Raja Bisnis Garmen Dari Semarang

bintangbisnis

Semarang bukan hanya dikenal sebagai kota pelabuhan tua dengan sejarah dagang yang panjang. Di balik hiruk-pikuk kawasan industrinya, kota ini juga melahirkan sosok-sosok pengusaha yang mampu menembus pasar global. Salah satu nama yang paling disegani di industri garmen nasional bahkan internasional adalah Setiawan Santoso, pendiri dan pemilik PT Rodeo Prima Jaya. Kiprahnya selama puluhan tahun membuat banyak pelaku industri menjulukinya sebagai raja bisnis garmen dari Semarang.

Julukan itu bukan berlebihan. Sejak berdiri pada tahun 1978, PT Rodeo Prima Jaya telah tumbuh dari usaha rumahan dengan satu mesin jahit menjadi produsen pakaian jadi berkelas dunia, pemasok berbagai merek global ternama untuk pasar Eropa dan Amerika Serikat. Kisah Rodeo bukan sekadar cerita tentang pertumbuhan bisnis, melainkan tentang ketangguhan, keberanian membaca peluang, dan kemampuan mengelola bisnis secara terintegrasi dari hulu ke hilir.

Dari Toko Kain Kecil ke Pabrik Garmen Bertaraf Global

Bisnis garmen bukan dunia asing bagi Setiawan Santoso. Sejak kecil, ia telah akrab dengan denyut perdagangan tekstil. Orang tuanya adalah pedagang kain yang membuka toko di sekitar Pasar Peterongan, Semarang. Dari toko kecil itulah Setiawan belajar memahami bahan, selera pasar, serta dinamika jual beli tekstil.

Awalnya, Setiawan hanya meneruskan usaha toko kain warisan orang tuanya. Namun naluri dagangnya mendorong langkah lebih jauh. Seiring waktu, ia dan keluarganya mulai menjual produk garmen, bahkan mengimpor pakaian jadi dari Hong Kong dan Singapura dalam jumlah terbatas untuk memenuhi permintaan pasar lokal. Produk-produk tersebut dipasarkan tidak hanya di Semarang, tetapi juga ke Yogyakarta dan Solo.

Titik balik besar terjadi pada tahun 1978, ketika pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan yang mempersulit impor. Kebijakan ini sempat membuat banyak pedagang tertekan. Namun bagi Setiawan, larangan impor justru menjadi pemicu perubahan besar. Ia sadar bahwa jika terus bergantung pada barang impor, bisnisnya akan terhenti. Maka, ia mengambil keputusan penting: memproduksi garmen sendiri.

Dengan modal yang sangat terbatas, Setiawan memulai produksi di rumah kontrakan. Ia hanya memiliki satu mesin jahit dan satu mesin obras. Dua orang karyawan diangkat untuk membantu. Hampir semua pekerjaan ia lakukan sendiri, mulai dari pemotongan kain, penjahitan, hingga pengiriman dan penjualan kaus. Bahan baku ia peroleh dari Semarang, Bandung, dan Jakarta.

Untuk memasarkan produknya, Setiawan memilih nama Rodeo. Nama ini terinspirasi dari olahraga menaklukkan sapi liar, yang menurutnya mencerminkan jiwa muda, keberanian, dan semangat menaklukkan tantangan. Segmen anak muda menjadi sasaran utama produk-produknya.

Bisnis ini tumbuh secara organik. Jumlah karyawan meningkat dari dua menjadi empat, lalu sepuluh, dan terus bertambah. Pada tahun 1984, Rodeo berkembang dari industri rumahan menjadi pabrik yang berlokasi di Jalan Kaligawe, Semarang. Lima tahun kemudian, Setiawan kembali mengambil langkah strategis dengan mendirikan pabrik perajutan sendiri, sehingga Rodeo tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pemasok kain eksternal.

Sejak saat itu, Rodeo mampu menjalankan bisnis secara terintegrasi, mulai dari perajutan, pencelupan dan finishing kain, hingga proses sablon dan bordir. Model bisnis dari hulu ke hilir ini menjadi fondasi kekuatan Rodeo hingga hari ini.

Menaklukkan Pasar Ekspor dan Merek-Merek Dunia

Setiawan memahami satu hal penting dalam bisnis garmen: skala dan kesinambungan hanya bisa dicapai dengan masuk ke pasar ekspor. Langkah ini mulai ia realisasikan pada tahun 1987, ketika jumlah karyawannya telah mencapai sekitar 800 orang. Ekspor perdana dilakukan ke Italia dengan pesanan 2.000 lusin pakaian.

Pengalaman ekspor pertama itu tidak mudah. Setiawan mengakui bahwa timnya harus bekerja ekstra keras untuk memenuhi kuota sekaligus menjaga standar kualitas internasional. Namun justru dari proses itulah Rodeo belajar tentang disiplin kualitas, ketepatan waktu, dan konsistensi produksi—tiga hal yang menjadi kunci dalam industri garmen global.

