Setiap orang memiliki garis waktu hidupnya sendiri. Ada yang menemukan panggilan hidupnya di usia sangat muda, ada pula yang baru berani melangkah ketika rambut mulai memutih. Dunia usaha memberi ruang bagi semua itu. Tak ada aturan baku kapan seseorang harus memulai. Namun jika berbicara tentang peluang, energi, dan daya tahan menghadapi kegagalan, ada satu fase hidup yang menyimpan keunggulan tersendiri: masa muda.
Bukan berarti mereka yang memulai usaha di atas usia 45 tahun tidak bisa sukses. Banyak contoh justru menunjukkan sebaliknya. Namun jika kita menimbang hidup secara jujur—tentang risiko, tanggung jawab, dan kemampuan untuk bangkit—maka memulai usaha saat usia masih muda sering kali menjadi pilihan yang lebih rasional, bukan sekadar idealis.
Energi Muda dan Keberanian Menghadapi Ketidakpastian
Merintis usaha bukan pekerjaan yang ramah kenyamanan. Ia menuntut tenaga, fokus, dan ketekunan yang sering kali melampaui jam kerja normal. Di fase awal, seorang perintis usaha harus siap menjadi segalanya: pemasar, pengelola keuangan, pencari peluang, bahkan penyemangat bagi dirinya sendiri. Semua itu membutuhkan energi besar—fisik dan mental.
Di usia muda, energi itu biasanya masih melimpah. Tubuh belum terlalu banyak menuntut kompromi. Pikiran masih cukup lentur untuk menerima tekanan dan perubahan arah. Ketika harus berpindah kota demi menjajaki pasar baru, menghabiskan hari-hari panjang di perjalanan, atau bekerja tanpa akhir pekan, semua itu masih terasa mungkin dilakukan.
Risiko juga terasa berbeda. Di usia muda, beban hidup umumnya belum terlalu berat. Tanggung jawab keluarga belum sepenuhnya menumpuk. Anak-anak belum memasuki fase pendidikan yang mahal. Modal keuangan—sekecil apa pun—bisa lebih fokus diarahkan ke pengembangan usaha, bukan terbagi untuk berbagai kebutuhan hidup yang semakin kompleks.
Yang sering kali luput disadari adalah bahwa kegagalan di usia muda memiliki makna yang berbeda. Gagal bukan akhir segalanya, melainkan proses pembelajaran. Jika sebuah usaha tidak berjalan sesuai rencana, masih ada waktu untuk memperbaiki arah, mencoba lagi, atau bahkan memulai dari nol di bidang lain. Luka akibat kegagalan belum terlalu dalam, dan masa depan masih terasa panjang.
Di sinilah usia muda memberi satu keuntungan besar: ruang untuk mencoba tanpa rasa takut yang berlebihan. Ketidakpastian tidak langsung terasa sebagai ancaman hidup, melainkan sebagai bagian dari perjalanan.
Fleksibilitas Hidup yang Menjadi Modal Tak Tertulis
Salah satu modal terbesar anak muda bukanlah uang, melainkan fleksibilitas hidup. Di usia ini, keputusan-keputusan besar bisa diambil dengan relatif cepat. Pindah kota demi peluang usaha, mengubah model bisnis secara drastis, atau hidup sederhana demi menekan biaya bukanlah hal yang terlalu memberatkan.
Bagi mereka yang masih bujang, fleksibilitas ini terasa semakin nyata. Tidak ada banyak pertimbangan domestik yang mengikat. Bahkan dalam kondisi ekstrem—harus menginap di tempat seadanya atau melakukan perjalanan panjang tanpa kepastian hasil—semua itu masih bisa dijalani dengan semangat petualangan. Pada fase perintisan, kenyamanan memang sering kali harus dikorbankan.
