kontribusinya terhadap lingkungan sosial dan ekonomi di sekitarnya.
Dalam perjalanannya, dukungan investor dan perbankan memegang peran krusial. Bisnis perparkiran adalah bisnis yang padat sumber daya manusia dan membutuhkan pengelolaan arus kas yang kuat. Pembiayaan dari perbankan memungkinkan CentrePark menjaga stabilitas cashflow sekaligus mendukung ekspansi. Menariknya, ketika pandemi Covid-19 melanda dan banyak perusahaan terpuruk, CentrePark justru mampu bangkit dan mencatatkan pertumbuhan signifikan pasca-pandemi.
Salah satu kunci daya saing CentrePark terletak pada konsistensinya menjaga kualitas pelayanan. Baik pemilik properti maupun pengguna parkir ditempatkan sebagai pusat dari seluruh strategi bisnis. Charles meyakini bahwa pengalaman pengguna yang baik akan menciptakan efek berantai, mulai dari loyalitas pengunjung hingga kepuasan pemilik gedung. Di sinilah teknologi memainkan peran strategis.
CentrePark sejak awal berani menginvestasikan sumber daya pada inovasi teknologi perparkiran. Charles meyakini bahwa transformasi digital dalam industri parkir adalah keniscayaan. Negara-negara seperti Korea, China, dan Jepang telah lebih dulu mengadopsi teknologi canggih dalam pengelolaan parkir. Menurutnya, Indonesia hanya tinggal menunggu waktu untuk sampai pada tahap yang sama.
Namun pendekatan CentrePark terhadap teknologi tidak bersifat menghilangkan peran manusia. Justru sebaliknya, teknologi diposisikan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas dan keterampilan sumber daya manusia. Petugas parkir tidak lagi sekadar menerima tiket atau uang tunai, melainkan diarahkan untuk memiliki keterampilan tambahan, seperti maintenance, layanan tambahan di area parkir, hingga peningkatan kualitas hospitality. Keramahan dan sentuhan manusia tetap menjadi elemen penting dalam pelayanan.
Tahap awal transformasi teknologi CentrePark dimulai dari penerapan sistem pembayaran cashless, yang kini telah menjadi standar di industri. Langkah berikutnya adalah implementasi konsep ticketless parking, di mana pengguna cukup melakukan pemindaian kartu atau metode pembayaran digital tanpa tiket fisik. Sistem ini memungkinkan proses masuk dan keluar parkir menjadi jauh lebih cepat dan efisien.
CentrePark kemudian melangkah lebih jauh dengan mengembangkan konsep Parking 4.0, yang berfokus pada pemanfaatan data secara cerdas. Melalui teknologi RFID dan aplikasi khusus, kendaraan anggota dapat masuk area parkir tanpa perlu melakukan tindakan apa pun. Sistem secara otomatis mengenali kendaraan dan pengguna, mencatat data, serta mengelola akses masuk dan keluar.
Teknologi ini juga dilengkapi dengan sistem keamanan berbasis data. Jika terjadi indikasi kendaraan keluar tanpa pemilik yang sah, sistem dapat memberikan peringatan dan melakukan pencegahan. Fitur auto approve dan auto reject menjadi bagian dari mekanisme kontrol yang meningkatkan keamanan sekaligus kepercayaan pengguna.
Lebih dari sekadar alat operasional, data yang dihasilkan sistem Parking 4.0 membuka peluang baru bagi pemilik gedung. Informasi tentang pola kunjungan, jam sibuk, dan perilaku pengguna dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program loyalitas, promosi tenant, hingga perencanaan event. Sistem ini juga memungkinkan pengelolaan arus kendaraan yang lebih baik, mengurangi kemacetan di area parkir, dan meningkatkan kenyamanan pengunjung.
CentrePark juga menghadirkan inovasi pemesanan slot parkir melalui layanan Quickbook. Dengan layanan ini, pengguna dapat memesan tempat parkir заранее sesuai kebutuhan mereka. Bagi pengelola kawasan komersial, layanan ini menjadi nilai tambah untuk menarik pengunjung dan meningkatkan pengalaman pelanggan secara keseluruhan.
Menariknya, pengembangan seluruh teknologi tersebut dilakukan oleh tim internal CentrePark. Tim ini kemudian berkembang menjadi entitas bisnis tersendiri bernama PARKEE, yang kini berfungsi sebagai profit center. PARKEE tidak hanya melayani kebutuhan CentrePark, tetapi juga menyediakan solusi perangkat lunak bagi klien eksternal yang ingin mengelola parkir secara mandiri, termasuk grup-grup besar seperti Patra Jasa.
Ke depan, Charles dan tim CentrePark tidak ingin berhenti pada pencapaian domestik. Ambisi mereka adalah membawa CentrePark masuk ke pasar regional dan bersaing di tingkat ASEAN. Bagi Charles, ekspansi regional bukan semata soal pertumbuhan bisnis, tetapi juga soal pembuktian bahwa perusahaan lokal Indonesia mampu bersaing di panggung internasional. Ia tidak ingin CentrePark hanya menjadi penonton ketika pemain asing masuk ke Indonesia.
Kiat Charles Oentomo dalam mengembangkan bisnis jasa parkir pada akhirnya berpulang pada beberapa prinsip sederhana namun konsisten dijalankan: membaca peluang pasar dengan jeli, membangun kepercayaan sebagai fondasi utama, menjaga keseimbangan antara kualitas dan efisiensi, serta berani berinvestasi pada teknologi dan sumber daya manusia. Dengan pendekatan itulah CentrePark tumbuh dari perusahaan rintisan menjadi pemain utama yang siap melangkah ke level regional, membawa standar baru dalam industri perparkiran Indonesia.