Seiring waktu, kepercayaan dari pasar internasional semakin menguat. Rodeo dipercaya memproduksi pakaian untuk berbagai merek ternama dunia. Di antaranya Lotto, Fila, Esprit, Guess, Warner Bros, hingga merek raksasa seperti Nike dan Jordan untuk pasar Amerika Serikat. Untuk pasar Eropa, Rodeo memproduksi bagi Kiabi Men, Kiabi Kids, Kiabi Ladies, dan Boomerang.

Produk utama Rodeo adalah pakaian rajut, meliputi pakaian wanita, pakaian olahraga, celana pendek, pakaian kasual, polo shirt, T-shirt, celana, jaket hoody, sweat shirt, jogging suit, dan berbagai produk apparel lainnya. Semua diproduksi dengan standar kualitas tinggi untuk memenuhi tuntutan pasar Eropa dan Amerika Serikat.

Keunggulan Rodeo tidak hanya terletak pada kemampuan produksi, tetapi juga pada kekuatan rantai pasokan. Perusahaan ini membangun jaringan sumber bahan baku yang kompetitif dari berbagai negara, termasuk Cina, India, Pakistan, Hong Kong, Korea Selatan, Malaysia, dan Indonesia. Jenis kain yang digunakan sangat beragam, mulai dari brushed back tricot, poly dazzle, poly pro mesh, CVC fleece, CVC French terry, viscose atau rayon spandex, 100 persen cotton spandex, micro polar fleece, hingga CVC single jersey.

Lokasi Semarang yang dekat dengan pelabuhan memberi keunggulan logistik tersendiri. Kedekatan ini memungkinkan Rodeo memastikan pengiriman tepat waktu ke pelanggan internasional, sebuah faktor krusial dalam industri fast-moving apparel.

Ketika krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1998, banyak perusahaan manufaktur kolaps. Namun Rodeo justru mampu bertahan, bahkan mencatat kinerja yang relatif baik. Basis ekspor yang kuat membuat pendapatan perusahaan didominasi dolar Amerika Serikat, sehingga secara nilai justru meningkat ketika rupiah terdepresiasi.

Setiawan juga tidak hanya bergantung pada pasar ekspor. Rodeo berhasil mengembangkan merek sendiri di pasar domestik, salah satunya Point One. Merek ini memiliki posisi dan tingkat awareness yang kuat, serta tersedia luas di berbagai toserba modern di Indonesia.

Manajemen, Produktivitas, dan Pelajaran dari Raja Garmen Semarang

Memasuki fase kematangan bisnis, fokus Setiawan tidak lagi sekadar ekspansi, melainkan pembenahan internal. Ia melakukan rasionalisasi, efisiensi, dan peningkatan produktivitas secara konsisten. Saat ini, kapasitas produksi perajutan Rodeo mencapai sekitar 250 ton per bulan. Sekitar 40 persen digunakan untuk memenuhi kebutuhan internal industri garmen Rodeo, sementara 60 persen lainnya dijual ke pihak luar.

Setiap tahun, PT Rodeo Prima Jaya memproduksi sekitar 3 juta lembar produk garmen, dengan dukungan sekitar 2.500 karyawan. Selain fasilitas utama di Semarang, Setiawan juga memiliki perusahaan garmen lain di Jakarta dengan nama PT Rodeo Kerta Kencana.

Dari sisi manajemen, kisah Rodeo memberi banyak pelajaran. Pertama, keberanian mengambil keputusan strategis di saat krisis sering kali menjadi pembeda antara stagnasi dan pertumbuhan. Kebijakan larangan impor yang awalnya menjadi ancaman justru melahirkan produsen garmen besar dari Semarang.

Kedua, integrasi hulu-hilir memberi daya tahan bisnis jangka panjang. Dengan menguasai rantai produksi, Rodeo mampu menjaga kualitas, efisiensi biaya, dan ketepatan waktu pengiriman.

Ketiga, fokus pada pasar ekspor membuka peluang skala besar, tetapi harus diimbangi dengan disiplin kualitas dan manajemen yang kuat. Kepercayaan dari merek-merek global tidak datang secara instan, melainkan dibangun dari konsistensi bertahun-tahun.

Setiawan sendiri mengakui bahwa tantangan terbesar industri garmen Indonesia adalah membangun merek sendiri untuk pasar global, khususnya di kategori mass product. Biaya promosi yang sangat besar dan kebutuhan memahami selera pasar lokal di negara tujuan menjadi hambatan utama. Meski demikian, keberhasilan Rodeo menunjukkan bahwa pelaku industri nasional mampu menjadi pemain penting dalam rantai pasok global.

Kisah Raja Bisnis Garmen dari Semarang ini membuktikan bahwa pengusaha daerah, dengan kerja keras, visi, dan manajemen yang tepat, mampu berdiri sejajar dengan pemain internasional. Dari satu mesin jahit di rumah kontrakan hingga pabrik modern berorientasi ekspor, Rodeo adalah simbol bahwa bisnis besar sering kali lahir dari keputusan kecil yang diambil dengan keberanian besar.

 

 

Share This Article