Fleksibilitas ini juga berlaku dalam hal pilihan hidup. Jika sebuah usaha gagal, anak muda masih memiliki banyak pintu lain untuk dimasuki. Dunia profesional masih terbuka. Perusahaan-perusahaan umumnya masih mencari sumber daya manusia yang energik dan adaptif. Bahkan peluang untuk kembali ke dunia akademik atau profesi lama masih sangat mungkin dilakukan melalui jaringan pertemanan dan relasi yang ada.
Yang terpenting, usia muda memberi kebebasan untuk mencoba lebih dari satu kali. Gagal di satu usaha bukan berarti harus berhenti bermimpi. Masih ada ruang untuk mencoba usaha lain, dengan bekal pengalaman yang lebih matang. Setiap kegagalan menjadi pelajaran, bukan cap permanen.
Banyak orang yang menunda memulai usaha hingga usia lebih matang sering kali dihadapkan pada dilema besar: antara mempertaruhkan stabilitas hidup yang sudah dibangun atau bertahan di zona aman. Di usia muda, dilema ini belum terlalu menekan. Pilihan masih terasa lebih cair, dan keberanian untuk mengambil risiko masih lebih mudah dipupuk.
Belajar dari Pak Nana: Memulai di Waktu yang Tepat
Pak Nana, relasi saya pengusaha sukses yang punya ribuan karyawan asal Jawa Timur, juga bukan berasal dari keluarga berada. Ia tidak mewarisi usaha besar, tidak pula memiliki modal berlimpah. Ketika dulu memutuskan merintis usaha di usia 31 tahun, yang ia miliki hanyalah perhitungan hidup yang jujur dan keberanian untuk mencoba. Ia memahami betul bahwa usaha yang akan ia bangun bisa saja gagal.
Namun justru di situlah letak kekuatan keputusannya. Ia memulai ketika anak-anaknya belum membutuhkan biaya yang rumit. Tekanan finansial belum terlalu besar. Jika usaha itu tidak berjalan sesuai harapan, ia masih memiliki ruang untuk mencari alternatif lain—kembali ke dunia profesional atau mencoba bidang usaha yang berbeda.
Pada masa-masa awal, ia mencurahkan hampir seluruh energi dan perhatiannya pada perintisan usaha. Ia membangun jaringan dari nol, menjajaki pasar dengan sabar, dan melewati fase-fase sulit yang sering kali membuat banyak orang menyerah di tengah jalan. Tidak ada jalan pintas. Yang ada hanyalah ketekunan dan kesediaan untuk terus belajar.
Hari ini, usaha yang ia rintis telah berkembang pesat dan menyerap ribuan tenaga kerja. Namun keberhasilan itu bukan datang secara tiba-tiba. Ia adalah hasil dari keputusan yang diambil pada waktu yang tepat—ketika risiko masih bisa ditanggung dan kegagalan masih bisa diperbaiki.
Kisah Pak Nana memberi satu pelajaran penting: memulai usaha di usia muda bukan soal keberanian semata, tetapi soal strategi hidup. Ia memberi ruang untuk jatuh tanpa kehilangan segalanya, untuk gagal tanpa kehilangan masa depan, dan untuk bangkit dengan bekal pengalaman yang berharga.
Pada akhirnya, tidak ada usia ideal yang mutlak untuk memulai usaha. Setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Namun jika kita berbicara tentang energi, fleksibilitas, dan ruang untuk belajar dari kesalahan, masa muda menawarkan kombinasi yang sulit ditandingi.
Memulai usaha saat masih muda bukan jaminan sukses. Tetapi ia adalah investasi waktu—waktu untuk mengenal diri sendiri, memahami dunia usaha, dan membangun ketangguhan yang kelak akan sangat berguna, apa pun jalan hidup yang dipilih.
Bacaan Lain:
- Mengapa Perusahaan Keluarga Sebaiknya Go Public ? Ini Dia 10 Manfaatnya!
- Kiat Sukses Divestasi Saham Perusahaan Ke Investor
- Strategi Kunci Penentu Keberhasilan Perusahaan Saat IPO



