Bandung — Mitsubishi Heavy Industries, Ltd. (MHI) memperpanjang kemitraan riset strategisnya dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam pengembangan teknologi pembangkit listrik berbasis bahan bakar amonia, langkah yang menegaskan komitmen jangka panjang raksasa industri Jepang tersebut terhadap agenda dekarbonisasi Indonesia.
Perjanjian riset terbaru ini ditandatangani di Bandung pada 21 Januari 2026 dan menjadi kelanjutan dari kolaborasi yang telah terjalin sejak 2020. Fokus utama kerja sama ini adalah pendalaman riset pembakaran amonia untuk aplikasi turbin gas, termasuk aspek keselamatan, efisiensi, serta kesiapan teknis agar dapat diterapkan secara komersial dalam sistem pembangkitan listrik.
Amonia semakin dipandang sebagai salah satu bahan bakar bebas karbon paling menjanjikan, terutama bagi negara berkembang yang masih bergantung pada pembangkit berbasis fosil namun membutuhkan solusi transisi yang realistis dan skalabel.
Amonia Dinilai Kunci Dekarbonisasi Sistem Kelistrikan
Dalam pernyataan resminya, Senior Vice President GTCC Business Division MHI, Satoshi Hada, menegaskan bahwa riset dan pengembangan merupakan fondasi utama strategi energi bersih grup tersebut. Ia menyebut kolaborasi dengan ITB sebagai bagian penting dalam membangun pemahaman teknis yang dibutuhkan untuk membawa teknologi amonia dari laboratorium menuju aplikasi nyata.
Menurut Hada, meskipun amonia memiliki potensi besar sebagai bahan bakar bebas karbon, karakteristik uniknya menuntut pendekatan riset yang mendalam, khususnya dalam konteks pembakaran di turbin gas berskala besar. Melalui penguatan kolaborasi dengan institusi akademik terkemuka seperti ITB, MHI dan Mitsubishi Power berupaya memastikan teknologi ini dapat diterapkan secara aman, efisien, dan berkelanjutan.
Langkah ini sejalan dengan meningkatnya minat global terhadap amonia sebagai carrier energi, terutama di sektor pembangkit listrik dan industri berat yang sulit dialiri listrik dari energi terbarukan secara langsung.
Peran Akademisi dalam Mendorong Teknologi Energi Bersih
Dari pihak ITB, Prof. Dr. Ir. Ari Darmawan Pasek menilai kerja sama dengan MHI mencerminkan pentingnya sinergi antara riset akademik dan keahlian industri. Ia menyebut transisi menuju energi bersih sebagai kebutuhan mendesak dalam menghadapi perubahan iklim, terutama bagi negara dengan pertumbuhan konsumsi energi yang tinggi seperti Indonesia.
Kolaborasi ini diharapkan menghasilkan wawasan teknis yang dapat mempercepat adopsi amonia dalam pembangkitan listrik nasional, sekaligus memperkuat kapasitas riset dalam negeri di bidang teknologi energi rendah karbon.
ITB sendiri selama beberapa tahun terakhir aktif terlibat dalam riset energi baru dan terbarukan, termasuk hidrogen, biomassa, dan teknologi pembakaran bersih. Kerja sama dengan MHI membuka akses pada pengalaman industri global dan teknologi mutakhir yang sulit diperoleh melalui riset akademik semata.
Jejak Panjang Kemitraan dan Ambisi Emisi Nol Bersih 2060
MHI dan ITB pertama kali menandatangani nota kesepahaman pada 2020 untuk riset energi bersih generasi mendatang, termasuk analisis big data pembangkit listrik. Kemitraan ini diperpanjang pada 2022 dan terus berkembang dengan fokus yang semakin tajam pada teknologi pembangkit berbahan bakar amonia.
Perjanjian terbaru ini menandai fase lanjutan dari kerja sama bertahap yang dirancang untuk menjawab tantangan teknis dan operasional dalam implementasi energi bersih di Indonesia.
Melalui merek solusi dayanya, Mitsubishi Power, MHI menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar strategis dalam pengembangan teknologi pembangkit rendah karbon. Komitmen ini sejalan dengan target nasional Indonesia untuk mencapai emisi nol bersih pada 2060, di tengah kebutuhan menjaga keandalan pasokan listrik untuk pertumbuhan ekonomi.
Bagi MHI, kolaborasi dengan institusi lokal seperti ITB juga menjadi bagian dari strategi global untuk mengembangkan solusi energi yang dapat disesuaikan dengan karakteristik pasar negara berkembang, baik dari sisi infrastruktur, sumber daya, maupun kebutuhan sistem kelistrikan.
Dengan diperpanjangnya riset bersama ini, Jepang dan Indonesia kembali menegaskan posisi mereka dalam peta global transisi energi, khususnya dalam pengembangan amonia sebagai pilar baru pembangkitan listrik bersih di masa depan.
___________
